QS 070 · Al-Ma'arij 70:1-44 · Makkiyah · 12 menit
Al-Ma'arij: Lima Puluh Ribu dan Seribu
Surat ini menyebut satu hari yang lamanya lima puluh ribu tahun. Surat lain menyebut satu hari di sisi Tuhan sama dengan seribu tahun. Dua angka itu untuk hal yang mirip, ada di kitab yang sama, dan selisihnya lima puluh kali lipat. Cara penafsir menutup selisih itu lebih menerangkan daripada angkanya sendiri.
Lima puluh ribu dan seribu
menyebut angkanya: para malaikat dan Jibril naik menghadap kepada-Nya dalam sehari yang kadarnya lima puluh ribu tahun.
menyebut angka lain: Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian urusan itu naik kepada-Nya dalam satu hari yang kadarnya seribu tahun menurut perhitungan kalian. menyebut angka yang sama, yaitu sehari di sisi Tuhan seperti seribu tahun menurut perhitungan manusia.
Jalan yang ditempuh penafsir bermacam-macam. Sebagian menyatakan yang lima puluh ribu itu hari kiamat sedangkan yang seribu itu hari pengaturan urusan. Sebagian menyatakan angkanya bukan hitungan melainkan cara menyebut sesuatu yang sangat lama. Sebagian lagi menyatakan lamanya berbeda-beda menurut siapa yang menjalaninya.
Ketiga jalan itu bisa dipakai, dan tidak satu pun berasal dari ayatnya. Yang menetapkan bahwa angka pertama merujuk peristiwa yang berbeda dari angka kedua bukan Al-Qur'an, melainkan orang yang membacanya sesudah selisihnya kelihatan.
Angka seribu tahun itu juga punya nasib tersendiri di sini. Dalam ceramah tentang keajaiban ilmiah, kalimat itu dikaitkan dengan pemuluran waktu dalam fisika modern sebagai bukti bahwa ilmu baru menyusul apa yang sudah disebut lebih dulu. Ada satu angka lagi di surat ini yang seharusnya ikut dihitung, dan angka itu tidak pernah dibawakan. Kalimat yang sangat mirip juga sudah lebih dulu ada di Mazmur. Cara membaca semacam itu sudah dibongkar lebih rinci di Mukjizat Ilmiah Al-Qur'an.
Anak yang ditawarkan sebagai tebusan
menggambarkan orang berdosa yang ingin menebus dirinya: dia ingin sekiranya dapat menebus dirinya dari azab hari itu dengan anak-anaknya, dan istrinya, dan saudaranya, dan kaum kerabatnya yang melindunginya, dan orang-orang di bumi seluruhnya, kemudian mengharapkan itu menyelamatkannya.
Yang dikerjakan urutannya menaikkan taruhan setahap demi setahap, dari yang paling dekat ke yang paling jauh. Anak lebih dulu, lalu istri, lalu saudara, lalu seluruh isi bumi.
Gambaran ini mempan karena semua orang tahu urutannya seharusnya terbalik. Soalnya bukan kekejaman: ketakutannya sampai membalik urutan yang paling dasar pada manusia. Dan justru karena itu, gambarannya lebih menerangkan tentang besarnya ancaman yang sedang dipasang daripada tentang orang yang digambarkannya.
Manusia yang disebut diciptakan gelisah
memuat keterangan yang jarang bandingnya: sesungguhnya manusia diciptakan bersifat gelisah, apabila ditimpa kesusahan dia berkeluh kesah, dan apabila mendapat kebaikan dia amat kikir.
Sebagai pengamatan, kalimat ini tepat dan bisa diperiksa siapa saja tanpa perlu menerima apa pun tentang asalnya. Orang memang cenderung mengeluh waktu susah dan menahan waktu berlebih, dan pengamatan semacam itu bertahan di semua zaman.
Yang kurang berjalan mulus kata pertamanya, yaitu diciptakan. Kalau sifat itu bawaan yang dipasang sejak awal, celaan yang datang sesudahnya kehilangan sasaran, sebab yang dicela bukan pilihan orangnya.
Ayat 22 menyediakan pintu keluarnya: kecuali orang-orang yang mengerjakan salat. Jadi sifat bawaan itu bisa dilawan, dan yang membedakan orang bukan bawaannya melainkan apa yang dikerjakannya terhadap bawaan itu. Susunan ini lebih bisa dipertahankan, dan ongkosnya kata diciptakan di ayat 19 jadi lebih longgar artinya daripada bunyinya.
Kecuali terhadap yang dimiliki tangan kanan
memuat salah satu syarat dalam daftar orang yang dikecualikan: dan orang-orang yang memelihara kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau hamba sahaya yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tidak tercela.
Kalimat yang sama muncul di dengan susunan kata yang hampir tidak berbeda. Pengulangan itu menunjukkan bentuknya sudah baku, bukan jawaban atas satu keadaan.
Isinya menempatkan hubungan dengan perempuan yang berstatus budak di kedudukan yang sama dengan pernikahan, dan itu bukan pembacaan yang perlu dipaksakan, sebab ayatnya menyebut keduanya berturut-turut sebagai dua hal yang sama-sama tidak tercela.
Perbudakan tidak dilarang di mana pun di Al-Qur'an, dan yang ada aturan yang mengurangi akibatnya, seperti anjuran memerdekakan sebagai tebusan pelanggaran. Di sini penghapusannya datang dari undang-undang dan tekanan dari luar, bukan dari ayat, dan sejarah itu jarang disebutkan waktu ayat semacam ini dibacakan.
Tempat-tempat naik
memberi nama surat ini: dari Allah yang mempunyai tempat-tempat naik. Kata yang dipakai al-ma'arij, dan akarnya sama dengan kata mikraj.
Gambaran yang dipakai bertingkat: ada tempat yang di atas, ada jalan naik ke sana, dan ada yang menempuhnya. Bentuk itu meresap sampai ke bahasa sehari-hari di sini, dan orang menyebut doa naik, pahala diangkat, dan derajat ditinggikan tanpa merasa sedang memakai kiasan ruang.
Dukung Qurai
Dukung kerja sunyi di balik setiap tulisan.
Di balik tiap tulisan ada proses membaca, membandingkan, dan merapikan jejak. Setiap dukungan ikut menjaga proses itu tetap berjalan.