QS 081 · At-Takwir 81:1-29 · Makkiyah · 10 menit
At-Takwir: Pertanyaan yang Diajukan kepada Korban
Di tengah gambaran tentang matahari yang digulung dan bintang yang berjatuhan, surat ini menyisipkan satu pertanyaan yang ditujukan kepada seorang bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup. Yang ditanya bukan orang yang menguburnya, melainkan yang dikubur, dan pilihan itu yang membuat dua ayat ini tidak bisa dilewati.
Pertanyaan yang diajukan kepada korban
menyisipkan dua baris di tengah daftar tanda kiamat: dan apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya, karena dosa apakah dia dibunuh.
Bentuk kalimatnya terbalik dari yang diduga. Yang dihadapkan ke pertanyaan bukan yang menguburnya, dan yang ditanya bukan kenapa kamu membunuh melainkan karena dosa apa dia dibunuh.
Sebagian penafsir membaca susunan itu justru sebagai penajaman. Menanyai korban di depan pembunuhnya menaruh pembunuhnya di posisi yang lebih tidak tertahankan daripada kalau dia yang ditanya langsung, sebab jawabannya tidak ada dan semua orang tahu tidak ada.
Sebagai penolakan terhadap satu kebiasaan, dua ayat ini termasuk yang paling jelas di seluruh Al-Qur'an. Sasarannya tegas, yaitu pembunuhan bayi karena jenis kelaminnya, dan tidak ada pengecualian di mana pun.
Di sini dua ayat itu punya tempat tetap. Dibacakan tiap Hari Ibu, tiap peringatan Kartini, dan hampir selalu muncul di ceramah tentang kedudukan perempuan dalam Islam. Jarang ada yang memeriksa apakah sisa kitab yang sama menepati ukuran yang dipasang di ayat 9, sebab ukuran yang dipasang di situ tinggi sekali: nyawa perempuan yang belum berbuat apa-apa dinyatakan tidak bisa dibenarkan diambil dengan alasan apa pun.
Matahari yang digulung
membuka dengan enam gambaran berurutan: apabila matahari digulung, dan apabila bintang-bintang berjatuhan, dan apabila gunung-gunung dihancurkan.
Kata yang dipakai untuk matahari kuwwirat, yaitu digulung seperti sorban dililitkan. Gambarannya diambil dari pekerjaan tangan, bukan dari pengamatan langit.
Susunan enam gambaran berturut-turut dengan bunyi akhir yang sama membuat bagian ini termasuk yang paling mudah dihafal di seluruh Al-Qur'an, dan itu bukan hal kecil. Bagian yang bunyinya rapi bertahan lebih lama dalam ingatan orang daripada bagian yang isinya paling berat, dan perbedaan itu ikut menentukan apa yang diingat orang dari sebuah kitab.
Unta bunting yang ditinggalkan
memuat gambaran yang cuma bisa dimengerti orang tertentu: dan apabila unta-unta yang bunting sepuluh bulan ditinggalkan.
Untuk pendengar pertamanya, kalimat itu keterangan tentang kepanikan yang paling besar yang bisa dibayangkan. Unta bunting harta yang paling mahal dan paling dijaga, dan meninggalkannya berarti keadaannya sudah melampaui semua perhitungan.
Untuk pembaca di sini, gambaran itu tidak menyampaikan apa-apa tanpa keterangan tambahan. Anak yang menghafalnya di madrasah tidak pernah melihat unta, dan yang tinggal di kampung yang ternaknya sapi atau kambing tidak punya pembanding untuk memahami beratnya. Yang tersisa cuma bunyinya. Bagian-bagian semacam ini menunjukkan bahwa sebuah kitab yang dinyatakan berlaku untuk semua zaman tetap disusun dengan bahan dari satu tempat dan satu masa, dan penerjemahan tidak memindahkan bahan itu, cuma memindahkan katanya.
Utusan mulia yang tidak disebut namanya
menyebut sumbernya: sesungguhnya Al-Qur'an itu benar-benar firman utusan yang mulia, yang mempunyai kekuatan, yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi yang mempunyai , yang ditaati di sana lagi dipercaya.
Yang disebut rasulin karim, dan namanya tidak ada. Penafsir umumnya membacanya sebagai Jibril, dengan alasan keterangan tentang kedudukan di sisi Arasy dan sifat ditaati oleh yang lain.
Kalimat serupa muncul di dengan susunan hampir sama, dan di sana penafsir terbelah antara Jibril dan Muhammad.
Pilihan namanya tidak aneh. Keanehannya ada di tempat lain: firman disebut sebagai ucapan makhluk. Kalimatnya menyebut Al-Qur'an sebagai perkataan seorang utusan, bukan perkataan yang mengutusnya, dan penafsir belakangan harus menerangkan bahwa yang dimaksud utusan itu penyampai, bukan pengucap. Penjelasan itu diperlukan justru karena bunyi ayatnya sendiri tidak menyediakannya.
Bukan orang gila
membantah tuduhan yang rupanya paling sering datang: dan teman kalian itu bukanlah orang yang gila.
Bantahan yang sama muncul di Al-Qalam, Ash-Shaffat, dan beberapa tempat lain, dan sebanyak itu pengulangan menunjukkan tuduhannya bukan sesekali. Bantahan yang berulang tidak berarti tuduhannya lemah. Pengulangan itu justru tanda tuduhannya sering diucapkan, dan itu keterangan tentang keadaan waktu itu yang tidak diberikan bagian mana pun secara langsung.
Dukung Qurai
Dukung kerja sunyi di balik setiap tulisan.
Di balik tiap tulisan ada proses membaca, membandingkan, dan merapikan jejak. Setiap dukungan ikut menjaga proses itu tetap berjalan.