← Bedah Surat

QS 074  ·  Al-Muddassir 74:1-56  ·  Makkiyah  ·  11 menit

Al-Muddassir: Angka yang Dinyatakan Akan Jadi Ujian

Ada satu angka di surat ini yang dinyatakan sendiri akan jadi ujian bagi orang yang membacanya. Kalimat itu ditulis sebagai peringatan, dan seribu tiga ratus tahun kemudian benar-benar terjadi persis seperti bunyinya, lewat jalan yang tidak dibayangkan siapa pun waktu ayatnya disusun.

Sembilan belas

berdiri sendiri sebagai satu kalimat pendek: di atasnya ada sembilan belas.

menerangkan bahwa yang dimaksud malaikat penjaga, lalu menyatakan maksud angkanya: dan tidaklah Kami menjadikan bilangan mereka itu melainkan sebagai ujian bagi orang-orang kafir, supaya orang-orang yang diberi Al-Kitab menjadi yakin, dan supaya orang yang beriman bertambah imannya, dan supaya orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan orang-orang kafir berkata, apa yang dikehendaki Allah dengan bilangan ini sebagai perumpamaan.

Jadi ayatnya sendiri menyatakan bahwa angka itu akan memancing pertanyaan. Dan angka itu memang memancing pertanyaan, tapi bukan dari arah yang disebutkan.

Pada 1974 seorang ahli biokimia asal Mesir yang menetap di Amerika mengumumkan bahwa seluruh susunan Al-Qur'an bertumpu pada kelipatan sembilan belas. Hitungannya beredar luas, termasuk ke sini lewat buku-buku tentang keajaiban ilmiah pada tahun delapan puluhan dan sembilan puluhan. Untuk membuat sebagian hitungannya cocok, dia menyatakan dua ayat terakhir At-Taubah bukan bagian dari Al-Qur'an, dan belakangan menyatakan dirinya rasul. Dia dibunuh di Arizona pada awal 1990.

Seluruh peristiwa itu tidak banyak bicara soal benar atau salahnya hitungan. Pelajarannya ada di cara kerja angka yang dibiarkan tanpa keterangan. Angka tanpa penjelasan mengundang orang mengisinya, dan yang mengisinya selalu membawa sesuatu dari luar. Ayat 31 memang menyebutkan bahwa itu akan terjadi, dan yang tidak disediakannya cara membedakan pengisian yang sah dari yang tidak.

Empat jawaban dari dalam neraka

menyusun tanya jawab yang jarang bentuknya: apakah yang memasukkan kalian ke dalam Saqar. Mereka menjawab, kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan salat, dan kami tidak pula memberi makan orang miskin, dan kami membicarakan yang batil bersama orang-orang yang membicarakannya, dan kami mendustakan hari pembalasan.

Empat sebab disebut, dan jawabannya datang dari mulut mereka sendiri, bukan dari penilai. Bentuk itu membuatnya terbaca sebagai pengakuan, bukan tuduhan.

Dua dari empat sebab di daftar itu bukan urusan ibadah, melainkan urusan sesama: tidak memberi makan orang miskin, dan ikut membicarakan yang batil. Susunan seperti ini menaruh perkara sosial sejajar dengan perkara ritual, dan itu tidak selalu terjadi di bagian lain.

Di mimbar di sini, keempatnya jarang dibacakan lengkap. Yang paling sering diambil yang pertama dan yang keempat, yaitu meninggalkan salat dan mendustakan hari pembalasan. Yang kedua, tidak memberi makan orang miskin, lebih jarang dijadikan bahan, padahal urutannya persis di sebelahnya.

Orang yang berpikir lalu ditetapkan celaka

menggambarkan seseorang yang menimbang sebelum memutuskan: sesungguhnya dia telah memikirkan dan menetapkan. Lalu diikuti kutukan yang diulang: maka celakalah dia, bagaimana dia menetapkan, kemudian celakalah dia, bagaimana dia menetapkan.

Sesudah itu digambarkan tanda-tanda jasmaninya: kemudian dia memandang, kemudian dia bermuka masam dan merengut, kemudian dia berpaling dan menyombongkan diri. Kesimpulannya di ayat 24, dia berkata bahwa ini tidak lain hanyalah sihir yang dipelajari.

Riwayat mengarahkan seluruh bagian ini kepada satu tokoh Mekah, dan sebagian menyebut namanya. Yang layak diperiksa bentuk penilaiannya. Yang digambarkan orang yang memikirkan lalu sampai pada kesimpulan, dan yang dicela bukan isi kesimpulannya, melainkan bahwa dia sampai pada kesimpulan itu.

Sebutan sihir yang dipelajari sendiri bukan penolakan yang kosong. Orang itu mengakui bacaannya berpengaruh dan mencari keterangan yang tersedia di zamannya. Bantahan terhadap keterangan itu tidak diberikan di ayat mana pun; yang diberikan gambaran tentang wajahnya yang masam.

Bangunlah dan berilah peringatan

membuka dengan lima perintah pendek: hai orang yang berkemul, bangunlah lalu berilah peringatan, dan agungkanlah Tuhanmu, dan bersihkanlah pakaianmu, dan tinggalkanlah perbuatan dosa.

Riwayat menempatkan surat ini sebagai salah satu yang paling awal, dan susunannya memang sesuai dengan itu. Yang diperintahkan belum berisi hukum, belum berisi ibadah yang ditakar, dan belum menyebut lawan.

Perintah membersihkan pakaian di ayat 4 termasuk yang paling sering dibawa ke arah lain. Sebagian penafsir membacanya sebagai kiasan tentang membersihkan diri, sebagian membacanya apa adanya. Dua bacaan itu sama-sama bisa dipakai, dan yang menentukan pilihannya di sini biasanya bukan bahasa Arabnya melainkan urusan yang sedang dibicarakan penceramahnya.

Tiap jiwa tergadai

memuat kalimat pendek yang isinya besar: tiap-tiap jiwa tergadai oleh apa yang telah diperbuatnya.

Kata yang dipakai rahinah, yaitu barang yang ditahan sebagai jaminan utang. Gambarannya menempatkan manusia sebagai yang ditahan dan perbuatannya sebagai yang menebus. Susunannya sejalan dengan cara surat-surat lain memakai bahasa dagang untuk urusan pahala, dan di sini bentuknya paling ringkas: yang ditahan bukan harta, melainkan orangnya sendiri.

Bagikan artikel

Bantu tulisan ini menemukan pembaca yang tepat.

Dukung Qurai

Dukung kerja sunyi di balik setiap tulisan.

Di balik tiap tulisan ada proses membaca, membandingkan, dan merapikan jejak. Setiap dukungan ikut menjaga proses itu tetap berjalan.

Dukung via Saweria