QS 110 · An-Nasr 110:1-3 · Madaniyah · 7 menit
An-Nasr: Meminta Ampun di Saat Menang
Surat yang menurut sebagian besar riwayat turun paling akhir isinya bukan aturan penutup, bukan kesimpulan, dan bukan rangkuman. Isinya perintah meminta ampun, dan perintah itu diberikan persis di saat kemenangan sudah tercapai dan orang berbondong-bondong masuk.
Meminta ampun di saat menang
memuat seluruh isinya: apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan engkau melihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya, sesungguhnya Dia Maha Penerima tobat.
Susunannya menaruh dua hal yang biasanya tidak bertemu. Yang pertama kemenangan yang lengkap, yang kedua permohonan ampun.
Yang tidak disebutkan apa yang diminta ampun. Tidak ada satu kata pun tentang kesalahan, kelebihan, atau hal yang perlu disesali.
Penafsir menempuh beberapa jalan. Sebagian membacanya sebagai bentuk merendah yang lazim bagi orang yang menerima sesuatu besar. Sebagian membacanya sebagai pengajaran kepada umatnya, bukan kepada penerimanya. Sebagian membacanya sebagai isyarat bahwa tugasnya selesai.
Tanpa memilih di antara ketiganya pun, bentuk ini jelas tidak biasa. Kelompok yang baru menang biasanya menghasilkan kalimat yang membenarkan dirinya, bukan kalimat yang meminta ampun. Yang keluar di sini justru yang kedua, dan itu berlaku juga sebagai keterangan tentang kelompok yang mengucapkannya.
Masuk berbondong-bondong
menyebut apa yang terjadi: dan engkau melihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong.
Kata afwajan berarti kelompok besar yang datang bergelombang. Orang tidak datang satu per satu, tapi berombongan.
Riwayat menghubungkannya dengan masa sesudah Mekah takluk, waktu suku-suku Arab mengirim utusan menyatakan diri masuk.
Perpindahan agama yang berlangsung berombongan sesudah satu pihak berkuasa punya bentuknya sendiri dan tidak sama dengan perpindahan yang terjadi orang per orang di masa sebelumnya. Yang pertama bergantung pada keadaan dan bisa berbalik waktu keadaannya berubah, dan sejarah sesudah wafatnya Muhammad memang mencatat sebagian suku itu berbalik lagi. Surat ini tidak menyinggung perbedaan antara dua bentuk itu, dan menyebut keduanya dengan satu kata yang sama. Bentuk yang mirip pernah terjadi di Indonesia juga, waktu pencatatan agama di kartu tanda penduduk mengharuskan tiap warga negara memilih satu, dan sebagian memilih yang paling aman, bukan yang paling diyakini.
Dibaca sebagai kabar kematian
Ada satu riwayat yang dicatat Bukhari tentang Umar yang menanyakan surat ini kepada beberapa sahabat senior, dan mereka menjawab bahwa isinya perintah memuji dan meminta ampun waktu diberi kemenangan.
Ibnu Abbas, yang waktu itu paling muda, menjawab lain: bahwa surat ini kabar tentang dekatnya ajal Nabi, dan tanda bahwa tugasnya sudah selesai. Umar menyatakan pendapatnya sama.
Mana yang benar dari riwayat itu sulit dipastikan, tapi ada yang lebih mengusik: dua bacaan yang begitu berbeda bisa berdiri di atas tiga baris yang sama. Yang satu membacanya sebagai perintah, dan yang satu lagi sebagai pemberitahuan. Bacaan kedua tidak bersandar pada satu kata pun di ayatnya, melainkan pada letaknya sebagai yang terakhir.
Pertolongan dan kemenangan
menyebut dua hal bersama: pertolongan Allah dan kemenangan.
Dua kata itu, nashr dan fath, dipakai berdampingan di beberapa tempat lain juga, dan yang kedua jadi nama Al-Fath. Susunan yang menyebut pertolongan lebih dulu lalu kemenangan menaruh hasilnya sebagai akibat, bukan sebagai capaian, dan bentuk itu berlaku dua arah: yang menang tidak bisa mengambil pujiannya, dan yang kalah tidak bisa disebut kalah karena kurang berusaha. Tiga ayat ini sering dibacakan menutup acara peresmian dan syukuran di sini, dan di tempat itu bagian yang terdengar cuma kata kemenangannya.
Dukung Qurai
Dukung kerja sunyi di balik setiap tulisan.
Di balik tiap tulisan ada proses membaca, membandingkan, dan merapikan jejak. Setiap dukungan ikut menjaga proses itu tetap berjalan.