← Bedah Surat

QS 056  ·  Al-Waqi'ah 56:1-96  ·  Makkiyah  ·  13 menit

Al-Waqi'ah: Tingkat yang Tidak Bisa Dipindahi Lagi

Manusia dibagi tiga di surat ini, dan pembagiannya permanen. Golongan kanan, golongan kiri, dan golongan yang paling dulu. Dua golongan pertama biasa saja. Golongan ketiganya yang janggal: ada tingkat di atas surga biasa, dan penghuninya disebut sedikit sekali dari orang-orang belakangan.

Tiga golongan, dan satu yang paling atas

membaginya: dan kalian menjadi tiga golongan, yaitu golongan kanan, golongan kiri, dan orang-orang yang paling dahulu beriman, merekalah yang paling dahulu masuk surga.

Dua golongan pertama sudah dikenal dari surat lain: yang catatannya diterima dari kanan dan yang dari kiri. Yang ketiga tambahan yang jarang dibicarakan.

memberi takarannya: segolongan besar dari orang-orang terdahulu, dan segolongan kecil dari orang-orang yang kemudian.

Jadi tingkat teratas sebagian besarnya sudah terisi oleh generasi awal, dan jatah untuk yang datang belakangan disebut sedikit. Pembaca sekarang berada di rombongan yang jatahnya paling tipis.

Tingkatan yang tidak bisa dipindahi

Susunan bertingkat semacam ini punya akibat yang berbeda dari susunan dua golongan. Kalau cuma ada surga dan neraka, seluruh usaha diarahkan ke satu batas.

Kalau ada tiga, dan yang teratas dinyatakan hampir tertutup untuk orang belakangan, yang tersisa buat kebanyakan pembaca cuma berusaha masuk golongan kanan.

Dan itu memang yang terjadi di pemakaiannya. Ceramah tentang surat ini hampir selalu berhenti di golongan kanan sebagai sasaran yang masuk akal, sementara golongan terdepan diperlakukan sebagai milik sahabat dan orang saleh zaman dulu.

Surat kiamat yang jadi bacaan pelaris

Di sini surat ini punya kehidupan lain yang jauh dari isinya. Al-Waqi'ah dibaca rutin sesudah magrib oleh banyak orang dengan satu keperluan: supaya rezekinya lancar dan tidak jatuh miskin.

Kebiasaan itu bersandar pada satu riwayat tentang membaca Al-Waqi'ah tiap malam, yang derajatnya diperdebatkan ahli dan sebagian menilainya lemah.

Isi suratnya sendiri tidak menyinggung rezeki sama sekali. Yang ada langit yang pecah, gunung yang dihancurkan jadi debu, dan orang yang disiram air mendidih.

Jarak itu tidak menyusahkan siapa pun. Yang membacanya tetap tenang, dan yang menganjurkannya tetap yakin. Yang bisa dicatat cuma bahwa kegunaan sebuah bacaan bisa tumbuh sepenuhnya di luar isinya, dan tetap bertahan berabad-abad.

Surga yang bahannya dari zaman itu

menyusun rinciannya: dipan bertahtakan emas dan permata, anak-anak muda yang berkeliling membawa gelas dan cerek, buah-buahan yang bisa dipilih, dan daging burung yang diinginkan.

Semua bahannya tersedia di dunia pendengar pertamanya, dan semuanya barang yang cuma dimiliki orang kaya di sana.

Gambaran memang dibangun begitu, dan itu tidak membuatnya lemah. Kenikmatan puncak selalu dibayangkan dari kenikmatan tertinggi yang sudah dikenal.

Yang jadi soal cuma kalau gambarannya ikut diperlakukan sebagai keterangan tentang keadaan sebenarnya. Dunia yang dijanjikan jadi terkunci di kemewahan abad ketujuh, lengkap dengan pelayan dan majelis minum, dan susah dibayangkan orang yang ukuran kenikmatannya sudah berbeda.

Nyawa yang sudah di kerongkongan

menutup dengan tantangan yang bunyinya tenang tapi mengunci: maka mengapa waktu nyawa sampai di kerongkongan, sedangkan kalian ketika itu melihat, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada kalian, tetapi kalian tidak melihat. Maka kenapa tidak kalian kembalikan nyawa itu, kalau kalian memang orang yang benar.

Sebagai keterangan tentang batas manusia, ini tepat. Tidak ada yang bisa menahan nyawa orang yang sedang pergi, dan siapa pun yang pernah menunggui orang meninggal tahu persis rasanya.

Sebagai alasan, tantangan itu tidak sampai ke kesimpulannya. Ketidaksanggupan mengembalikan nyawa membuktikan manusia terbatas, dan tidak membuktikan siapa yang mengambilnya.

Bagikan artikel

Bantu tulisan ini menemukan pembaca yang tepat.

Dukung Qurai

Dukung kerja sunyi di balik setiap tulisan.

Di balik tiap tulisan ada proses membaca, membandingkan, dan merapikan jejak. Setiap dukungan ikut menjaga proses itu tetap berjalan.

Dukung via Saweria