← Bedah Surat

QS 075  ·  Al-Qiyamah 75:1-40  ·  Makkiyah  ·  10 menit

Al-Qiyamah: Empat Ayat yang Bicara kepada Penerimanya

Di tengah surat tentang hari kebangkitan, ada empat ayat yang tiba-tiba bicara kepada orang yang sedang menerima bacaannya, bukan kepada orang yang membacanya. Isinya menyuruh dia berhenti menggerakkan lidah untuk mendahului. Empat ayat itu tetap ada di dalam bacaan sampai sekarang, dan yang ditunjukkannya lebih banyak daripada isinya.

Empat ayat yang bicara kepada penerimanya

memotong pembicaraan tentang kiamat dengan sesuatu yang isinya sama sekali lain: janganlah engkau gerakkan lidahmu untuk membaca Al-Qur'an karena hendak cepat-cepat menguasainya, sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya dan membacakannya, apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu, kemudian sesungguhnya atas tanggungan Kamilah penjelasannya.

Yang diajak bicara di sini bukan pembaca, bukan penentang, dan bukan orang beriman pada umumnya. Yang diajak bicara satu orang yang sedang menerima, dan yang ditegur kebiasaannya mengulang cepat-cepat supaya tidak lupa.

Sebelum dan sesudah empat ayat ini, isinya tentang hari kiamat dan tidak ada hubungannya. Ayat 15 masih tentang manusia yang mengemukakan alasannya, dan ayat 20 kembali ke celaan bahwa manusia mencintai yang cepat.

Yang tersingkap dari letak itu satu hal yang biasanya tidak dibicarakan: sebuah teguran yang sifatnya sementara dan ditujukan kepada satu orang ikut masuk ke dalam bacaan tetap, dan tidak dikeluarkan sesudah keperluannya lewat. Susunan seperti ini muncul juga di beberapa tempat lain, seperti teguran tentang orang buta di Abasa.

Bagi pembaca yang menerima seluruhnya, ini bagian dari cara Allah mengajar dan sekaligus bukti bahwa naskahnya tidak disaring. Bagi yang memeriksanya dari luar, ini jahitan yang kelihatan, yaitu bekas proses penyusunan yang tidak dirapikan. Dua pembacaan itu memakai bahan yang sama, dan dua-duanya sepakat pada satu hal: yang di depan mata bukan naskah yang disusun rapi dari awal ke akhir.

Ujung jari

mengajukan pertanyaan dan jawabannya: apakah manusia mengira bahwa Kami tidak akan mengumpulkan kembali tulang belulangnya, bukan demikian, sesungguhnya Kami berkuasa menyusun kembali ujung jari-jarinya dengan sempurna.

Kalimat ini sering diajukan sebagai isyarat tentang sidik jari, dengan alasan bahwa yang disebut ujung jari padahal yang dibicarakan tulang.

Bacaan itu punya kesulitannya sendiri. Kata banan dipakai untuk jari atau ujung jari, dan susunan ayatnya menyusun dari yang besar ke yang kecil: kalau tulang yang besar saja bisa dikumpulkan, apalagi bagian terkecilnya. Yang ditekankan kelengkapan penyusunan, bukan ciri khas yang membedakan orang.

Dan sidik jari sebagai penanda diri baru dipakai secara sistematis pada akhir abad kesembilan belas. Pembacaan yang mengaitkannya baru mungkin muncul sesudah itu, dan tidak ada penafsir sebelumnya yang sampai ke sana. Pola membaca semacam ini berulang di banyak ayat, dan bentuknya sudah dibongkar tersendiri di Mukjizat Ilmiah Al-Qur'an.

Jiwa yang mencela dirinya sendiri

memuat sumpah yang tidak biasa: dan aku bersumpah demi jiwa yang amat menyesali dirinya sendiri.

Istilah yang dipakai an-nafs al-lawwamah, dan dari istilah ini tumbuh salah satu susunan yang paling dikenal dalam tradisi kejiwaan Islam, yaitu tiga tingkat jiwa: yang menyuruh keburukan, yang mencela diri sendiri, dan yang tenang.

Susunan tiga tingkat itu sendiri tidak ada di Al-Qur'an sebagai satu rangkaian. Ketiga istilahnya tersebar di tiga surat yang berbeda dan tidak pernah disebut bersama. Yang menyusunnya jadi tangga bertingkat penulis belakangan, terutama dalam tradisi tasawuf, dan susunan itu sekarang diajarkan di banyak pengajian dan buku laris tentang penyucian jiwa seolah datang utuh dari satu tempat.

Wajah yang memandang Tuhannya

memuat dua baris pendek: wajah-wajah pada hari itu berseri-seri, kepada Tuhannyalah mereka memandang.

Dua baris itu jadi salah satu pokok perselisihan terbesar dalam sejarah teologi Islam. Pertanyaannya sederhana bunyinya: apakah Allah bisa dilihat mata.

Satu pihak menjawab bisa, dengan bersandar terutama pada ayat ini dan sejumlah riwayat. Pihak lain menjawab tidak, dengan bersandar pada yang menyatakan Dia tidak dapat dicapai penglihatan, dan membaca kata memandang di sini sebagai menunggu atau mengharap, sebab akar katanya memang bisa berarti begitu.

Perselisihan itu tidak selesai dan tidak akan selesai lewat naskahnya, sebab dua ayat yang berbeda sama-sama tersedia dan dua bacaan kata nazhara sama-sama sah dalam bahasa Arab. Pilihan tiap pihak tidak ditentukan bacaan katanya, tapi pandangan yang sudah dipegang lebih dulu tentang apakah Tuhan boleh diterangkan dengan kata-kata yang dipakai untuk benda. Di sini perbedaan itu masuk ke pelajaran akidah di madrasah, dan murid biasanya menerima satu jawaban tanpa diberi tahu bahwa ada jawaban lain yang sama tuanya.

Matahari dan bulan yang dikumpulkan

menggambarkan tanda hari itu: dan apabila bulan telah hilang cahayanya, dan matahari serta bulan dikumpulkan.

Gambarannya bertumpu pada pengamatan yang wajar bagi siapa pun yang melihat langit, yaitu dua benda terang yang biasanya berjauhan lalu bertemu. Yang tidak dibicarakan cara keduanya dikumpulkan, dan penafsir mengisinya dengan berbagai keterangan yang semuanya datang dari luar ayatnya.

Bagikan artikel

Bantu tulisan ini menemukan pembaca yang tepat.

Dukung Qurai

Dukung kerja sunyi di balik setiap tulisan.

Di balik tiap tulisan ada proses membaca, membandingkan, dan merapikan jejak. Setiap dukungan ikut menjaga proses itu tetap berjalan.

Dukung via Saweria