← Bedah Surat

QS 066  ·  At-Tahrim 66:1-12  ·  Madaniyah  ·  11 menit

At-Tahrim: Pertengkaran Rumah Tangga yang Dicatat Jadi Firman

Ada satu surat di Al-Qur'an yang isinya perselisihan di dalam satu rumah tangga, lengkap dengan rahasia yang bocor, dua orang yang ditegur, dan ancaman diganti dengan istri yang lebih baik. Bahasannya pertengkaran antara seorang suami dan istri-istrinya, bukan umat, bukan perang, dan bukan hukum.

Perselisihan yang dicatat sebagai firman

membuka dengan teguran kepada nabinya sendiri: hai Nabi, mengapa engkau mengharamkan apa yang Allah halalkan bagimu, engkau mencari kesenangan hati istri-istrimu.

Ayat 3 melanjutkan ke kejadiannya: dan ingatlah ketika Nabi membicarakan suatu rahasia kepada salah seorang istrinya, lalu istri itu menceritakannya, dan Allah memberitahukan hal itu kepadanya.

Al-Qur'an tidak menyebut apa yang diharamkan dan tidak menyebut nama siapa pun. Yang mengisinya riwayat, dan riwayatnya bercabang dua. Yang satu menyebut madu yang diminum di rumah salah satu istri lalu diadukan baunya. Yang satu lagi menyebut Mariyah, seorang perempuan Koptik yang dihadiahkan penguasa Mesir. Nama Hafsah dan Aisyah baru muncul di riwayat, bukan di ayatnya.

Yang membuat bagian ini tidak biasa bukan isi perselisihannya, sebab perselisihan semacam ini ada di rumah mana pun. Yang tidak biasa perpindahan tingkatannya. Perkara yang biasanya selesai di antara orang-orang yang terlibat berpindah jadi kalimat yang dibaca berabad-abad sesudahnya oleh orang yang tidak ada hubungannya dengan siapa pun di dalamnya.

Dan perpindahan itu punya akibat yang tidak bisa dibalik. Sesudah satu pihak dibenarkan lewat wahyu, tidak ada lagi bentuk perselisihan yang tersedia bagi pihak yang lain, sebab yang dihadapinya bukan lagi suaminya.

Yang berdiri di belakang satu pihak

menyebut siapa saja yang berada di pihak yang satu: kalau kalian berdua bertobat kepada Allah, maka hati kalian berdua memang telah condong, dan kalau kalian berdua saling membantu untuk menyusahkannya, maka sesungguhnya Allah adalah pelindungnya, dan Jibril, dan orang-orang mukmin yang saleh, dan selain itu para malaikat menjadi penolongnya.

Daftarnya panjang dan disebut satu per satu. Di seberangnya dua orang perempuan.

Susunan itu menutup perselisihan, bukan menyelesaikannya. Perselisihan bisa diselesaikan kalau dua pihak sama-sama punya alasan yang bisa didengar. Begitu satu pihak dinyatakan didukung Allah, Jibril, orang saleh, dan seluruh malaikat, yang tersisa buat pihak lain cuma mengalah, dan mengalah dalam keadaan itu tidak sama dengan sepakat.

Ancaman diganti dengan yang lebih baik

menyebut kemungkinan yang disiapkan: boleh jadi Tuhannya kalau menceraikan kalian akan memberi ganti kepadanya dengan istri-istri yang lebih baik dari kalian, yang patuh, yang beriman, yang taat, yang bertobat, yang beribadah, yang berpuasa, janda dan perawan.

Bentuknya bukan hukuman dan bukan perintah, melainkan pemberitahuan tentang apa yang tersedia. Isinya menyatakan bahwa pihak yang sedang berselisih itu bisa diganti, dan penggantinya sudah dirinci sifatnya sampai ke status pernikahan sebelumnya.

Kalimat semacam ini terus dipakai di tempat yang bunyinya lebih halus. Dalam nasihat pernikahan, istri yang dianggap membantah sering diingatkan bahwa keridaan suami menentukan nasibnya di akhirat, dan pengingat itu selalu berjalan satu arah.

Ayat 6 jarang ikut dibaca, padahal datang persis sesudahnya dan justru membebani pihak yang satunya lagi. Perintah menjaga diri dan keluarga dari api ditujukan kepada semua orang beriman, bukan kepada istri saja, dan itu membuat susunan ayat 5 dan 6 tidak berjalan ke arah yang sama.

Jagalah dirimu dan keluargamu dari api

memuat kalimat yang paling sering diambil dari surat ini: hai orang-orang beriman, peliharalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu.

Kalimat itu punya umur panjang di sini. Terpasang di brosur pesantren, jadi judul seminar keluarga sakinah, dan hampir selalu muncul di ceramah tentang mendidik anak.

Letak ayatnya mengundang pertanyaan. Ayat ini berdiri persis di tengah rangkaian tentang perselisihan rumah tangga, dan yang diperintahkan menjaga adalah orang yang beberapa ayat sebelumnya diberi keterangan bahwa istrinya bisa diganti.

Dibaca sebagai perintah tersendiri, ayat ini menaruh tanggung jawab pada kepala keluarga dan itu masuk akal di susunan sosial mana pun. Yang berubah cuma ukuran keberhasilannya. Penjagaannya diarahkan ke keadaan anggota keluarga di akhirat, bukan keselamatan mereka di dunia, dan ukuran itu tidak bisa diperiksa siapa pun waktu masih bisa diperbaiki.

Empat perempuan di penutup

menutup surat dengan empat perempuan. Istri Nuh dan istri Lut disebut sebagai contoh orang yang berada di rumah orang saleh dan tetap berkhianat. Istri Firaun dan Maryam disebut sebagai contoh sebaliknya.

Susunannya rapi dan pesannya jelas: hubungan darah dan pernikahan tidak menentukan apa-apa, dan itu berlaku dua arah. Perempuan di rumah nabi bisa celaka, perempuan di rumah Firaun bisa selamat.

Di sini istri Firaun punya nasib yang bagus. Namanya tidak ada di Al-Qur'an dan datang dari riwayat sebagai Asiyah, dan nama itu jadi salah satu nama anak perempuan yang lazim dipakai. Yang jarang disebut waktu ceritanya dibawakan, keempat perempuan itu ditaruh di penutup surat yang isinya perselisihan antara seorang nabi dan istri-istrinya, dan letak itu membuat contohnya terbaca lebih tajam daripada kalau berdiri sendiri.

Bagikan artikel

Bantu tulisan ini menemukan pembaca yang tepat.

Dukung Qurai

Dukung kerja sunyi di balik setiap tulisan.

Di balik tiap tulisan ada proses membaca, membandingkan, dan merapikan jejak. Setiap dukungan ikut menjaga proses itu tetap berjalan.

Dukung via Saweria