QS 113 · Al-Falaq 113:1-5 · Makkiyah · 7 menit
Al-Falaq: Paradoks Perlindungan dari Ciptaan Sendiri, Sihir yang Divalidasi, dan Perempuan Penyihir
Al-Falaq adalah doa perlindungan yang membuka dengan paradoks teologis yang tidak pernah diselesaikan oleh surat itu sendiri: kita berlindung kepada Allah dari 'kejahatan makhluk yang Dia ciptakan.' Jika Allah menciptakan segalanya, termasuk malam yang gelap, penyihir, dan pendengki, maka siapa yang bertanggung jawab atas keberadaan kejahatan itu? Surat ini tidak menjawab. Ia justru menambah masalah lain: memvalidasi keyakinan sihir sebagai ancaman nyata yang harus dimintakan perlindungan ilahi, dan menyebut secara spesifik 'perempuan-perempuan penyihir', framing yang sepanjang sejarah telah menjadi legitimasi untuk persekusi terhadap perempuan.
Peta Masalah
Surat ini memuat paradoks teologis meminta perlindungan dari kejahatan ciptaan Allah sendiri tanpa penjelasan tentang mengapa Allah menciptakannya, validasi keyakinan sihir sebagai ancaman nyata yang bertentangan dengan penjelasan ilmiah, penyebutan 'perempuan-perempuan penyihir' yang melegitimasi stereotype gender yang berbahaya secara historis, dan asosiasi malam dengan kejahatan yang menciptakan kecemasan irrasional terhadap fenomena alam.
Berlindung dari ciptaan Tuhan sendiri
membuka dengan perintah: 'Katakanlah, Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai subuh (fajar), dari kejahatan (makhluk yang) Dia ciptakan.' Sumber perlindungan adalah Allah. Sumber kejahatan yang dilindungi adalah ciptaan Allah. Keduanya, dalam kerangka teologis Islam, berasal dari Yang Sama.
Ini adalah masalah teodisi, pertanyaan tentang kejahatan dalam dunia yang diciptakan oleh Tuhan yang baik dan mahakuasa. Tradisi Islam, seperti tradisi Abrahamik lainnya, bergulat dengan pertanyaan ini. Jawaban yang umum diberikan adalah bahwa kejahatan ada karena kebebasan manusia, atau karena ujian, atau karena keterbatasan pemahaman kita tentang rencana Allah. Tapi surat ini tidak menawarkan satu pun penjelasan itu, ia hanya menyuruh kita berlindung.
Dalam struktur teologis yang konsisten, seharusnya ada penjelasan mengapa Allah menciptakan hal-hal yang kejahatan kemudian perlu dilindungi darinya. Absennya penjelasan itu bukan kelemahan kecil, ia adalah pertanyaan paling fundamental dalam teologi: jika Tuhan itu baik dan mahakuasa, mengapa ada kejahatan? Al-Falaq memulai doa dengan premis bahwa kejahatan itu nyata dan datang dari ciptaan Allah, tapi tidak memberi jawaban atas pertanyaan yang langsung muncul dari premis itu.
Malam sebagai sumber kejahatan
meminta perlindungan 'dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita.' Malam, fenomena astronomi biasa yang terjadi karena rotasi bumi, diposisikan sebagai sumber kejahatan yang perlu dilindungi.
Asosiasi malam dengan kejahatan bukan unik untuk Islam, ia ada dalam banyak tradisi pra-ilmiah di seluruh dunia, karena secara evolusioner manusia memiliki kecemasan terhadap kegelapan yang berkaitan dengan predator dan bahaya yang tidak terlihat. Dalam konteks modern, kecemasan ini bisa dipahami secara psikologis dan ekologis.
Tapi ketika asosiasi ini dikodifikasi sebagai bagian dari doa wajib yang dibacakan oleh umat beragama, ia memperkuat ketakutan irrasional terhadap fenomena alam yang sepenuhnya netral. Malam tidak memiliki 'kejahatan' intrinsik, kejahatan yang terjadi di malam hari dilakukan oleh manusia atau binatang, bukan oleh kegelapan itu sendiri. Mengasosiasikan malam dengan kejahatan supernatural menghambat pemahaman yang lebih jernih tentang penyebab nyata kejahatan dan cara mengatasinya.
'Perempuan-perempuan penyihir': stereotype gender yang dikodifikasi
meminta perlindungan 'dari kejahatan (perempuan-perempuan) penyihir yang meniup pada buhul-buhul (talinya).' Kata Arab al-naffatsati menggunakan bentuk feminin, perempuan-perempuan yang meniup, bukan sekadar 'para peniup.'
Dalam sejarah, asosiasi perempuan dengan sihir dan praktik gaib adalah salah satu stereotype yang paling merusak yang pernah mengakar dalam peradaban manusia. Di Eropa, stereotype ini memuncak dalam persekusi penyihir abad 15-18 yang membunuh puluhan ribu perempuan. Di banyak bagian dunia yang masih memegang keyakinan tentang sihir hari ini, perempuan, terutama yang tidak konformis secara sosial, adalah yang paling rentan dituduh dan dianiaya.
Bahwa Al-Qur'an secara eksplisit menggunakan bentuk feminin dalam konteks penyihir yang berbahaya bukan hanya masalah linguistik. Ia memperkuat dan melembagakan asosiasi antara perempuan dan kejahatan supernatural dalam tradisi yang dibaca dan dihafal oleh lebih dari satu miliar orang. Implikasi praktisnya tidak abstrak: di banyak komunitas Muslim hari ini, tuduhan sihir masih bisa ditujukan kepada perempuan, dan legitimasi tekstual dari Al-Qur'an membuat tudingan itu lebih mudah dipercaya.
Sihir sebagai ancaman nyata: implikasi terhadap pemahaman realitas
Dengan meminta perlindungan dari penyihir yang meniup buhul, Al-Falaq secara implisit mengonfirmasi bahwa sihir seperti itu adalah nyata dan berbahaya. Ini bukan metafora, ia adalah permintaan perlindungan dari ancaman yang dianggap konkret.
Dalam sains modern, tidak ada bukti bahwa meniup pada buhul tali bisa menyebabkan bahaya kepada orang lain melalui mekanisme supernatural. Penyakit, kemalangan, dan konflik interpersonal memiliki penjelasan yang bisa diuji dan diverifikasi. Ketika sistem keyakinan melegitimasi sihir sebagai penjelasan nyata untuk masalah kehidupan, ia menghambat pencarian penjelasan yang lebih akurat, dan yang lebih penting, solusi yang lebih efektif.
Hadis-hadis tentang ruqyah (doa penyembuhan dari sihir) dan kisah bahwa Muhammad sendiri pernah terkena sihir (HR Bukhari) menunjukkan bahwa keyakinan tentang sihir sebagai ancaman nyata sangat mengakar dalam tradisi Islam, dan Al-Falaq adalah salah satu legitimasi tekstual utamanya. Dalam konteks abad ke-21 di mana komunitas masih membunuh orang yang dituduh menyihir, keberadaan teks suci yang mengonfirmasi realitas sihir berbahaya memiliki konsekuensi yang sangat nyata.
Dukung Qurai
Dukung kerja sunyi di balik setiap tulisan.
Di balik tiap tulisan ada proses membaca, membandingkan, dan merapikan jejak. Setiap dukungan ikut menjaga proses itu tetap berjalan.