QS 012 · Yusuf 12:1-111 · Makkiyah · 14 menit
Yusuf: Cerita Terbaik dan Dari Mana Asalnya
Satu-satunya surat yang isinya satu cerita utuh dari awal sampai selesai, dengan alur, tokoh, tikungan, dan penutup. Mimpi, sumur, pasar budak, rumah pembesar, penjara, gudang gandum, lalu keluarga yang bertemu lagi. Ceritanya bagus sekali, dan justru karena bagus, ada dua hal yang biasanya lewat begitu saja: dari mana asalnya, dan apa yang dikerjakan tokoh utamanya waktu sudah berkuasa.
Cerita yang sudah punya umur
Kerangka besarnya sudah ada jauh sebelum menyebutnya sebaik-baik cerita. Kitab Kejadian pasal 37 sampai 50 sudah memuat anak kesayangan, mimpi, saudara yang cemburu, sumur, penjualan ke Mesir, istri pejabat yang menuduh, penjara, tafsir mimpi raja, tujuh tahun subur dan tujuh tahun paceklik, dan pertemuan kembali dengan bapaknya.
Yang berbeda ada di rinciannya, dan rincian itu punya jejaknya sendiri. Adegan perempuan-perempuan kota yang diundang, diberi pisau dan buah, lalu mengiris tangan sendiri karena terpukau melihat Yusuf, tidak ada di Kejadian.
Adegan itu ada di tafsir Yahudi yang beredar berabad-abad sebelumnya. Bagaimana bahan itu sampai ke Mekah, dan apa artinya buat klaim bahwa ceritanya datang langsung dari langit, dibongkar tersendiri di Dari Mana Datangnya Pisau Itu?.
Anak yang dijual dengan beberapa dirham
menyebut harganya: beberapa dirham saja, dan mereka memang tidak tertarik padanya. Seorang anak dijual di pasar, dibeli pembesar Mesir, lalu dibesarkan di rumahnya.
Sepanjang seratus sebelas ayat, tidak ada satu kalimat pun yang menyatakan bahwa memperjualbelikan manusia itu salah. Perbudakan lewat sebagai keadaan biasa, sama biasanya dengan cuaca.
Untuk cerita yang lahir di dunia kuno, diamnya wajar. Semua kekuasaan besar waktu itu memakai budak, dan Kejadian juga tidak mengecamnya. Yang tidak wajar cuma kalau cerita yang sama diajukan sebagai pedoman moral untuk segala zaman, sementara satu-satunya institusi paling keji di dalamnya justru dibiarkan lewat tanpa komentar.
Perempuan yang selalu jadi sebab
menyusun peristiwa yang sebenarnya sudah punya nama sekarang: seorang majikan perempuan memaksa pelayan laki-laki di rumahnya sendiri, dan waktu pelayan itu lari, dia dituduh.
Kesimpulan yang ditarik surat ini bukan soal penyalahgunaan kuasa. menutup adegannya dengan kalimat suaminya: sesungguhnya ini termasuk tipu daya kalian, dan tipu daya kalian memang besar. Yang ditunjuk perempuan sebagai golongan, bukan majikan sebagai pemegang kuasa.
Yusuf sendiri lalu dipenjara meski jelas tidak bersalah, dan tidak ada yang mempersoalkan itu. Sistemnya memang timpang, tapi ketimpangan itu bukan yang disorot cerita ini. Yang disorot ketahanan Yusuf.
Kalimat di sering dibaca sebagai puncak kesalehannya: penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka. Dibaca dari posisi korbannya, kalimat itu juga keterangan tentang pilihan yang tersedia buat seorang budak di rumah majikannya, yaitu tidak ada.
Piala di dalam karung
Bagian yang paling jarang dibicarakan datang sesudah Yusuf berkuasa. menceritakan piala raja diletakkan diam-diam ke dalam karung Bunyamin, lalu rombongan saudaranya dihentikan dan dituduh mencuri.
Tuduhan itu palsu, dan yang menyusunnya Yusuf sendiri, dengan memakai wewenangnya sebagai pejabat negara di tengah musim paceklik terhadap orang-orang yang sedang datang meminta makanan.
menyebut itu sebagai tipu daya yang Kami ajarkan kepada Yusuf. Jadi rekayasanya tidak disembunyikan, malah dinyatakan berasal dari atas. Buat jalannya cerita ini masuk akal, karena tanpa itu Bunyamin tidak akan tertahan dan pertemuan keluarganya tidak terjadi. Buat pembacaan moral, sulit menerangkan kenapa cara yang di ayat lain dikecam keras jadi boleh waktu yang memakainya orang yang tepat.
Maaf yang datang tanpa perhitungan
menutup perkaranya dengan cepat: tidak ada cercaan terhadap kalian hari ini, semoga Allah mengampuni kalian.
Sebagai penutup cerita, kalimat itu lega dan hangat. Sebagai penyelesaian perkara, ada yang hilang. Orang yang membuang adiknya ke sumur, menjualnya, lalu berbohong kepada bapaknya selama puluhan tahun, tidak diminta mengganti apa pun kepada siapa pun.
Dan memberi sebab yang memindahkan tanggung jawabnya lagi: setelah setan merusak hubungan antara aku dan saudara-saudaraku. Yang dibuang ke sumur itu anak sungguhan, oleh kakak-kakak sungguhan, karena iri yang sungguhan. Menyebut setan sebagai sebabnya membuat semua orang pulang tanpa memikul apa-apa.
Sastra yang tidak minta diperlakukan sebagai hukum
Sebagai cerita, Yusuf berdiri sendiri tanpa perlu dibela. Tokohnya berubah sepanjang cerita, bapaknya buta karena menangis, dan kesalahan orang-orangnya masuk akal semua. Sedikit sekali bagian Al-Qur'an yang sebagus ini bentuknya, dan di Nusantara bentuk itu sudah lama dipakai sendiri, dari Hikayat Yusuf sampai syair yang dilagukan.
Beban baru muncul dari sebutan sebaik-baik cerita. Sebutan itu menarik seluruh isinya ke wilayah teladan, dan yang tersaring ke pelajaran agama di sekolah tinggal potongan yang cocok: Yusuf menolak ajakan istri majikannya, lalu Yusuf memaafkan saudaranya. Pasar budaknya tidak diceritakan, dan piala di karung Bunyamin hampir tidak pernah sampai ke anak-anak. Cerita yang bagus tidak harus jadi contoh, dan Yusuf lebih kuat dibaca sebagai kisah orang-orang yang retak daripada sebagai daftar perbuatan yang patut ditiru.
Dukung Qurai
Dukung kerja sunyi di balik setiap tulisan.
Di balik tiap tulisan ada proses membaca, membandingkan, dan merapikan jejak. Setiap dukungan ikut menjaga proses itu tetap berjalan.