QS 028 · Al-Qasas 28:1-88 · Makkiyah · 15 menit
Al-Qasas: Dua Kejatuhan dengan Akhir yang Berlawanan
Ada dua orang yang jatuh di surat ini, dan nasib keduanya berbeda jauh. Yang pertama memukul orang sampai mati, mengaku salah, lalu diampuni di ayat berikutnya dan kemudian jadi nabi. Yang kedua cuma menumpuk harta dan menyombongkannya, lalu ditelan bumi bersama rumahnya. Berat ringannya perbuatan ternyata tidak menentukan siapa yang diberi kesempatan.
Pukulan yang mematikan
menceritakannya tanpa dilunakkan. Musa masuk kota waktu penduduknya lengah, menemukan dua orang berkelahi, lalu memukul yang satu dan orang itu mati. Kalimat sesudahnya keluar dari mulut Musa sendiri: ini termasuk perbuatan setan, sesungguhnya setan itu musuh yang jelas menyesatkan.
langsung menyusul: ya Tuhanku, aku telah menzalimi diriku, maka ampunilah aku. Dan Dia mengampuninya.
Jarak antara perbuatan dan pengampunannya cuma satu ayat. Tidak ada tebusan, tidak ada keluarga korban yang disebut, dan tidak ada satu kalimat pun tentang orang yang mati itu punya siapa.
Kalimat menzalimi diriku juga janggal. Yang disebut dirugikan Musa sendiri, sementara yang kehilangan nyawa orang lain.
Ibu yang menyusui anaknya dengan upah
menyusun bagian yang paling rapi jalinannya di seluruh surat. Ibu Musa diilhami menghanyutkan bayinya, keluarga Firaun memungutnya, bayinya menolak semua perempuan yang menyusui, lalu kakaknya menawarkan satu keluarga yang bisa merawatnya.
Yang menawarkan tidak menyebut bahwa perempuan itu ibu kandungnya. Jadi ibunya digaji istana untuk menyusui anaknya sendiri, dan menyebut alasannya: supaya hatinya senang dan tidak bersedih.
Sebagai cerita, ini memuaskan sekali. Sebagai keterangan tentang bagaimana keadaan diatur, susunannya juga menerangkan sesuatu: yang membuat semua itu berjalan bukan pilihan siapa pun, melainkan rangkaian kebetulan yang disebut sudah diatur dari awal.
Delapan tahun kerja untuk seorang perempuan
memindahkan Musa ke Madyan. Dia menolong dua perempuan mengambilkan air, salah satunya datang lagi dengan malu-malu untuk mengundangnya, lalu bapak mereka menawarkan sesuatu.
Tawarannya disebut di : aku ingin menikahkan kamu dengan salah seorang dari kedua anak perempuanku ini, dengan syarat kamu bekerja padaku delapan tahun. Kalau digenapkan sepuluh, itu kebaikan darimu.
Yang dirundingkan lamanya bekerja, dan yang dipertukarkan seorang perempuan yang tidak ikut bicara. Dia bahkan tidak disebut yang mana dari keduanya; pilihannya diserahkan belakangan.
Susunan seperti ini bukan barang aneh di dunia kuno, dan ada juga di kitab Kejadian waktu Yakub bekerja bertahun-tahun untuk Rahel. Cerita ini tetap dibacakan sekarang sebagai contoh cara melamar yang baik, termasuk di majelis taklim yang isinya perempuan semua, dan bagian tentang siapa yang tidak ditanya biasanya tidak ikut disebut.
Orang yang namanya jadi kata benda
memperkenalkan Qarun sebagai orang dari kaum Musa yang berlaku sewenang-wenang, dan kunci-kunci gudang hartanya saja sudah memberatkan sekelompok orang kuat.
merekam kalimat yang membuatnya jatuh: sesungguhnya aku diberi harta itu semata-mata karena ilmu yang ada padaku. Sesudah itu bumi menelannya bersama rumahnya, dan tidak ada golongan yang bisa menolongnya.
Namanya tidak hilang sesudah itu. Dalam bahasa Indonesia, harta yang terpendam disebut harta karun, dan asal katanya orang ini. Anak sekolah dasar memakai kata itu tiap kali membicarakan peti di dasar laut, tanpa pernah tahu bahwa yang mereka sebut nama orang yang ditelan bumi.
Yang jadi soal kalau dua cerita ini ditaruh bersebelahan. Musa membunuh seseorang lalu diampuni satu ayat kemudian. Qarun menyombongkan hartanya lalu ditelan bumi tanpa diberi kesempatan menarik ucapannya. Suratnya tidak menyediakan keterangan kenapa yang satu masih punya pintu dan yang satu lagi tidak.
Kalimat yang menutup kemungkinan
memuat kalimat yang sering dipakai untuk menghibur orang yang gagal mengajak keluarganya: sesungguhnya kamu tidak akan bisa memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki.
Riwayat menyebutkan kalimat itu turun berkaitan dengan paman Muhammad yang melindunginya seumur hidup tapi tidak masuk Islam.
Dibaca sebagai penghiburan, kalimatnya melegakan. Dibaca sebagai keterangan tentang cara kerjanya, kalimatnya menutup sesuatu. Kalau petunjuk memang diberikan menurut kehendak yang tidak bisa diketahui siapa pun, maka seluruh kerja mengajak orang jadi tidak menentukan hasil, dan orang yang tidak sampai ke sana tidak bisa sepenuhnya disalahkan.
Dukung Qurai
Dukung kerja sunyi di balik setiap tulisan.
Di balik tiap tulisan ada proses membaca, membandingkan, dan merapikan jejak. Setiap dukungan ikut menjaga proses itu tetap berjalan.