QS 030 · Ar-Rum 30:1-60 · Makkiyah · 13 menit
Ar-Rum: Satu-satunya Ramalan yang Punya Tenggat
Hampir seluruh isi Al-Qur'an tidak bisa dibuktikan salah oleh peristiwa apa pun. Ar-Rum satu-satunya yang keluar dari kebiasaan itu. Di empat ayat pembukanya ada ramalan tentang perang antara dua kerajaan besar, lengkap dengan batas waktunya. Ramalan yang punya tenggat bisa meleset, dan justru karena itu surat ini yang paling layak diperiksa.
Ramalan yang punya tenggat
berbunyi: telah dikalahkan bangsa Romawi di negeri yang terdekat, dan mereka sesudah dikalahkan itu akan menang dalam beberapa tahun lagi.
Kata yang diterjemahkan beberapa tahun itu bid' dalam bahasa aslinya, dan kamus Arab memberinya rentang tiga sampai sembilan tahun.
Yang jadi latar peristiwanya nyata dan bisa dicek di luar kitabnya. Persia merebut Yerusalem dari Bizantium pada 614, dan Heraklius baru mengalahkan Persia di Niniwe pada akhir 627.
Selisihnya tiga belas tahun. Kalau ayat itu turun tidak lama sesudah kekalahan 614, tenggat tiga sampai sembilan tahun lewat sebelum kemenangannya datang. Penafsir menyelesaikan ini dengan menggeser tanggal turunnya lebih belakangan, atau menghitung kemenangannya dari pertempuran yang lebih awal. Penyesuaian itu mungkin benar, dan sekaligus memperlihatkan sesuatu: begitu sebuah tenggat bisa digeser sesudah kejadiannya, tenggat itu tidak lagi bisa dipegang sebagai tenggat.
Dua bacaan yang berlawanan arah
Ada persoalan yang lebih dalam lagi di ayat ini, dan letaknya di tulisannya sendiri. Naskah Arab paling awal ditulis tanpa titik pembeda huruf dan tanpa tanda vokal.
Tanpa tanda itu, satu rangkaian huruf yang sama bisa dibaca dua arah. Bacaan pertama: Romawi telah dikalahkan, dan mereka akan menang. Bacaan kedua: Romawi telah menang, dan mereka akan dikalahkan.
Dua-duanya sah menurut hurufnya, dan dua-duanya tercatat pernah dibaca orang. Naskahnya tidak memutuskan bacaan mana yang dipakai; riwayat lisan dan pilihan pembaca sesudahnya yang memutuskan.
Untuk kitab yang di tempat lain menyatakan dirinya terjaga, ini contoh yang tidak nyaman. Bukan karena hurufnya berubah, tapi karena huruf yang persis sama bisa menghasilkan ramalan yang isinya berlawanan, dan yang memilih di antara keduanya manusia.
Ayat yang dibacakan di hampir semua pernikahan
hampir tidak pernah absen dari undangan pernikahan di sini, dan dibacakan penghulu di depan tamu: dan di antara tanda-tanda-Nya, Dia menciptakan untuk kalian pasangan dari jenis kalian sendiri, supaya kalian merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antara kalian rasa kasih dan sayang.
Yang dijadikan alasan menikah di ayat ini ketenteraman, kasih, dan sayang. Tidak ada keturunan, tidak ada penjagaan kehormatan, dan tidak ada pembagian tugas.
Jarak antara ayat itu dan ceramah pernikahan yang biasanya menyusul lumayan jauh. Yang dibacakan soal ketenangan bersama; yang diuraikan sesudahnya sering kali soal kewajiban istri melayani dan hak suami dipatuhi, yang dasarnya diambil dari ayat lain dan dari .
Ayat ini sendiri tidak menyediakan susunan itu. Kalimatnya menyebut dua pihak yang saling menenangkan, dan arah kalimatnya tidak menunjuk siapa di atas siapa.
Bawaan yang katanya dimiliki semua orang
menyebut fitrah: hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama, sesuai fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu.
Gagasannya, semua orang lahir dengan kecenderungan mengenal satu Tuhan, dan yang membelokkannya lingkungan. Hadis yang sering dipasangkan dengan ayat ini menyebut orang tua yang menjadikan anaknya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.
Ini keterangan tentang manusia yang bisa diperiksa, dan hasil pemeriksaannya tidak sederhana. Anak-anak memang cenderung menganggap benda punya maksud dan kejadian punya tujuan, dan itu ditemukan berulang kali di banyak tempat.
Tapi kecenderungan yang sama juga melahirkan roh penunggu pohon, arwah leluhur, dan banyak dewa sekaligus, bukan satu Tuhan. Di Nusantara kecenderungan itu berjalan ribuan tahun dan hasilnya bukan .
Kalau bawaan itu memang ada, bentuknya lebih dekat ke kecenderungan mencari maksud di balik kejadian daripada ke tauhid. Dan kecenderungan itu jadi tauhid cuma di tempat yang sudah diajari tauhid.
Kerusakan yang disebut ulah tangan manusia
memuat kalimat yang sekarang gampang sekali dipakai: telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia.
Dalam bahasa aslinya, kata yang dipakai buat kerusakan itu punya jangkauan luas, dari kekacauan sosial sampai kebinasaan, dan penafsir klasik hampir semuanya membacanya sebagai kerusakan moral dan kekacauan, bukan kerusakan alam.
Sekarang ayat ini muncul di spanduk gerakan lingkungan, di khotbah tentang sampah plastik, dan di kampanye penanaman pohon. Pemakaian itu tidak salah arah, dan mungkin justru yang paling berguna dari seluruh ayatnya.
Harus diakui, pemakaian itu baru, dan bukan yang dimaksud pembaca pertamanya. Sama seperti ayat embriologi dan ayat langit yang menyatu, kecocokannya ditemukan sesudah persoalannya muncul, bukan sebelumnya.
Dukung Qurai
Dukung kerja sunyi di balik setiap tulisan.
Di balik tiap tulisan ada proses membaca, membandingkan, dan merapikan jejak. Setiap dukungan ikut menjaga proses itu tetap berjalan.