QS 080 · Abasa 80:1-42 · Makkiyah · 10 menit
Abasa: Teguran yang Jadi Nama Surat
Ada satu surat yang isinya teguran terhadap nabinya sendiri karena mengabaikan seorang buta yang miskin demi melayani orang berpangkat, dan teguran itu jadi namanya. Nama surat ini artinya dia bermuka masam. Kalimat itu dibaca terus sampai sekarang tanpa pernah dikeluarkan atau diperhalus.
Teguran yang jadi nama surat
membuka tanpa basa-basi: dia bermuka masam dan berpaling, karena telah datang seorang buta kepadanya, dan tahukah engkau barangkali dia ingin membersihkan dirinya, atau dia ingin mendapat pengajaran lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya.
menyebut siapa yang dilayani sebagai gantinya: adapun orang yang merasa dirinya serba cukup, maka engkau melayaninya, padahal tidak ada celaan atasmu kalau dia tidak membersihkan diri, dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera sedang dia takut kepada Allah, maka engkau mengabaikannya.
Riwayat menyebut orang butanya Abdullah bin Ummi Maktum, yang belakangan jadi salah satu muazin di Madinah, dan yang dilayani sekelompok pemuka Quraisy. Namanya cukup dikenal di sini justru lewat pelajaran tentang azan di madrasah, dan bagian tentang wajah masam itu biasanya tidak ikut diceritakan.
Yang dikerjakan teguran ini membalik ukuran yang biasa dipakai orang. Yang datang mencari tidak punya apa-apa, dan yang dilayani punya kedudukan yang bisa mengubah keadaan seluruh dakwah. Dari sudut pandang siapa pun yang sedang membangun gerakan, pilihannya masuk akal, dan justru itu yang dicela.
Bagian ini termasuk yang paling sulit diterangkan oleh pembacaan yang menyatakan Al-Qur'an disusun untuk menguntungkan pembawanya. Naskah yang disusun untuk kepentingan seseorang tidak biasanya menyimpan teguran terhadap orang itu, memberinya judul, dan mewajibkannya dibaca berabad-abad.
Siapa yang sebenarnya ditegur
Sepuluh ayat pertama surat ini memakai kata ganti orang ketiga di awal lalu berpindah ke orang kedua. Namanya tidak disebut. Kalimatnya memakai dia, lalu engkau.
Sebagian besar penafsir membacanya sebagai teguran kepada Muhammad, dan riwayatnya mendukung itu. Tapi ada pembacaan lain, terutama di sebagian kalangan Syiah, yang menyatakan yang bermuka masam bukan Nabi melainkan orang lain yang hadir di situ.
Pembacaan yang kedua bersandar pada satu alasan yang disebut terus terang, yaitu bahwa bermuka masam tidak pantas bagi orang yang di surat lain disebut berbudi pekerti luhur.
Perbedaan ini tidak menerangkan mana yang benar. Arah yang ditempuh keduanya yang lebih banyak bercerita. Bacaan yang lebih tua menerima teguran itu apa adanya dan menganggapnya bukti bahwa naskahnya apa adanya. Bacaan yang belakangan memindahkan sasarannya supaya tokohnya tetap bersih. Dua-duanya berangkat dari kalimat yang sama, dan yang membedakan hasilnya seberapa besar ketidaknyamanan yang bersedia mereka tanggung.
Hendaklah manusia melihat makanannya
berpindah ke hal yang sehari-hari: maka hendaklah manusia memperhatikan makanannya, sesungguhnya Kami benar-benar telah mencurahkan air, kemudian Kami belah bumi dengan sebaik-baiknya, lalu Kami tumbuhkan biji-bijian, anggur dan sayur-sayuran, zaitun dan pohon kurma, kebun-kebun yang lebat, buah-buahan serta rumput-rumputan, untuk kesenanganmu dan untuk binatang ternakmu.
Urutannya menuruni tangga dari yang paling penting ke yang paling remeh, dan berhenti di rumput untuk ternak. Yang terakhir itu yang membuat daftarnya bagus, sebab menunjukkan bahwa yang dihitung bukan cuma yang berguna bagi manusia.
Dan perintah pembukanya masih terpakai. Menyuruh orang memperhatikan makanannya lalu menelusuri asalnya sampai ke hujan dan tanah adalah cara berpikir yang sama dengan yang dipakai orang sekarang untuk menelusuri dari mana beras di piringnya datang, siapa menanamnya di sawah mana, dan berapa yang diterima petaninya sesudah tengkulak mengambil bagian.
Lari dari saudara dan dari ibu
menggambarkan hari itu: pada hari ketika manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari istri dan anak-anaknya, tiap-tiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya.
Urutannya naik dari yang paling jauh ke yang paling dekat, berlawanan dengan urutan tebusan di Al-Ma'arij yang bergerak sebaliknya.
Gambaran ini menancap karena kalimat terakhirnya, lebih dari karena kengeriannya. Tidak ada permusuhan atau pengkhianatan di situ; orang sekadar sibuk dengan urusannya sendiri. Orang lari dari ibunya bukan karena membencinya, melainkan karena sedang mengurus dirinya sendiri, dan itu keterangan tentang manusia yang jauh lebih tepat daripada gambaran mana pun tentang siksa. Bagian ini yang paling sering dibacakan di mimbar dari surat ini, dan hampir selalu tanpa menyebut sepuluh ayat pembukanya.
Di tangan para penulis
menyebut di mana peringatan itu berada: di dalam kitab-kitab yang dimuliakan, yang ditinggikan lagi disucikan, di tangan para penulis yang mulia lagi berbakti.
Kata safarah dipakai untuk juru tulis, dan penafsir umumnya membacanya sebagai malaikat pencatat. Gambaran yang dipakai tetap gambaran pekerjaan manusia, yaitu naskah yang disalin tangan orang, disimpan, dan dimuliakan. Untuk kitab yang dinyatakan berada di sisi Allah, bentuk yang dipilih untuk menerangkannya justru bentuk pekerjaan juru tulis di kota dagang abad ketujuh.
Dukung Qurai
Dukung kerja sunyi di balik setiap tulisan.
Di balik tiap tulisan ada proses membaca, membandingkan, dan merapikan jejak. Setiap dukungan ikut menjaga proses itu tetap berjalan.