← Bedah Surat

QS 097  ·  Al-Qadr 97:1-5  ·  Makkiyah  ·  8 menit

Al-Qadr: Satu Malam Dibanding Delapan Puluh Tiga Tahun

Lima ayat, dan salah satunya menilai satu malam lebih tinggi daripada seribu bulan. Seribu bulan itu delapan puluh tiga tahun lebih, yaitu lebih panjang daripada umur kebanyakan orang. Penilaian sebesar itu mengubah cara orang menghitung amalnya, dan perubahannya kelihatan tiap Ramadan.

Satu malam dibanding delapan puluh tiga tahun

memuat perbandingannya: malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan.

Seribu bulan sama dengan delapan puluh tiga tahun empat bulan. Untuk orang yang umurnya enam puluh, itu lebih panjang daripada seluruh hidupnya.

Yang dikerjakan perbandingan itu terhadap hitungan amal besar sekali. Satu malam yang dikerjakan dengan benar melampaui seumur hidup yang dikerjakan biasa-biasa saja, dan itu mengubah bentuk seluruh usahanya.

Akibat pertamanya menolong. Orang yang merasa amalnya sedikit tetap punya jalan yang bisa ditempuh, dan jalannya terbuka tiap tahun.

Akibat keduanya berbeda. Susunan yang menaruh nilai sebesar itu pada satu malam membuat seluruh hari yang lain terasa kurang menentukan, dan bentuk itu berulang di banyak amalan lain yang pahalanya dilipatkan dengan angka. Kejujuran di tempat kerja sepanjang tahun tidak punya angka pembandingnya, dan yang punya angka lebih mudah dikejar.

Selikuran dan malam-malam ganjil

Karena tanggalnya tidak disebutkan, yang dikerjakan orang menghidupkan semua malam yang mungkin, dan bentuknya di sini punya sejarahnya sendiri.

Di Jawa, malam kedua puluh satu disebut malam selikuran, dan sebagian tempat memperingatinya dengan arak-arakan lampu dan tumpeng. Bentuk itu bukan berasal dari Arab dan bukan dari ayatnya, melainkan dari kebiasaan setempat yang bertemu dengan penetapan malam ganjil.

Di luar itu ada bentuk yang lebih baru dan khas Indonesia juga, yaitu peringatan Nuzululqur'an tiap tanggal tujuh belas Ramadan, lengkap dengan acara di istana negara dan di kantor pemerintah daerah. Tanggal tujuh belas itu tidak ada di Al-Qur'an dan tidak ada di riwayat yang paling kuat, dan sekarang jadi agenda resmi.

Yang bisa dibaca dari tiga lapis itu satu hal. Lima ayat yang tidak menyebutkan tanggal menghasilkan tiga penetapan tanggal yang berbeda, dan ketiganya berjalan berdampingan tanpa saling membatalkan.

Malaikat dan Ruh yang turun

menyebut apa yang terjadi: pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Ruh dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan.

Yang disebut Ruh berdiri terpisah dari malaikat, dan penafsir umumnya membacanya sebagai Jibril. Bacaan itu bersandar pada tempat lain, bukan pada ayat ini.

Kata mengatur segala urusan yang lebih menentukan. Dari kalimat itu tumbuh anggapan bahwa nasib setahun ke depan ditetapkan pada malam itu, dan anggapan itu jadi alasan orang berdoa meminta hal-hal yang sangat konkret pada malam-malam ganjil. Yang tidak disediakan ayatnya cara menyambungkan penetapan itu dengan penetapan yang sudah ada sejak sebelum manusia dibuat, dan dua penetapan itu tidak pernah dipertemukan.

Sejahtera sampai terbit fajar

menutup surat: malam itu penuh kesejahteraan sampai terbit fajar.

Yang disebut salam, dan batasnya waktu, yaitu sampai fajar. Bentuk penutup semacam ini bunyinya tenang dan tidak menuntut apa-apa dari pendengarnya, dan lima ayat surat ini termasuk yang paling banyak diperdengarkan lewat pengeras suara masjid menjelang sahur di sepuluh malam terakhir.

Bagikan artikel

Bantu tulisan ini menemukan pembaca yang tepat.

Dukung Qurai

Dukung kerja sunyi di balik setiap tulisan.

Di balik tiap tulisan ada proses membaca, membandingkan, dan merapikan jejak. Setiap dukungan ikut menjaga proses itu tetap berjalan.

Dukung via Saweria