← Bedah Surat

QS 061  ·  As-Saff 61:1-14  ·  Madaniyah  ·  10 menit

As-Saff: Barisan Perang dan Nama di Mulut Isa

Sebelum takbir pertama, imam di masjid mana pun di sini mengucapkan kalimat yang sama: rapatkan dan luruskan saf. Kata itu yang jadi nama surat ini. Barisan yang dimaksud surat ini bukan barisan salat, melainkan barisan perang, dan dari situ surat bergerak ke satu klaim yang jawabannya justru ada di luar dirinya sendiri.

Saf yang bukan saf salat

memberi nama surat ini: sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seperti bangunan yang tersusun kokoh.

Kalimat itu sekarang paling sering terdengar di dua tempat yang jauh dari asalnya. Yang pertama seruan imam merapatkan saf sebelum salat berjamaah, yang kedua ceramah tentang kekompakan organisasi. Dua-duanya memakai bunyinya, dan dua-duanya melepas isinya.

Ayat ini menyebut satu bentuk kegiatan tertentu, yaitu perang, bukan kerapian barisan salat dan bukan pula kekompakan pada umumnya. Bangunan kokoh dipakai sebagai gambaran pasukan yang tidak berlubang, bukan gambaran jamaah yang tumitnya sejajar.

Pemindahan makna semacam itu biasanya berjalan tanpa ada yang menutupinya. Justru arah pemindahannya yang tidak biasa. Ayat perang dipakai untuk urusan yang jinak, bukan sebaliknya, dan itu memperpanjang umur ayatnya di tempat yang isinya tidak lagi punya hubungan dengan yang dibicarakannya.

Nama yang ditaruh di mulut Isa

memuat satu-satunya bagian surat ini yang bisa diperiksa dari luar. Isa putra Maryam dikutip berkata kepada bahwa dia rasul Allah kepada mereka, membenarkan Taurat yang datang sebelumnya, dan memberi kabar gembira tentang seorang rasul yang akan datang sesudahnya, namanya Ahmad.

Klaimnya jelas dan bisa dicocokkan: menurut ayat ini, Isa pernah menyebut sebuah nama. Kitab yang memuat ucapan Isa ada, dinaskahkan, dan bisa dibuka siapa saja.

Nama itu tidak ada di sana. Tidak di keempat Injil yang diakui gereja, tidak di injil-injil yang ditolak gereja, dan tidak di surat-surat paling awal. Yang biasa diajukan sebagai penggantinya kata Yunani parakletos di Injil Yohanes, yang artinya penolong atau pembela. Argumennya menyatakan bahwa yang asli sebenarnya periklytos, yang artinya terpuji, dan itu sepadan dengan arti nama Ahmad.

Kesulitannya, tidak ada satu pun naskah Yunani Yohanes yang memuat periklytos. Argumen itu bersandar pada bacaan yang diandaikan pernah ada lalu hilang, bukan pada bacaan yang pernah ditemukan. Di sini argumennya berbalik arah: yang seharusnya jadi bukti dari luar berubah jadi kesimpulan yang dipakai memperbaiki sumbernya.

Di Indonesia argumen parakletos punya umur panjang. Bentuknya beredar lewat buku terjemahan Ahmed Deedat, brosur perbandingan agama, dan sekarang potongan video ceramah. Argumen itu mensyaratkan naskah tertua yang ada semuanya salah pada satu kata yang sama, dan syarat itu jarang disampaikan.

Berkata tanpa mengerjakan

membuka dengan teguran: hai orang-orang beriman, kenapa kalian mengatakan apa yang tidak kalian kerjakan, amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kalian mengatakan apa yang tidak kalian kerjakan.

Sebagai kaidah, ini termasuk yang paling bisa dipakai siapa saja. Jarak antara ucapan dan perbuatan bisa diperiksa orang lain, tidak butuh keyakinan tertentu untuk menilainya, dan tidak butuh akhirat untuk membuktikannya salah.

Yang perlu dilihat cuma tempat kaidah itu ditaruh. Ayat 4 datang persis sesudahnya, dan yang dipuji di sana barisan perang. Jadi jarak ucapan dan perbuatan yang dimaksud bukan jarak pada umumnya, melainkan jarak antara menyatakan siap berperang dan benar-benar berangkat. Kaidahnya bagus, penerapannya sempit, dan sempitnya baru kelihatan kalau dua ayat itu dibaca berurutan.

Dagang yang tidak menyediakan kemungkinan rugi

memakai istilah pasar tanpa memperhalusnya: maukah Aku tunjukkan suatu perdagangan yang menyelamatkan kalian dari azab yang pedih, yaitu beriman kepada Allah dan rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwa kalian.

Kata yang dipakai tijarah, dan di ayat berikutnya disusul janji imbalannya: pengampunan dosa, surga, dan tempat tinggal yang baik. Susunannya lengkap seperti tawaran usaha, ada modal yang disetor, ada hasil yang dijanjikan.

Yang membedakannya dari perdagangan sungguhan satu hal, dan justru yang paling menentukan. Dalam dagang, kemungkinan rugi ada dan bisa dihitung sebelum modal disetor. Di sini modalnya harta dan nyawa, disetor sekarang, dan hasilnya cuma bisa diperiksa sesudah tidak ada lagi yang bisa memeriksa.

Bahasa untung rugi buat urusan pahala masih hidup di sini dan bunyinya tidak jauh berubah: sedekah disebut investasi, amal disebut tabungan akhirat, salat disebut tidak pernah merugi. Bahasanya menolong sebab menerangkan hal yang jauh dengan hal yang dikenal orang. Ongkosnya, keputusan yang paling besar dalam hidup seseorang jadi terasa seperti perkara menghitung, padahal syarat pokok yang membuat hitungan bisa diperiksa tidak pernah tersedia.

Menang atas segala agama

menyatakan Allah mengutus rasul-Nya dengan petunjuk dan agama yang benar untuk memenangkannya atas segala agama, walaupun orang tidak menyukainya.

Bentuk kalimatnya bukan harapan dan bukan doa, melainkan pemberitahuan tentang hasil yang sudah ditetapkan. Susunan begini muncul juga di At-Taubah dan Al-Fath, dan tiap kali muncul, keadaan yang bisa membantahnya tidak pernah ditentukan. Kalau kemenangan itu belum kelihatan, yang disimpulkan waktunya belum tiba.

Klaim menang atas agama lain bukan milik satu tradisi saja, dan yang beredar di sini juga tidak selalu datang dari Islam. Akibatnya berbeda menurut seberapa besar kuasa orang yang memegangnya, bukan menurut isi klaimnya. Kalimat yang sama bunyinya jadi penghibur di tangan kelompok yang tertekan, dan jadi alasan di tangan kelompok yang berkuasa.

Bagikan artikel

Bantu tulisan ini menemukan pembaca yang tepat.

Dukung Qurai

Dukung kerja sunyi di balik setiap tulisan.

Di balik tiap tulisan ada proses membaca, membandingkan, dan merapikan jejak. Setiap dukungan ikut menjaga proses itu tetap berjalan.

Dukung via Saweria