QS 080 · Abasa 80:1-42 · Makkiyah · 10 menit
Abasa: Nabi yang Mengutamakan Pembesar, Embriologi Parsial, dan Keluarga yang Lari
Surat Abasa dimulai dengan sesuatu yang jarang terjadi dalam teks suci: kritik langsung terhadap figur sentral agama itu sendiri. Muhammad berpaling dari seorang buta yang datang mencari pengajaran karena sedang menjamu pembesar Quraisy yang diharapkan masuk Islam. Wahyu turun untuk menegur. Momen ini adalah bukti bahwa kalkulus sosial Muhammad nyata dan bermasalah, ia mengutamakan orang yang dianggap bernilai strategis di atas orang yang datang dengan tulus tapi tidak punya kuasa.
Peta Masalah
Surat ini mendokumentasikan bias status sosial Muhammad secara eksplisit, mengandung embriologi yang salah dan parsial, menggeneralisasi seluruh umat manusia sebagai belum melaksanakan perintah Allah, membangun gambaran kiamat di mana ikatan keluarga sepenuhnya runtuh, menggunakan dikotomi wajah berseri versus berdebu sebagai penghakiman moral yang terlalu disederhanakan, dan menutup dengan label 'kafir yang durhaka' tanpa mempertimbangkan variasi konteks dan motivasi individu.
Nabi yang mengutamakan pembesar
mendokumentasikan kejadian yang spesifik: Muhammad berwajah masam dan berpaling dari Abdullah bin Ummi Maktum yang buta karena sedang berkonsentrasi pada pembesar Quraisy. Teks ini tidak menyembunyikan apa yang terjadi, ia menyebutnya secara eksplisit sebagai kesalahan yang perlu dikoreksi.
Yang menarik adalah logika di balik kesalahan itu. Muhammad mengutamakan tokoh yang dianggap bernilai secara politik dan strategis, kalau pembesar ini masuk Islam, dampaknya besar. Orang buta yang datang dengan sungguh-sungguh tidak menawarkan nilai strategis yang sama. Ini adalah kalkulasi utilitarian yang sangat manusiawi, dan sangat bermasalah jika dilakukan oleh orang yang diklaim membawa keadilan universal.
Tradisi apologetik menekankan bahwa wahyu ini mengoreksi Muhammad, sebagai bukti bahwa Al-Qur'an tidak hanya memuji nabi. Tapi koreksi ini juga mengungkap bahwa Muhammad beroperasi dalam logika status sosial yang perlu dikoreksi, bukan seorang figur yang secara otomatis melampaui bias sosialnya. Keduanya bisa benar sekaligus.
Embriologi yang tidak lengkap dan nasib yang ditentukan
bertanya: dari apakah Allah menciptakannya? Dari setetes mani, Dia menciptakannya lalu menentukannya. Kemudian jalannya Dia mudahkan.
Seperti dalam surat-surat sebelumnya, embriologi di sini hanya menyebut mani sebagai asal-usul tanpa menyebut ovum. Ini bukan soal detail teknis yang bisa dimaklumi, ovum bukan penemuan modern. Proses reproduksi sudah dipahami dalam berbagai tingkat detail di berbagai peradaban kuno. Absennya ovum dalam semua gambaran embriologi Al-Qur'an konsisten dengan pandangan kuno bahwa laki-laki adalah 'benih aktif' dan perempuan adalah wadah pasif.
Yang lebih signifikan adalah 'lalu menentukannya' (faqadarahu), Allah menentukan takdir manusia sejak penciptaan dari setetes mani. Tapi sistem penghukuman dalam surat yang sama menghukum manusia atas pilihan-pilihan yang, jika takdir sudah ditentukan sejak awal, tidak bisa benar-benar bebas. Determinisme kosmologis dan tanggung jawab moral tidak bisa berdiri bersamaan tanpa menyelesaikan kontradiksi antara keduanya.
Semua manusia belum melaksanakan perintah
menyatakan: sekali-kali jangan, dia (manusia) itu belum melaksanakan apa yang Dia (Allah) perintahkan kepadanya. Ini adalah generalisasi yang mengklaim berlaku untuk seluruh umat manusia.
Pernyataan ini tidak hanya pesimistis, ia secara logis bermasalah. 'Manusia belum melaksanakan apa yang diperintahkan' adalah klaim universal yang bisa dibantah dengan satu contoh kontra: seseorang yang melaksanakan semua perintah itu. Jika klaim dimaksudkan sebagai pernyataan tentang kecenderungan umum, bukan pernyataan universal, maka harus dikatakan demikian.
Lebih jauh, klaim ini berfungsi sebagai framing default yang menempatkan manusia selalu dalam posisi bersalah, belum cukup, belum memadai, selalu kurang dari standar yang ditetapkan. Ini adalah posisi psikologis yang mempertahankan otoritas pihak yang menetapkan standar itu.
Kiamat yang menghancurkan keluarga
menggambarkan datangnya tiupan sangkakala, dan pada hari itu manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari istri dan anak-anaknya, karena setiap orang sibuk dengan urusannya sendiri.
Gambaran ini dimaksudkan untuk menyampaikan betapa dahsyatnya hari kiamat: bahkan ikatan keluarga yang paling dasar pun tidak bertahan. Tapi efek psikologisnya adalah menggambarkan ikatan keluarga sebagai sesuatu yang akan runtuh dalam kondisi ekstrem, sebagai sesuatu yang sifatnya sementara dan tidak fundamental.
Ini adalah gambaran tentang isolasi radikal sebagai nasib akhir manusia di hadapan penghakiman ilahi. Tidak ada solidaritas, tidak ada saling membela, tidak ada kemungkinan untuk bersama menanggung beban. Setiap orang sendiri-sendiri. Gambaran ini bukan tanpa pengaruh terhadap bagaimana masyarakat memandang ikatan kolektif versus tanggung jawab individual kepada otoritas transenden.
Wajah berseri dan wajah berdebu
menutup dengan dikotomi: pada hari itu ada wajah-wajah yang berseri-seri, tertawa dan gembira, dan ada wajah-wajah yang tertutup debu, tertutup kegelapan. Mereka itulah orang-orang kafir yang durhaka.
Dikotomi ini menyederhanakan spektrum manusia menjadi dua kategori berdasarkan label. Semua yang berwajah berseri adalah beriman; semua yang berwajah berdebu adalah kafir yang durhaka. Tidak ada ruang untuk ambiguitas, konteks, atau gradasi.
Dalam kenyataan, manusia bergerak dalam spektrum yang kompleks antara keyakinan dan keraguan, antara tindakan baik dan buruk, antara memahami dan tidak memahami. Seseorang yang tidak menerima klaim teologis Islam bisa saja adalah orang yang hidup jujur, adil, dan penuh kepedulian terhadap sesama. Menempatkannya dalam kategori 'kafir yang durhaka' dengan wajah berdebu adalah penghakiman yang mengabaikan semua variabel yang secara etis relevan.
Dukung Qurai
Dukung kerja sunyi di balik setiap tulisan.
Di balik tiap tulisan ada proses membaca, membandingkan, dan merapikan jejak. Setiap dukungan ikut menjaga proses itu tetap berjalan.