← Bedah Surat

QS 017  ·  Al-Isra 17:1-111  ·  Makkiyah  ·  14 menit

Al-Isra': Aturan Berpikir dan Pembukaannya Sendiri

Di tengah surat ini ada satu kalimat yang bunyinya seperti aturan berpikir: jangan mengikuti sesuatu yang kamu tidak punya pengetahuan tentangnya. Kalimat itu tajam, berlaku umum, dan bisa dipakai siapa saja. Persoalannya, surat yang sama dibuka dengan peristiwa yang tidak bisa diperiksa siapa pun, tidak waktu itu dan tidak sekarang.

Aturan yang dipasang sendiri

berbunyi singkat: dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Lanjutannya menyebut pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya akan dimintai pertanggungjawaban.

Sedikit sekali kalimat di kitab suci mana pun yang sedekat ini dengan cara berpikir yang menuntut bukti. Larangannya jatuh pada menerima tanpa dasar, bukan pada bertanya.

Kalimat itu tidak dipagari dengan pengecualian apa pun di ayatnya. Tidak ada keterangan bahwa aturannya cuma berlaku untuk urusan duniawi, atau cuma untuk gosip antar tetangga.

Peristiwa yang tidak punya saksi

membuka surat dengan perjalanan malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa. Satu ayat saja, tanpa rincian, tanpa waktu tempuh, dan tanpa seorang pun yang ikut.

Yang bisa diperiksa dari peristiwa semacam itu tidak ada. Bukan karena orang zaman itu malas memeriksa, tapi karena bentuk peristiwanya memang tidak menyediakan apa pun untuk diperiksa. Satu orang berangkat sendirian di malam hari dan kembali sebelum pagi.

Riwayat sesudahnya menambahkan banyak sekali bahan yang tidak ada di ayat ini: Buraq, tingkatan langit, pertemuan dengan nabi-nabi terdahulu, dan tawar-menawar jumlah salat. Semua itu datang dari , bukan dari surat ini, dan perbedaan antara keduanya ditelusuri di Malam yang Diceritakan Berbeda.

Jadi surat yang melarang mengikuti apa yang tidak diketahui dibuka dengan satu-satunya jenis peristiwa yang tidak bisa diketahui siapa pun selain pelakunya. Catatan ini tidak menuduh peristiwanya tidak terjadi. Pokoknya satu: aturan di ayat 36 tidak bisa dipakai untuk ayat 1, dan suratnya tidak menerangkan kenapa begitu.

Aturan yang masih terpakai sampai sekarang

sampai menyusun daftar yang isinya masih berlaku hampir seluruhnya. Jangan berkata ah kepada orang tua yang sudah lanjut usia. Berikan hak kerabat, orang miskin, dan orang dalam perjalanan. Jangan boros. Jangan membunuh anak karena takut miskin. Penuhi takaran dan timbangan. Jangan berjalan di bumi dengan sombong.

Ini bagian terkuat surat ini, dan tidak perlu dibela dengan penafsiran apa pun. Kalimat tentang tidak boleh berkata ah kepada orang tua bahkan lebih halus daripada yang biasa dituntut hukum mana pun, dan di sini kalimat itu memang dipakai: dikutip di khotbah Jumat, ditempel di dinding sekolah, dan diingatkan tiap kali ada orang tua dititipkan ke panti.

Kekuatannya justru datang dari tempat yang tidak disangka. Hampir semua isi daftar itu bisa diterima orang tanpa lebih dulu menerima klaim di ayat pertama. Pedagang di pasar yang tidak percaya pada perjalanan malam tetap setuju bahwa timbangan tidak boleh dicurangi, dan pembelinya juga.

Dan sebagian kecilnya memang tidak ikut bertahan. mengatur balasan bagi pembunuhan lewat wali korban, cara yang sudah lama digantikan pengadilan di hampir semua tempat, termasuk di sini.

Negeri yang dihancurkan sebagai kebijakan

menerangkan cara kerjanya: apabila Kami hendak membinasakan suatu negeri, Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu supaya menaati Allah, lalu mereka melakukan kedurhakaan, maka pantaslah berlaku ketetapan atas negeri itu.

Bagian yang jarang dibaca pelan-pelan adalah urutannya. Kehendak membinasakan disebut lebih dulu, perintah menaati datang sesudahnya, dan pelanggarannya menyusul.

Penafsir menempuh berbagai jalan untuk membalik urutan itu, biasanya dengan membacanya sebagai keterangan tentang apa yang akan terjadi, bukan tentang apa yang dikehendaki lebih dulu. Yang menyulitkan cuma satu, bunyi kalimatnya tidak menyediakan pembalikan itu.

Pertanyaan yang ditutup, bukan dijawab

merekam sebuah pertanyaan dan jawabannya sekaligus: mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah, ruh itu termasuk urusan Tuhanku, dan kalian tidak diberi pengetahuan kecuali sedikit.

Kalimat itu tidak menjawab. Isinya pemberitahuan bahwa jawabannya tidak akan diberikan. Dan cara menutupnya sekaligus menaruh beban pada yang bertanya: kalian memang tidak diberi banyak pengetahuan.

Kalau digabung dengan , susunannya jadi tidak seimbang. Orang dilarang mengikuti sesuatu yang tidak diketahuinya, sementara pertanyaannya tentang hal yang ingin diketahui dijawab dengan keterangan bahwa dia memang tidak akan tahu.

Kitab yang lebih kuat di bagian tengahnya

Kalau Al-Isra dinilai dengan ukurannya sendiri, hasilnya terbelah. Bagian tengahnya, daftar aturan sosial itu, lolos dengan mudah karena isinya bisa diperiksa siapa saja terhadap pengalaman hidup sendiri.

Bagian pembuka dan bagian tentang ruh tidak bisa masuk ke ukuran yang sama, dan surat ini tidak menyediakan ukuran cadangan buat keduanya. Yang tersisa cuma pilihan pembacanya: memakai ayat 36 untuk seluruh isinya, atau memakainya untuk sebagian saja dan mengakui bahwa pengecualiannya dibuat sendiri.

Bagikan artikel

Bantu tulisan ini menemukan pembaca yang tepat.

Dukung Qurai

Dukung kerja sunyi di balik setiap tulisan.

Di balik tiap tulisan ada proses membaca, membandingkan, dan merapikan jejak. Setiap dukungan ikut menjaga proses itu tetap berjalan.

Dukung via Saweria