QS 043 · Az-Zukhruf 43:1-89 · Makkiyah · 13 menit
Az-Zukhruf: Ketimpangan yang Disebut Rancangan
Surat ini menerangkan kenapa sebagian orang kaya dan sebagian miskin, dan jawabannya bukan kebetulan atau ketidakadilan. Kami tinggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, supaya sebagian bisa mempekerjakan sebagian yang lain. Ketimpangan disebut sebagai rancangan, dan gunanya disebut terang-terangan.
Ketimpangan sebagai rancangan
memuatnya lengkap: apakah mereka yang membagi rahmat Tuhanmu? Kami telah membagi antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, supaya sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain.
Kalimat terakhir itu menyebut gunanya. Susunan bertingkat itu ada supaya ada yang bisa memakai tenaga orang lain.
Sebagai keterangan tentang cara kerja masyarakat, ini tidak keliru. Pembagian kerja memang menuntut ada yang menyuruh dan ada yang dikerjakan, dan tidak ada masyarakat besar yang bisa jalan tanpa itu.
Yang berbeda status kalimatnya. Yang dinyatakan bukan begitulah yang terjadi, melainkan begitulah yang dikehendaki. Dan susunan yang dinyatakan dikehendaki susah sekali dipersoalkan, sebab mempersoalkannya berubah jadi mempersoalkan yang menghendaki.
Ayat ini termasuk yang paling sering muncul di ceramah tentang menerima keadaan, dan hampir selalu dibawakan di depan pendengar yang berada di derajat bawah. Di pengajian kampung, potongan supaya sebagian mempergunakan sebagian yang lain jarang ikut dibacakan.
Tumbuh dalam perhiasan
menyusun bantahan terhadap orang Arab yang menisbahkan anak perempuan kepada Allah sementara mereka sendiri kecewa kalau dikaruniai anak perempuan.
Bantahannya tepat sasaran, dan sindirannya bagus: kalian tidak menyukai apa yang kalian tempelkan kepada Tuhan kalian sendiri.
Yang jadi soal cara ayat 18 menyebut anak perempuan itu: apakah patut menjadi anak Tuhan orang yang dibesarkan dalam perhiasan sedangkan dia tidak mampu memberi alasan yang terang dalam perbantahan.
Kalimat itu memakai gambaran rendah tentang perempuan sebagai bahan bantahan. Untuk melawan penghinaan terhadap bayi perempuan, yang dipakai justru anggapan bahwa perempuan memang lemah berdebat dan sibuk dengan perhiasan. Bantahannya menang, dan yang dibela ikut terbawa turun.
Atap perak dan tangga emas
memuat pengandaian yang tidak biasa: kalau bukan karena manusia akan jadi umat yang satu dalam kekafiran, tentu Kami buatkan rumah orang-orang kafir beratap perak, dengan tangga yang mereka naiki, pintu-pintu, dan dipan-dipan tempat mereka bersandar, serta perhiasan emas.
Jadi kemewahan disebut hampir diberikan sebagai tanda bahwa dunia tidak ada harganya, dan tidak jadi cuma karena kalau semua orang kafir kaya raya, semua orang akan ikut kafir.
Ini keterangan yang terus terang tentang pengaruh kekayaan pada orang: yang kelihatan berhasil akan diikuti.
Dan sekaligus menutup satu kemungkinan pembacaan. Kekayaan tidak bisa lagi dipakai sebagai tanda diberkati, sebab di sini kekayaan hampir diberikan justru kepada yang menolak. Yang tidak pernah selesai, di kitab yang sama kelapangan rezeki di tempat lain memang disebut sebagai buah ketaatan.
Kami menemukan bapak-bapak kami begitu
merekam alasan penolakan yang paling sering muncul: sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama, dan sesungguhnya kami adalah orang-orang yang mendapat petunjuk dengan mengikuti jejak mereka.
Lalu ditambahkan bahwa alasan yang sama diucapkan orang kaya di tiap negeri yang pernah didatangi pemberi peringatan.
Kritiknya kuat dan berlaku umum. Mewarisi keyakinan dari orang tua bukan alasan untuk menganggapnya benar, dan itu berlaku untuk agama mana pun.
Termasuk untuk yang mengucapkannya. Sebagian besar orang Islam di dunia hari ini beragama Islam karena lahir di keluarga Islam, persis seperti orang Mekah yang dikritik ayat ini. Kritik yang dipasang di situ tidak pernah dibatasi supaya cuma berlaku ke satu arah.
Isa yang dipakai untuk mendiamkan
menceritakan reaksi orang waktu Isa dijadikan perumpamaan: kaummu bersorak-sorai karenanya, dan mereka berkata, manakah yang lebih baik, tuhan-tuhan kami atau dia?
Ayatnya menutup dengan penilaian: mereka tidak memberikan perumpamaan itu kepadamu melainkan untuk membantah saja, sebenarnya mereka kaum yang suka bertengkar.
Susunan ini muncul berulang di banyak surat: keberatan lawan bicara direkam, lalu maksudnya dinilai sebelum isinya dijawab.
Dan penilaian itu tidak bisa diperiksa siapa pun. Orang yang membantah memang bisa saja cuma ingin menang, dan bisa juga benar-benar bertanya. Sesudah niatnya dinyatakan buruk, isi pertanyaannya tidak perlu lagi dijawab, dan yang sedang bertanya dengan tulus ikut kena.
Dukung Qurai
Dukung kerja sunyi di balik setiap tulisan.
Di balik tiap tulisan ada proses membaca, membandingkan, dan merapikan jejak. Setiap dukungan ikut menjaga proses itu tetap berjalan.