← Bedah Surat

QS 002  ·  Al-Baqarah 2:1-286  ·  Madaniyah  ·  12 menit

Al-Baqarah: Aturan Satu Kota yang Tidak Boleh Kedaluwarsa

Al-Baqarah bukan bacaan untuk merenung. Di dalamnya ada cara berpuasa, menikah, menceraikan, mencatat utang, berperang, membalas pembunuhan, dan memperlakukan orang yang bukan golongan sendiri. Surat ini paling masuk akal dibaca sebagai kitab aturan sebuah masyarakat yang baru berdiri di Madinah. Dan kitab aturan diukur dari satu hal: apa yang terjadi kalau aturannya benar-benar dijalankan.

Aturan yang lahir di satu kota

Al-Baqarah turun di Madinah, dan bunyinya memang bunyi kota itu. Bukan lagi seruan kepada orang Mekah yang menolak, melainkan urusan dalam sebuah jemaah yang sudah punya wilayah sendiri: siapa menikah dengan siapa, utang dicatat bagaimana, siapa yang boleh diperangi, siapa yang harus dicurigai.

Kalau dicari isi rohaninya, banyak bagian surat ini terasa janggal. Kalau dibaca sebagai kitab aturan masyarakat yang baru berdiri, semuanya masuk akal, termasuk bagian yang paling tidak enak dibaca sekarang. Persoalannya datang belakangan, waktu aturan yang disusun untuk satu kota di abad ketujuh dinyatakan tidak akan pernah kedaluwarsa.

Kesaksian yang dibagi dua

mengatur pencatatan utang dengan teliti, dan di tengah aturan yang rapi itu ada satu kalimat: kalau tidak ada dua saksi laki-laki, pakai satu laki-laki dan dua perempuan, supaya kalau yang seorang lupa yang seorang lagi mengingatkan. menaruh laki-laki satu derajat di atas perempuan dalam urusan rujuk.

Pembelaan yang biasa dipakai: perempuan Arab abad ketujuh jarang mengurus dagang, jadi wajar kesaksiannya diperlakukan begitu.

Pembelaan itu masuk akal. Justru karena masuk akal, pembelaan itu menghabisi klaim yang lebih besar. Kalau aturannya menyesuaikan keadaan sosial waktu itu, berarti aturannya memang buatan waktu itu. Tidak bisa dua-duanya sekaligus: terikat zamannya waktu dibela, melampaui zamannya waktu diklaim.

Di sini pilihan itu bukan soal teori. Kompilasi Hukum Islam yang dipakai pengadilan agama sampai hari ini masih mengatur dan rujuk dengan kerangka yang berpangkal di ayat-ayat tadi, dan yang menunggu putusannya perempuan yang perceraiannya sedang berjalan.

Perang yang jadi kewajiban

memasang batas: perangi yang memerangi, jangan melewati batas. Kalau ayat ini dibaca sendiri, isinya pembelaan diri yang wajar saja.

bergerak lebih jauh. Perang diwajibkan meski dibenci, dan rasa tidak suka manusia terhadapnya disebut tanda bahwa manusia tidak tahu apa yang baik untuk dirinya. Dari situ kekerasan bukan lagi keadaan darurat. Sudah jadi bagian dari ketaatan, dan menolaknya jadi tanda kurang paham.

Soalnya bukan apakah jemaah Madinah betul-betul pernah diserang. Mereka memang diserang. Soalnya apa yang terjadi pada kalimat seperti itu setelah perangnya lama selesai, sementara kalimatnya tetap dibaca, tetap dikutip, dan sesekali dipakai orang yang sedang cari pembenaran.

Utang, bunga, dan hukum yang berhenti setengah jalan

mengharamkan dan menghalalkan jual beli. Sasarannya kelihatan dari keadaan waktu itu: pemberi pinjaman yang melipatgandakan tagihan sampai orang kehilangan segalanya. Sasaran itu masuk akal dan sampai sekarang masih ada, tinggal ganti nama jadi rentenir dan pinjaman online.

Yang tidak diberikan ayat itu adalah garisnya. Bunga berhenti di titik mana dan keuntungan mulai dari mana? Bagaimana dengan sewa, bagi hasil, denda keterlambatan, atau uang yang nilainya susut sendiri tiap tahun?

Akibatnya kelihatan di sekitar kita. Ada bank syariah dengan akad yang angsurannya mirip kredit biasa, ada fatwa MUI tahun 2004, dan sampai sekarang orang masih ribut soal apakah bunga bank sama dengan riba. Keributan itu bukan tanda umatnya kurang taat. Aturannya memang berhenti tepat sebelum pertanyaan yang paling sering ditanyakan orang.

punya bentuk masalah yang sama. menertibkan balas dendam: nyawa dibayar nyawa, tapi ada pintu maaf dan tebusan. Untuk masyarakat yang sebelumnya membalas satu nyawa dengan sepuluh, ini jelas mengerem. Kerangkanya tetap kerangka pembalasan. Yang sama sekali tidak masuk hitungan adalah memulihkan keluarga yang ditinggalkan, atau mencegah pembunuhan berikutnya.

Umat yang dibangun lewat lawannya

Bagian terpanjang Al-Baqarah bukan tentang orang Islam, melainkan tentang . Kisah lama diambil, diceritakan ulang, lalu ditutup dengan keterangan kenapa umat terdahulu gagal memegang amanat dan kenapa umat baru yang sekarang memegangnya.

Sebagai cara membangun jemaah, ini ampuh. Kelompok yang baru berumur belasan tahun langsung mendapat silsilah panjang, sekaligus contoh kegagalan yang harus dihindari.

Bahayanya muncul waktu gambaran itu keluar dari kitab dan menempel ke orang. Kelompok yang berulang kali disebut pengingkar dan pembangkang gampang berpindah, di kepala pembaca yang tidak hati-hati, dari tokoh cerita jadi tetangga. Kritik terhadap Al-Baqarah harus berhenti di susunan ceritanya. Begitu berubah jadi kebencian pada orang Yahudi atau Nasrani yang hidup sekarang, kritiknya sudah gagal jadi kritik.

Ayat yang mengganti ayat

menyatakan ayat yang dihapus atau dilupakan akan diganti dengan yang lebih baik atau yang sepadan. Satu kalimat ini yang jadi dasar seluruh aturan .

Penjelasan yang biasa dipakai: manusia dituntun bertahap, seperti orang tua yang tidak memberi anaknya semua aturan sekaligus.

Untuk orang tua, penjelasan itu jalan. Orang tua memang mengubah aturan sambil berjalan, karena pengetahuannya sendiri ikut bertambah. Yang tidak bisa memakai alasan itu adalah sumber yang katanya sudah tahu segalanya sejak awal dan tidak terikat waktu. Tidak ada yang perlu dicabut kalau semuanya sudah diketahui dari mula. Begitu penghapusan ayat diakui, riwayat turunnya wahyu jadi kelihatan seperti gerakan yang menyesuaikan diri dengan keadaan di depannya. Itu bunyi yang wajar untuk gerakan manusia, dan justru di situ persoalannya.

Dua kalimat yang berdempetan

, Ayat Kursi, adalah puncak sastra surat ini. Tuhan yang tidak mengantuk dan tidak tidur, yang kursi-Nya melingkupi langit dan bumi. Wajar kalau ayat ini yang paling banyak dihafal dan paling sering dipigura di ruang tamu. Tidak ada yang perlu dikecilkan dari ayat ini.

Persis sesudahnya datang : tidak ada paksaan dalam agama. Kalimat ini yang paling sering dikutip untuk menunjukkan Islam tidak memaksa, dan pada tingkat kalimatnya pembacaan tadi tidak mengada-ada.

Yang tidak ikut dikutip adalah apa yang dibangun sesudahnya. klasik dari keempat menetapkan hukuman mati untuk orang yang keluar dari Islam, dan dasarnya bukan ayat ini melainkan . Jadi kalimat tidak ada paksaan tetap tertulis di , sementara hukumnya berjalan ke arah yang berlawanan. Mana yang disebut ajaran Islam: kalimat di mushaf, atau hukum yang disusun umatnya selama seribu tahun? Mengutip satu ayat tidak menjawab itu, dan justru di situ pelajarannya.

Bukit yang sudah ramai sebelum Islam

menyebut antara Safa dan Marwah tidak berdosa untuk dikerjakan. Untuk sebuah perintah ibadah, redaksinya aneh. Bunyinya bukan seruan, melainkan jawaban atas keberatan.

Riwayat tafsir menerangkan kenapa. Sebagian sahabat enggan sa'i karena di kedua bukit itu dulu berdiri Isaf dan Na'ilah, dua berhala. Ayat ini menenangkan orang yang masih ingat tempat itu dipakai untuk apa.

Dari celah kecil itu kelihatan yang jauh lebih besar. Haji, umrah, , penghormatan pada Ka'bah dan Hajar Aswad, semuanya sudah dikerjakan orang Arab sebelum Islam, lalu diteruskan dengan arti yang baru. Asal-usul itu ditelusuri lebih jauh di Kaaba, Allah, dan Apa yang Ada Sebelumnya. Menyerap ritus pendahulu adalah hal biasa dalam sejarah agama mana pun. Yang jadi soal cuma klaim bahwa ritual itu murni sejak Ibrahim, klaim yang oleh redaksi ayat ini sendiri kelihatan masih harus diperjuangkan di depan orang yang tahu persis asal-usul bukitnya.

Kitab aturan yang tidak boleh direvisi

Al-Baqarah surat yang paling banyak mengatur, dan karena itu paling banyak memperlihatkan tangan yang mengatur. Tubuh, keluarga, utang, perang, ibadah, dan ingatan bersama semuanya diurus dari sini.

Sebagai catatan tentang bagaimana satu jemaah di Madinah menertibkan dirinya, surat ini berharga dan sebagian besar isinya bisa dimengerti. Yang dituntut jadi lain sama sekali begitu isinya dinyatakan berlaku di mana saja dan kapan saja. Aturan yang mentok di abad ketujuh tidak bisa diperbaiki, cuma bisa ditafsir ulang, dan tafsir ulang punya batas yang lama-lama kelihatan juga.

Bagikan artikel

Bantu tulisan ini menemukan pembaca yang tepat.

Dukung Qurai

Dukung kerja sunyi di balik setiap tulisan.

Di balik tiap tulisan ada proses membaca, membandingkan, dan merapikan jejak. Setiap dukungan ikut menjaga proses itu tetap berjalan.

Dukung via Saweria