← Bedah Surat

QS 074  ·  Al-Muddassir 74:1-56  ·  Makkiyah  ·  11 menit

Al-Muddassir: Penyelesaian Skor Personal, 19 Penjaga, dan Kafir sebagai Keledai

Al-Muddassir adalah surat tentang amarah yang sangat personal. Allah menciptakan al-Walid bin Mughirah, memberinya kekayaan berlimpah, anak-anak, dan kelapangan hidup, lalu marah besar ketika al-Walid menyebut Al-Qur'an sebagai sihir yang dipelajari. Surat ini tidak menyembunyikan target kemarahannya: ia menyebut tindakan demi tindakan al-Walid, merekonstruksi proses berpikirnya, lalu mengumumkan bahwa ia akan dimasukkan ke neraka Saqar. Ini bukan teologi universal; ini adalah penyelesaian skor.

Peta Masalah

Surat ini memuat paradoks moral penciptaan-penghukuman (Allah menciptakan seseorang, memberinya nikmat, lalu menghukumnya karena berpikir kritis), kontradiksi kehendak bebas dan determinisme dalam satu surat (manusia bertanggung jawab tapi Allah yang menyesatkan), dehumanisasi orang kafir sebagai keledai liar, kriminalisasi permintaan bukti empiris, angka 19 penjaga neraka yang didesain untuk menyesatkan orang kafir, dan penggambaran penghuni surga yang menikmati tontonan penderitaan penghuni neraka.

Paradoks al-Walid: diciptakan, diberi nikmat, dihukum

menggambarkan Allah yang menciptakan al-Walid seorang diri, memberinya harta melimpah, anak-anak yang selalu hadir, kelapangan hidup seluas-luasnya, kemudian marah karena al-Walid masih ingin lebih, dan lebih marah lagi karena al-Walid menentang Al-Qur'an.

Paradoks di sini struktural. Jika Allah menciptakan al-Walid dengan sifat-sifat tertentu, termasuk kecenderungan untuk berpikir kritis, untuk mengevaluasi klaim baru, untuk menginginkan lebih, maka menghukum al-Walid atas ekspresi sifat-sifat itu adalah menghukum seseorang atas apa yang Allah tanamkan padanya. Ambisi dan evaluasi kritis bukan anomali, ia adalah bagian dari kapasitas kognitif manusia.

Yang lebih menarik: ayat ini secara eksplisit menyebut al-Walid berdasarkan tindakannya yang sangat spesifik. Ia memikirkan, mempertimbangkan, lalu menyimpulkan bahwa Al-Qur'an adalah sihir yang dipelajari dari orang-orang dahulu. Ini adalah proses berpikir, bukan kejahatan. Menghukum proses berpikir yang menghasilkan kesimpulan yang berbeda adalah penolakan terhadap kebebasan intelektual.

Sembilan belas dan desain kesesatan

menyebut angka penjaga neraka: sembilan belas. Lalu ayat 31 menjelaskan mengapa angka itu dipilih: sebagai cobaan bagi orang kafir, agar orang-orang yang diberi kitab menjadi yakin, dan agar Allah bisa menyesatkan orang-orang yang Dia kehendaki dan memberi petunjuk kepada yang Dia kehendaki.

Ini adalah pernyataan eksplisit tentang determinisme ilahi: Allah secara aktif menyesatkan beberapa orang dan memberi petunjuk kepada yang lain. Pilihan siapa yang disesatkan dan siapa yang diberi petunjuk ada di tangan Allah sepenuhnya.

Konsekuensi logisnya fatal bagi konsep keadilan. Jika Allah yang menentukan siapa yang disesatkan, maka orang-orang yang disesatkan tidak bisa dimintai pertanggungjawaban atas kesesatan mereka, mereka tidak memilih kesesatan itu, mereka dijatuhkan ke dalamnya. Tapi surat yang sama menghukum mereka dengan neraka. Sistem ini tidak adil secara internal: ia menghukum orang atas takdir yang tidak mereka pilih.

Kafir sebagai keledai liar

bertanya mengapa orang kafir berpaling dari peringatan, lalu menjawab dengan perumpamaan: mereka seperti keledai liar yang lari terkejut dari singa. Gambaran ini adalah dehumanisasi eksplisit.

Membandingkan manusia yang menolak sebuah klaim teologis dengan keledai yang lari panik dari predator bukan hanya penghinaan, ia adalah strategi retoris yang bertujuan mendelegitimasi penolak. Dengan menyamakan mereka dengan hewan yang bertindak instingtif dan irasional, teks ini memungkiri bahwa penolakan bisa berasal dari pertimbangan yang masuk akal.

Tapi skeptisisme adalah respons yang rasional terhadap klaim yang tidak bisa diverifikasi. Seseorang yang meminta bukti sebelum menerima klaim luar biasa, bahwa teks tertentu adalah wahyu dari Tuhan, tidak bertindak seperti keledai panik; ia bertindak seperti seseorang yang menggunakan akalnya. Teks ini secara aktif mengkriminalkan sikap epistemik yang paling mendasar.

Kriminalisasi permintaan bukti

mencela orang kafir yang ingin diberikan 'lembaran-lembaran kitab yang terbuka', bukti tertulis langsung, sebagai tanda keengganan mereka menghadapi akhirat. Permintaan bukti dijawab bukan dengan bukti, melainkan dengan diagnosis moral.

Ini adalah penolakan eksplisit terhadap prinsip pembuktian. Seseorang meminta verifikasi independen atas klaim yang luar biasa, dan teks ini merespons dengan menyatakan bahwa permintaan itu sendiri adalah bukti ketidakimanan mereka. Lingkaran ini tidak bisa ditembus: meminta bukti adalah tanda kekafiran, kekafiran adalah alasan mengapa mereka tidak diberi bukti.

Dalam epistemologi yang sehat, justifikasi klaim dan permintaan verifikasi adalah bagian normal dari dialog intelektual. Sistem yang merespons permintaan bukti dengan tuduhan moral bukan sistem yang yakin dengan kebenarannya sendiri, ia adalah sistem yang tidak bisa memenuhi permintaan itu.

Kontradiksi kehendak bebas dan determinisme

menyatakan bahwa setiap jiwa tergadai dengan apa yang dilakukannya, kecuali golongan kanan. Ini mengandaikan tanggung jawab personal atas tindakan.

Tapi ayat 31 sudah menyatakan bahwa Allah yang menyesatkan orang-orang yang Dia kehendaki. Dan ayat 56 (dalam paralel Al-Muzzammil) menyatakan bahwa manusia tidak akan mengambil pelajaran kecuali jika Allah menghendakinya.

Dua prinsip ini tidak bisa berdiri bersamaan. Jika Allah yang menentukan siapa yang mendapat petunjuk dan siapa yang disesatkan, maka setiap jiwa tidak bisa dimintai pertanggungjawaban atas kondisi epistemic dan moralnya, kondisi itu sudah ditentukan dari luar. Surat ini berusaha menyatukan tanggung jawab manusia dan determinisme ilahi, tapi kontradiksi di antara keduanya tidak pernah diselesaikan.

Bagikan artikel

Bantu tulisan ini menemukan pembaca yang tepat.

Dukung Qurai

Dukung kerja sunyi di balik setiap tulisan.

Di balik tiap tulisan ada proses membaca, membandingkan, dan merapikan jejak. Setiap dukungan ikut menjaga proses itu tetap berjalan.

Dukung via Saweria