← Bedah Surat

QS 081  ·  At-Takwir 81:1-29  ·  Makkiyah  ·  10 menit

At-Takwir: Kosmologi Kuno, Unta Bunting, dan Infantisida yang Hanya Jadi Pertanyaan

At-Takwir membuka dengan dua belas gambaran kiamat berturut-turut, matahari digulung, bintang berjatuhan, gunung dihancurkan, unta bunting ditinggalkan, binatang liar dikumpulkan, sebelum tiba pada satu pertanyaan: maka setiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakannya. Gambaran-gambaran itu bukan dekorasi; ia adalah daftar tanda yang mencerminkan kosmologi dan kehidupan sehari-hari masyarakat Arab abad ketujuh, bukan tanda-tanda universal.

Peta Masalah

Surat ini memuat kosmologi kuno yang tidak sesuai dengan astronomi modern, tanda-tanda kiamat yang sangat Arab-sentris sehingga tidak relevan secara universal, infantisida bayi perempuan yang hanya dijadikan pertanyaan hari kiamat tanpa kecaman tegas, legitimasi Al-Qur'an melalui sumpah fenomena alam yang tidak membuktikan apa pun, klaim pengalaman pribadi Muhammad melihat Jibril sebagai bukti yang tidak bisa diverifikasi, dan kontradiksi kehendak bebas yang kembali muncul di ayat terakhir.

Kosmologi kuno dan tanda-tanda yang tidak universal

mendaftar tanda-tanda kiamat: matahari digulung, bintang berjatuhan, gunung dihancurkan, unta-unta bunting ditinggalkan tidak terurus, binatang liar dikumpulkan, lautan dipanaskan. Enam gambaran pertama mencerminkan pemahaman kosmologis kuno yang tidak bisa direkonsiliasi dengan astronomi modern.

Matahari tidak 'digulung', ia adalah bola plasma berdiameter 1,4 juta kilometer yang tidak memiliki permukaan yang bisa digulung. Bintang-bintang tidak 'berjatuhan', jarak antara bintang terdekat dengan Bumi adalah 4,2 tahun cahaya. Gambaran ini berasal dari pemahaman tentang langit sebagai permadani yang bisa digulung dan bintang sebagai lampu yang bisa dipadamkan.

Yang lebih menarik adalah unta bunting yang ditinggalkan. Unta bunting adalah aset paling berharga dalam kehidupan nomaden Arab. Meninggalkannya tanpa penjagaan adalah gambaran malapetaka total dalam konteks budaya tertentu, tapi bagi masyarakat yang tidak memiliki unta, gambaran ini tidak memiliki resonansi emosional yang sama. Tanda kiamat yang relevan hanya dalam satu konteks budaya adalah tanda yang sangat terikat pada lokalitas, bukan tanda yang universal.

Infantisida yang hanya jadi pertanyaan

menyebut mawudah, bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup, sebagai bagian dari gambaran hari kiamat: dan apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya, karena dosa apa dia dibunuh?

Teks ini mengakui bahwa praktek infantisida bayi perempuan terjadi. Ia menempatkan pertanyaan itu di hari kiamat, seolah ada akuntabilitas yang tertunda. Tapi ia tidak mengutuknya secara langsung sebagai kejahatan. Tidak ada ayat yang menyebut 'dan barangsiapa mengubur bayi perempuan hidup-hidup, ia berdosa besar.' Yang ada adalah gambaran dramatik tentang hari penghakiman.

Respons tertunda kepada korban infantisida bukan pengganti intervensi langsung. Jika teks ini diturunkan sebagai panduan moral, pertanyaan yang wajar adalah mengapa sanksi terhadap pembunuhan bayi perempuan tidak dirumuskan secara eksplisit seperti sanksi terhadap pencurian, zina, atau pembunuhan orang dewasa yang diatur dalam berbagai surat lain. Menempatkan pertanyaan di hari kiamat alih-alih hukum dunia adalah pilihan retoris yang punya konsekuensi.

Sumpah alam sebagai argumen yang tidak membuktikan

bersumpah demi bintang-bintang yang beredar dan terbenam, demi malam yang larut, demi fajar yang menyingsing, untuk menyimpulkan bahwa Al-Qur'an adalah firman Allah yang dibawa oleh Jibril yang mulia.

Tidak ada hubungan logis antara premis (bintang beredar, malam berlalu) dan kesimpulan (Al-Qur'an adalah firman Allah). Sumpah menggunakan fenomena alam yang indah menciptakan kesan keagungan, tapi keindahan fenomena alam tidak membuktikan kebenaran klaim teologis yang mengikutinya.

Fungsi retorisnya adalah asosiasi: Al-Qur'an diletakkan berdekatan dengan hal-hal yang dianggap agung dan tidak terbantahkan, bintang, malam, fajar, sehingga ia menyerap keagungan itu secara asosiatif. Ini adalah teknik persuasi melalui konteks, bukan melalui argumentasi.

Muhammad melihat Jibril: klaim yang tidak bisa diperiksa

membela Muhammad: temanmu itu bukan orang gila, dan sungguh dia telah melihat Jibril di ufuk yang terang. Ini adalah respons terhadap tuduhan bahwa Muhammad gila atau dipengaruhi setan.

Tapi pembelaan ini bersandar sepenuhnya pada klaim pengalaman subjektif yang tidak bisa diverifikasi oleh pihak lain. Bahwa seseorang melihat sesuatu di ufuk yang terang adalah pernyataan tentang pengalaman pribadi, bukan bukti bahwa yang dilihat itu ada secara objektif. Orang yang mengalami halusinasi juga melihat sesuatu yang terasa nyata.

Teks ini tidak menawarkan cara untuk membedakan antara nabi yang benar-benar menerima wahyu dan seseorang yang mengalami pengalaman subjektif yang sangat intens. Satu-satunya argumen yang diberikan adalah karakter Muhammad dan kualitas Al-Qur'an sendiri, keduanya adalah klaim dari dalam sistem yang ingin dibuktikan.

Kehendak bebas yang dicabut, lagi

mengulang pola yang sudah kita lihat di Al-Insan: bagi siapa di antara kamu yang menghendaki menempuh jalan yang lurus, dan kamu tidak dapat menghendaki kecuali apabila dikehendaki Allah.

Dua ayat, dua pernyataan yang saling membatalkan. Ayat 28 menyebut kehendak manusia sebagai kondisi yang menentukan. Ayat 29 menyatakan bahwa kehendak itu sendiri bergantung pada kehendak Allah.

Ini bukan ketegangan teologis yang produktif yang diselesaikan dengan nuansa, ini adalah kontradiksi langsung yang tidak pernah dijawab oleh teks. Sistem yang menghukum manusia atas pilihan yang tidak bisa dilakukan tanpa izin Allah adalah sistem yang logika internalnya tidak konsisten.

Bagikan artikel

Bantu tulisan ini menemukan pembaca yang tepat.

Dukung Qurai

Dukung kerja sunyi di balik setiap tulisan.

Di balik tiap tulisan ada proses membaca, membandingkan, dan merapikan jejak. Setiap dukungan ikut menjaga proses itu tetap berjalan.

Dukung via Saweria