← Bedah Surat

QS 076  ·  Al-Insan 76:1-31  ·  Madaniyah  ·  10 menit

Al-Insan: Balasan untuk Perbuatan yang Menolak Balasan

Ada satu perbuatan di surat ini yang pelakunya menyatakan sendiri tidak mengharap balasan dan tidak mengharap ucapan terima kasih. Mereka memberi makan orang miskin, anak yatim, dan tawanan. Dua puluh ayat sesudahnya berisi rincian balasan yang mereka terima, lengkap sampai ke bahan pakaian dan isi gelasnya.

Orang miskin, anak yatim, dan tawanan

memuat salah satu bagian yang paling bersih di seluruh Al-Qur'an: dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan, sesungguhnya kami memberi makan kepada kalian hanyalah untuk mengharapkan wajah Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kalian dan tidak pula ucapan terima kasih.

Tiga golongan disebut, dan yang ketiga yang membuat bagian ini tidak biasa. Orang miskin dan anak yatim ada di daftar mana pun. Tawanan tidak. Yang dimaksud orang yang ditahan pihak yang memberi makan, yaitu lawan yang sudah kalah.

Yang ditambahkan di kalimat berikutnya menaikkan lagi ukurannya. Makanan yang diberikan bukan kelebihan, melainkan yang mereka sukai sendiri, dan pemberiannya dinyatakan tanpa mengharap balasan maupun ucapan terima kasih.

Di sini bagian ini punya tempat yang tetap. Ayat 8 dibacakan di acara santunan anak yatim, di buka puasa bersama, dan di pengumpulan dana panti. Kata ketiganya nyaris tak pernah dibacakan, sebab tawanan bukan golongan yang ada dalam daftar penerima santunan di sini, dan memberi makan lawan yang sudah ditahan bukan hal yang biasa dijadikan bahan ceramah.

Balasan untuk perbuatan yang menolak balasan

langsung menyambungnya: maka Allah memelihara mereka dari kesusahan hari itu, dan memberikan kepada mereka kejernihan wajah dan kegembiraan hati, dan Dia memberi balasan kepada mereka karena kesabaran mereka dengan surga dan pakaian sutra.

Dari ayat 12 sampai 22, isinya rincian. Bersandar di atas dipan, tidak melihat matahari terik dan tidak pula dingin yang menggigit, naungan yang dekat, buah yang mudah dipetik, bejana perak dan piala kristal, minuman bercampur jahe, mata air bernama Salsabil, pakaian sutra halus dan sutra tebal berwarna hijau, gelang perak, dan minuman yang bersih.

Rincian sebanyak itu untuk perbuatan yang pelakunya baru saja dikutip menyatakan tidak menghendaki balasan dan tidak pula ucapan terima kasih.

Ketegangannya nyata dan tidak bisa dilepas dengan mengatakan bahwa mereka tidak meminta lalu diberi. Yang membaca surat ini bukan mereka. Yang membaca orang yang belum berbuat apa-apa, dan orang itu membaca kedua bagiannya sekaligus: pernyataan tidak mengharap balasan, dan daftar balasannya.

Yang tersisa buat pembaca semacam itu tawaran yang bentuknya berputar. Untuk mendapatkan yang dirinci di ayat 12 sampai 22, dia harus memberi tanpa mengharapkan apa yang dirinci di ayat 12 sampai 22. Dan begitu syarat itu disadari, syaratnya jadi lebih sulit dipenuhi, bukan lebih mudah.

Anak-anak muda yang dikekalkan

menyebut siapa yang melayani: dan mereka dikelilingi oleh anak-anak muda yang tetap muda, apabila engkau melihat mereka, engkau akan mengira mereka mutiara yang bertaburan.

Kalimat yang hampir sama muncul di , dan di dua tempat itu penafsir sepakat menyebutkan tugas mereka melayani.

Yang tidak disebutkan di ayat mana pun apa lagi selain itu, dan yang mengisi kekosongan itu selalu pembacanya. Yang bisa dikatakan dari naskahnya sendiri satu hal: seluruh gambaran surga di bagian ini disusun dari sudut pandang satu jenis penikmat, dan orang yang tidak berada di sudut itu tidak diberi bagian yang setara di mana pun.

Masa waktu manusia belum disebut

membuka dengan kalimat yang bunyinya lebih dekat ke puisi daripada ke hukum: bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang dia ketika itu belum berupa sesuatu yang dapat disebut.

Nama lain surat ini Ad-Dahr, yaitu masa, dan diambil dari kata itu. Yang digambarkan keadaan sebelum seseorang ada, yaitu keadaan waktu namanya belum ada untuk disebut siapa pun.

Kalimat semacam ini jarang ada di bagian lain, sebab isinya bukan perintah, bukan ancaman, dan bukan janji. Yang dikerjakannya menaruh pembacanya di titik sebelum dirinya sendiri ada, dan dari titik itu segala hal yang sesudahnya terbaca sebagai tambahan, bukan sebagai hak.

Kehendak yang bergantung pada kehendak

menyatakan: sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan, ada yang bersyukur dan ada yang kafir. Kalimat itu menempatkan pilihan pada manusia.

menutup dengan kalimat yang menariknya kembali: dan kalian tidak mampu menghendaki kecuali bila dikehendaki Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

Dua ayat itu berdiri di satu surat yang sama dan berjarak dua puluh tujuh ayat. Yang pertama menyerahkan pilihan, yang terakhir menyerahkannya kembali.

Dari susunan semacam ini lahir perdebatan tentang kadar yang tidak selesai sejak abad kedua Hijriah, dan sisa perdebatan itu masih terdengar di sini dalam bentuk yang lebih sederhana. Orang yang gagal diingatkan bahwa semuanya sudah ditakar, dan orang yang malas diingatkan bahwa manusia wajib berikhtiar. Dua nasihat itu dipakai bergantian menurut keadaan orang yang dinasihati, dan pergantian itu jarang dianggap sebagai persoalan.

Bagikan artikel

Bantu tulisan ini menemukan pembaca yang tepat.

Dukung Qurai

Dukung kerja sunyi di balik setiap tulisan.

Di balik tiap tulisan ada proses membaca, membandingkan, dan merapikan jejak. Setiap dukungan ikut menjaga proses itu tetap berjalan.

Dukung via Saweria