QS 111 · Al-Masad 111:1-5 · Makkiyah · 7 menit
Al-Masad: Satu Nama yang Dikunci di Dalam Bacaan
Satu orang disebut namanya dan dikutuk di dalam kitab yang dibaca jutaan orang tiap hari sampai sekarang. Istrinya ikut disebut, lengkap dengan tali di lehernya. Lima ayat, dan nasib orang itu dikunci di dalamnya tanpa pintu yang tersisa.
Satu nama yang dikunci
memuat kutukannya: binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa, tidaklah berfaedah kepadanya hartanya dan apa yang dia usahakan, kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak.
Dari seluruh Al-Qur'an, ini satu-satunya tempat seorang penentang disebut dengan nama yang dikenali lalu dinyatakan nasibnya. Nama-nama lain yang dicela di tempat lain disebut dengan sifat, bukan dengan nama.
Ayat 3 mengunci keadaan akhirnya, tidak berhenti di keadaannya sekarang. Kalimatnya menyatakan dia akan masuk api, dan dia masih hidup waktu kalimat itu diucapkan.
Susunan itu menutup satu hal yang di tempat lain selalu dibuka, yaitu kemungkinan bertobat. Sekiranya Abu Lahab menyatakan masuk Islam sesudah surat ini beredar, kalimat di ayat 3 sudah tidak bisa dicabut.
Sebagian pembela membaca keadaan itu sebagai bukti, dengan alasan bahwa dia memang mati dalam keadaan menolak dan itu berarti kalimatnya terbukti. Bacaan itu cuma masuk akal kalau orang lebih dulu menerima bahwa yang mengucapkannya tahu masa depan. Kalau tidak, yang tersedia keterangan lain yang sama masuk akalnya: sesudah dikutuk dengan nama di dalam bacaan yang disebarkan ke mana-mana, jalan kembali buat orang itu memang praktis tertutup.
Perempuan yang ikut disebut
menutup surat: dan istrinya pembawa kayu bakar, yang di lehernya ada tali dari sabut.
Namanya tidak disebut; ia dikenali lewat kedudukannya sebagai istri. Riwayat mengisinya sebagai Ummu Jamil, saudara perempuan Abu Sufyan.
Sebutan pembawa kayu bakar dibaca penafsir dua arah. Yang pertama harfiah, yaitu perempuan yang menaburkan duri di jalan yang dilalui Muhammad. Yang kedua kiasan Arab untuk orang yang menyebarkan perkataan yang memanaskan suasana.
Bacaan mana pun, yang dikerjakan dua ayat ini menghukum seseorang karena hubungan pernikahannya sekaligus karena perbuatannya sendiri. Dan gambaran tali di leher adalah gambaran budak atau hewan yang dituntun, jadi perempuan itu diturunkan dua kali: dari orang jadi pembawa beban, lalu dari pembawa beban jadi yang dituntun. Di At-Tahrim, istri Nuh dan istri Lut disebut sebagai contoh bahwa hubungan pernikahan tidak menentukan nasib seseorang, dan di sini susunannya berjalan ke arah yang berlawanan.
Hartanya tidak menolongnya
menyebut satu hal: tidaklah berfaedah kepadanya hartanya dan apa yang dia usahakan.
Kata ma kasab bisa dibaca sebagai hasil usahanya atau sebagai anaknya, sebab anak disebut hasil usaha orang tuanya dalam beberapa riwayat.
Kalimat itu berdiri sejajar dengan tentang orang yang mengira hartanya mengekalkannya, dan dengan tentang harta yang tidak menolong waktu orangnya jatuh. Tiga surat pendek yang berdekatan sama-sama menaruh harta sebagai hal yang berhenti berguna di titik tertentu, dan pengulangan sebanyak itu menerangkan siapa yang jadi lawan bicara utama surat-surat awal, yaitu orang yang kedudukannya bertumpu pada kekayaan. Bagian ini yang paling sering diambil penceramah dari surat ini, dan yang paling jarang diambil justru dua ayat penutupnya.
Nama yang jadi umpatan
Di luar naskahnya, nama Abu Lahab hidup sendiri di sini sebagai umpatan. Dipakai menyebut orang yang dianggap memusuhi agama, muncul di kolom komentar, sesekali di spanduk, dan sudah lama jadi bahan cerita bergambar untuk anak di madrasah.
Nama itu sendiri sebenarnya bukan nama aslinya, melainkan julukan yang artinya bapak nyala api, dan sebagian riwayat menyebutnya diberikan karena wajahnya kemerahan. Yang terjadi sesudahnya julukan itu bertemu dengan isi surat ini dan berubah jadi nama yang tidak bisa dilepas dari api.
Dan pemakaiannya sekarang mengerjakan hal yang sama dengan yang dikerjakan surat ini. Begitu seseorang dipanggil dengan nama itu, yang dipersoalkan berhenti jadi perbuatannya dan berubah jadi orangnya, dan orang yang sudah disamakan dengan nama itu tidak punya cara membantahnya.
Dukung Qurai
Dukung kerja sunyi di balik setiap tulisan.
Di balik tiap tulisan ada proses membaca, membandingkan, dan merapikan jejak. Setiap dukungan ikut menjaga proses itu tetap berjalan.