QS 070 · Al-Ma'arij 70:1-44 · Makkiyah · 12 menit
Al-Ma'arij: Skala Kosmik, Manusia yang Kikir, dan Hamba Sahaya yang Dilegalkan
Al-Ma'arij membuka dengan seseorang yang bertanya tentang azab yang pasti, dan jawabannya dimulai dengan waktu: satu hari di sisi malaikat setara lima puluh ribu tahun manusia. Surat ini bermain dengan skala luar biasa, lalu menggunakannya untuk mengecilkan manusia: makhluk yang mengeluh dan kikir, yang bersedia mengorbankan seluruh keluarganya untuk selamat dari azab, dan yang perlu ditertibkan dengan daftar ritual dan larangan, termasuk legitimasi hubungan seksual dengan hamba sahaya.
Peta Masalah
Surat ini memuat klaim waktu kosmologis yang tidak kompatibel dengan fisika, gambaran kiamat yang bertentangan dengan astronomi dan geologi, manusia yang digambarkan bersedia mengorbankan anak dan istri untuk menebus diri, neraka yang mengelupas kulit kepala, generalisasi bahwa manusia diciptakan suka mengeluh dan kikir, legitimasi hubungan seksual dengan hamba sahaya, penolakan kategoris orang kafir dari surga, dan ancaman mengganti umat dengan yang lebih baik.
Waktu yang tidak bisa dikonfirmasi
menyatakan bahwa malaikat dan Jibril naik menghadap Tuhan dalam satu hari yang setara lima puluh ribu tahun. menyebut satu hari sama dengan seribu tahun. Kedua angka itu berbeda, dan tradisi tafsir mengusulkan berbagai rekonsiliasi.
Angka-angka ini tidak bisa diverifikasi. Tidak ada cara untuk mengkonfirmasi atau membantah klaim tentang berapa lama perjalanan malaikat. Fungsinya dalam teks adalah menunjukkan jurang antara skala ilahi dan skala manusia, tapi jurang yang tidak bisa diukur tidak bisa dipakai sebagai argumen apapun.
Lebih jauh, fisika modern memahami waktu sebagai variabel yang bergantung pada gravitasi dan kecepatan, relativitas khusus dan umum Einstein. Tidak ada dalam pemahaman itu tempat untuk 'hari ilahi yang setara lima puluh ribu tahun manusia' sebagai deskripsi literal tentang bagaimana waktu bekerja. Klaim ini salah secara fisika atau tidak bisa diverifikasi, tidak ada posisi ketiga.
Kiamat dan gambaran yang tidak cocok
menggambarkan hari kiamat: langit menjadi seperti cairan tembaga, gunung-gunung seperti bulu yang beterbangan. Gambaran ini mengandaikan langit sebagai objek material yang bisa mencair dan gunung sebagai benda yang bisa dilempar seperti kapas.
Langit dalam pemahaman modern adalah ruang angkasa, tidak memiliki struktur material yang bisa mencair. Gunung adalah formasi geologis yang berakar dalam lempeng tektonik, bukan benda terapung yang bisa terbang seperti bulu. Dua gambaran kiamat ini tidak bisa direkonsiliasi dengan fisika atau geologi.
Respons standar adalah bahwa ini adalah gambaran metaforis tentang kedahsyatan. Tapi fungsi teks ini bukan metafora, ia adalah gambaran tentang apa yang secara literal akan terjadi pada hari kiamat. Metratasikan gambar literal menjadi metafora setelah terbukti salah secara faktual adalah strategi apologetik, bukan pembacaan teks.
Manusia yang siap mengorbankan keluarga
menggambarkan pendosa yang ingin menebus dirinya dengan anak-anaknya, istrinya, saudaranya, keluarganya, bahkan seluruh isi bumi, asal ia selamat dari azab. Gambaran ini dimaksudkan sebagai peringatan tentang betapa dahsyatnya hari itu.
Tapi ia juga berfungsi sebagai pernyataan tentang sifat dasar manusia: ketika terdesak cukup ekstrem, manusia akan mengkhianati semua yang mereka cintai. Ini adalah pandangan tentang kemanusiaan yang sangat pesimistis, dan ia dipakai untuk mempersiapkan solusi yang ditawarkan: ritual dan ketaatan yang mengekang naluri itu.
Gambaran manusia yang siap menjual keluarganya untuk selamat bukan deskripsi netral, ia adalah konstruksi yang merendahkan kemanusiaan untuk membuat sistem kendali agama tampak sebagai penyelamatan. Manusia yang digambarkan buruk secara alamiah membutuhkan struktur yang mengaturnya dari luar.
Hamba sahaya dan legitimasi yang tidak bisa dinetralkan
mendaftar kriteria orang yang dikecualikan dari sifat buruk manusia: salat, berinfak, percaya hari pembalasan, dan menjaga kemaluan kecuali dari istri atau hamba sahaya yang dimiliki. Klausul hamba sahaya muncul tanpa catatan, tanpa pembatasan, sebagai pengecualian yang sah.
Ini bukan soal konteks historis yang perlu dipahami, perbudakan memang ada di mana-mana di abad ketujuh. Masalahnya adalah teks ini tidak sekadar mencatat fakta; ia memberikan legitimasi religius atas akses seksual terhadap perempuan yang diperoleh sebagai hasil perang, tanpa memerlukan persetujuan mereka.
Tidak ada cara untuk menetralkan klausul ini dengan kontekstualisasi. Memberikan legitimasi religius atas hubungan seksual non-konsensual adalah sesuatu yang tidak bisa dibenarkan terlepas dari kapan teks itu ditulis. Konteks menjelaskan mengapa klaim ini muncul, ia tidak membuat klaim itu benar.
Model manusia Al-Ma'arij
Al-Ma'arij membangun model manusia yang spesifik: dasarnya gelap, mengeluh, kikir, bersedia mengkhianati keluarga. Di atas dasar itu, ritual dan kepatuhan bertindak sebagai pengekang yang membuat manusia bisa fungsional. Tanpa sistem itu, manusia kembali ke kondisi dasarnya yang buruk.
Pandangan ini tentang kemanusiaan bukan hanya pesimistis, ia secara struktural menempatkan manusia dalam posisi yang membutuhkan kendali eksternal. Dan kendali eksternal itu disediakan oleh sistem yang juga mendefinisikan siapa yang berhak ke surga, siapa yang tidak, dan siapa yang boleh diakses secara seksual tanpa persetujuan.
Surat yang dimulai dengan skala kosmik lima puluh ribu tahun berakhir dengan daftar kriteria yang sangat spesifik dan beberapa di antaranya sangat bermasalah. Jarak antara keduanya adalah seberapa jauh teks ini bersedia berjalan untuk memberi legitimasi pada aturan yang sangat konkret tentang tubuh, seksualitas, dan kepatuhan.
Dukung Qurai
Dukung kerja sunyi di balik setiap tulisan.
Di balik tiap tulisan ada proses membaca, membandingkan, dan merapikan jejak. Setiap dukungan ikut menjaga proses itu tetap berjalan.