← Bedah Surat

QS 109  ·  Al-Kafirun 109:1-6  ·  Makkiyah  ·  7 menit

Al-Kafirun: Enam Ayat, Dua Pemakaian yang Berlawanan

Enam ayat yang sama dipakai untuk dua hal yang berlawanan di sini. Yang satu membela kerukunan dan dibacakan di seminar lintas agama. Yang satu lagi dipakai melarang orang mengucapkan selamat Natal, tiap Desember, dari mimbar dan dari kolom komentar. Bunyinya tidak berubah di antara keduanya.

Enam ayat, dua pemakaian yang berlawanan

memuat seluruh isinya: katakanlah, hai orang-orang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kalian sembah, dan kalian bukan penyembah Tuhan yang aku sembah, dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kalian sembah, dan kalian tidak pernah pula menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah, untuk kalian agama kalian, dan untukku agamaku.

Pemakaian pertama mengambil ayat 6. Kalimat itu dikutip di seminar kerukunan, di pernyataan organisasi keagamaan, dan di pelajaran sekolah sebagai dasar bahwa tiap orang dibiarkan memegang agamanya.

Pemakaian kedua mengambil ayat 2 sampai 5. Fatwa Majelis Ulama Indonesia tahun 1981 tentang perayaan Natal bersama bersandar antara lain pada surat ini, dan sejak itu perdebatan tentang boleh tidaknya mengucapkan selamat Natal muncul tiap Desember tanpa pernah selesai.

Dua pemakaian itu memakai naskah yang sama dan sampai ke arah yang berlawanan, dan itu mungkin karena isinya memang memuat dua hal sekaligus: pemisahan yang tegas, dan pembiaran yang tegas.

Yang lebih dekat ke bunyinya keduanya sekaligus, dan itu jawaban yang tidak memuaskan siapa pun. Empat ayat di tengah menolak percampuran ibadah, dan tidak satu pun di antaranya menyebut ucapan, sapaan, atau pergaulan. Ayat terakhir membiarkan, dan tidak menyebut penerimaan. Yang ditambahkan di luar itu, baik oleh yang melarang maupun oleh yang membela, datang dari pertimbangan lain.

Pengulangan yang empat kali

Ayat 2 sampai 5 mengatakan hal yang hampir sama empat kali dengan pergantian bentuk kata kerja antara yang sedang berlangsung dan yang sudah lewat.

Penafsir lama sudah memperhatikannya dan menempuh beberapa jalan. Sebagian menyatakan dua ayat pertama tentang masa sekarang dan dua berikutnya tentang masa lalu dan masa depan. Sebagian menyatakan pengulangannya penegasan biasa dalam bahasa Arab.

Yang bisa dikatakan dari luar perdebatan itu, pengulangan sebanyak itu di surat sependek ini menghasilkan satu hal yang jelas, yaitu tidak tersedianya jalan tengah. Susunan yang mengulang penolakan empat kali tidak menyisakan ruang untuk penafsiran yang melunakkannya, dan itu yang membuat surat ini terus dipakai oleh pihak yang ingin memisahkan.

Dan pengulangan itu juga yang membuatnya melekat. Surat ini termasuk yang paling awal dihafal anak sesudah Al-Fatihah, dan yang dihafal lebih dulu oleh anak umur enam tahun adalah empat baris penolakan, bukan satu baris penutupnya.

Untukmu agamamu

memuat enam kata yang jadi kalimat paling banyak dikutip dari surat ini.

Sebagian penafsir lama membacanya sebagai pernyataan berlepas diri, bukan sebagai pemberian kebebasan, dan sebagian lagi menyatakannya sudah dihapus oleh ayat-ayat perang yang datang belakangan.

Pembacaan yang menyatakannya dihapus punya akibat besar dan jarang disampaikan di depan umum. Kalau ayat 6 dianggap tidak berlaku lagi, dasar yang paling sering dipakai membela kerukunan di negeri ini berdiri di atas ayat yang sebagian ulamanya sendiri anggap sudah tidak berlaku.

Akibat itu tertahan oleh keadaan, bukan oleh tafsir yang sudah beres. Di negeri yang penduduknya beragam dan hukumnya menjamin tiap orang memeluk agamanya, ayat 6 punya tempat yang bisa dipakai, dan pembacaan yang menghapusnya tidak punya tempat. Kekuatan alasan jarang menentukan bacaan mana yang dipakai; susunan masyarakat tempat orangnya tinggal yang menentukan.

Turun waktu belum ada yang bisa dipaksa

Surat ini digolongkan Makkiyah, dan riwayatnya menyebut latarnya tawaran orang Quraisy untuk menyembah bergantian selama setahun.

Keadaan waktu itu perlu diletakkan pada tempatnya. Kelompok yang mengucapkannya kelompok kecil yang tidak punya kuasa memaksa siapa pun, dan yang menawarkan percampuran justru pihak yang lebih kuat.

Dibaca di keadaan itu, enam ayat ini penolakan pihak lemah terhadap tekanan untuk melebur. Dibaca di keadaan sekarang, di negeri yang mayoritasnya besar, kalimat yang sama berlaku lain sama sekali. Yang berubah bukan katanya, melainkan siapa yang mengucapkannya dan kepada siapa.

Bagikan artikel

Bantu tulisan ini menemukan pembaca yang tepat.

Dukung Qurai

Dukung kerja sunyi di balik setiap tulisan.

Di balik tiap tulisan ada proses membaca, membandingkan, dan merapikan jejak. Setiap dukungan ikut menjaga proses itu tetap berjalan.

Dukung via Saweria