← Bedah Surat

QS 076  ·  Al-Insan 76:1-31  ·  Madaniyah  ·  10 menit

Al-Insan: Eksperimen Moral Bermasalah, Surga Arab, dan Kehendak yang Dicabut

Al-Insan membuka dengan pertanyaan retoris yang seolah merendah, bukankah pernah ada masa ketika manusia belum disebutkan?, lalu segera membangun sistemnya: manusia diciptakan untuk diuji, diberi jalan yang lurus, lalu dikotomikan menjadi yang bersyukur dan yang kafir. Yang kafir mendapat rantai dan neraka. Yang beriman mendapat kafur, jahe, sutra, piala kristal perak, dan pemuda-pemuda abadi yang berkeliling melayani. Surat ini adalah kontrak surgawi yang sangat spesifik tentang apa yang ditawarkan dan apa harganya.

Peta Masalah

Surat ini memuat eksperimen moral bermasalah (manusia diciptakan untuk diuji dengan konsekuensi kekal), moralitas berbasis ketakutan bukan prinsip (memberi kepada miskin karena takut hari azab bukan karena nilai kemanusiaan), gambaran surga materialistik yang terikat pada selera Arab abad ketujuh, konotasi bermasalah dari pemuda-pemuda abadi yang melayani tamu surga, kontradiksi kehendak bebas dan determinisme ilahi dalam dua ayat berturutan, dan arbitrariness Allah yang memasukkan siapapun yang dikehendaki-Nya ke surga.

Eksperimen dengan konsekuensi tidak proporsional

menyatakan bahwa Allah menciptakan manusia dari setetes mani untuk mengujinya, kemudian memberinya pendengaran dan penglihatan sebagai alat ujian itu. Ini adalah premis teologis yang menimbulkan pertanyaan etis yang tidak pernah dijawab teks.

Menciptakan makhluk yang sadar, dengan kapasitas untuk menderita dan merasakan, khusus untuk diuji dengan konsekuensi kekal adalah eksperimen yang secara etis bermasalah. Jika ujian itu gagal, hasilnya adalah siksaan tanpa batas waktu. Tidak ada sistem etika modern yang bisa membenarkan membuat seseorang ada hanya untuk mengujinya dengan taruhan seperti ini, apalagi ketika hasil ujian, menurut surat yang sama, juga ditentukan oleh kehendak Allah (ayat 30).

Tradisi teologi merespons bahwa ujian ini adil karena Allah memberi petunjuk. Tapi memberi petunjuk tidak sama dengan menjamin pemahaman yang setara bagi semua orang. Orang-orang yang lahir dalam konteks yang berbeda, dengan akses yang berbeda ke informasi, tidak mendapat ujian yang setara, dan surat ini tidak mengakui variabel itu.

Memberi karena takut, bukan karena prinsip

menggambarkan orang-orang baik yang memberi makanan kepada orang miskin, yatim, dan tawanan sambil berkata: kami memberi hanya karena mengharapkan keridaan Allah, bukan balasan atau terima kasih, karena kami takut akan azab Tuhan pada hari yang keras.

Ada kontradiksi yang tersembunyi di sini. Teks mengklaim bahwa mereka memberi tanpa mengharap balasan, tapi motivasi eksplisit yang diberikan adalah ketakutan akan azab dan harapan keridaan Allah. Kedua motivasi itu adalah bentuk kalkulasi transaksional: memberi untuk menghindari hukuman dan mendapat imbalan.

Filsafat moral membedakan antara tindakan yang baik karena nilainya sendiri dan tindakan yang baik karena menghasilkan keuntungan bagi pelakunya. Sistem yang mendorong kebaikan melalui ancaman hukuman dan janji hadiah menciptakan moralitas yang bergantung pada pengawas eksternal, bukan moralitas yang mandiri secara etis. Kalau pengawasnya tidak ada, atau kalkulasinya berubah, tindakannya juga berubah.

Surga Arab abad ketujuh

melukis surga secara sangat spesifik: dipan bersandar, tidak ada panas matahari, naungan dekat, buah mudah dipetik, bejana perak, piala kristal, minuman bercampur kafur dan jahe, mata air Salsabil, sutra halus hijau, gelang perak, pemuda-pemuda yang tetap muda berkeliling melayani seperti mutiara bertaburan.

Gambaran ini sangat konkret dan sangat terikat pada selera material tertentu. Kafur dan jahe adalah komoditas mewah di Arabia abad ketujuh. Sutra dan perak adalah simbol status yang spesifik secara budaya. Naungan dari panas matahari adalah kenikmatan yang sangat relevan di iklim gurun. Ini bukan gambaran universal tentang kebaikan tertinggi, ini adalah proyeksi kenikmatan duniawi yang dilebih-lebihkan dari konteks historis spesifik.

Yang lebih bermasalah adalah 'pemuda-pemuda yang tetap muda' (wildanun mukhalladun) yang berkeliling melayani dan digambarkan seperti mutiara bertaburan. Gambaran pelayan abadi yang ditangkap dalam satu tahap usia untuk melayani selama-lamanya mengandung persoalan yang tidak bisa diselesaikan dengan estetika puitis, ia menyiratkan hierarki pelayanan yang permanen dalam apa yang seharusnya menjadi tempat kenikmatan sempurna.

Kehendak bebas yang dicabut dalam satu ayat

menyatakan bahwa barangsiapa menghendaki, dia mengambil jalan menuju Tuhannya. Satu ayat kemudian, ayat 30 menyatakan: tetapi kamu tidak mampu menempuh jalan itu kecuali apabila dikehendaki Allah.

Ini bukan kontradiksi yang tersembunyi, ia eksplisit dan berurutan. Ayat 29 mengandaikan kehendak bebas manusia. Ayat 30 mencabutnya sepenuhnya dan menetapkan bahwa kemampuan untuk menghendaki pun bergantung pada kehendak Allah.

Ayat 31 kemudian menyatakan bahwa Allah memasukkan siapapun yang dikehendaki-Nya ke dalam rahmat-Nya, dan bagi orang-orang zalim disediakan azab yang pedih. Jika kehendak manusia untuk mengambil jalan yang benar bergantung pada kehendak Allah, dan Allah yang memilih siapa yang masuk surga, maka orang-orang zalim yang mendapat azab bukan orang yang memilih kesesatan, mereka adalah orang yang tidak dikehendaki Allah untuk mengambil jalan yang benar. Hukuman atas kondisi yang tidak dipilih adalah sesuatu yang tidak bisa dibenarkan dengan logika apapun.

Bagikan artikel

Bantu tulisan ini menemukan pembaca yang tepat.

Dukung Qurai

Dukung kerja sunyi di balik setiap tulisan.

Di balik tiap tulisan ada proses membaca, membandingkan, dan merapikan jejak. Setiap dukungan ikut menjaga proses itu tetap berjalan.

Dukung via Saweria