QS 018 · Al-Kahf 18:1-110 · Makkiyah · 15 menit
Al-Kahf: Jawaban atas Ujian yang Disusun Rabi
Riwayat tentang sebab turunnya surat ini menyebutkan sesuatu yang jarang diakui setegas itu: orang Mekah mengirim utusan ke Madinah untuk bertanya kepada rabi Yahudi, cara apa yang bisa dipakai menguji seseorang yang mengaku nabi. Jawabannya tiga pertanyaan. Al-Kahf berisi jawaban atas dua di antaranya, plus satu yang ditolak dijawab.
Surat yang dibaca tiap Jumat
Sedikit surat yang tempatnya sekuat ini dalam kebiasaan orang Indonesia. Membaca Al-Kahf tiap Jumat sudah jadi rutinitas di banyak keluarga, ada di jadwal masjid, dan diingatkan di grup pesan sejak Kamis malam.
Sedikit yang menyebut isi keempat ceritanya berasal dari mana.
Pemuda yang tidur tiga abad
menceritakan sekelompok pemuda yang berlindung di gua, ditidurkan bertahun-tahun, lalu dibangunkan dan mendapati uang mereka sudah tidak berlaku.
Cerita dengan susunan yang sama sudah beredar luas di Suriah jauh sebelumnya, dikenal sebagai Tujuh Penidur dari Efesus, lengkap dengan detail keping uang yang membuat mereka ketahuan. Naskah Syriac yang memuatnya bahkan bisa ditanggali lebih tua daripada surat ini, dan telusurannya ada di Gua, Anjing, dan Naskah yang Sudah Ada Sembilan Puluh Tahun Sebelumnya.
Kalau ceritanya memang sudah beredar, jawaban atas pertanyaan uji itu bukan keterangan baru. Yang diuji sebenarnya cuma apakah orang di Mekah bisa mengetahui cerita yang dipegang orang di utara, dan itu pertanyaan yang lemah sebagai ujian kenabian.
Jumlahnya berapa, tidurnya berapa lama
menyebut tiga tebakan yang beredar tentang jumlah mereka, tiga orang, lima orang, atau tujuh orang, lalu menutupnya: katakanlah Tuhanku lebih mengetahui jumlah mereka, tidak ada yang mengetahuinya kecuali sedikit.
menyebut angka lamanya: tiga ratus tahun, ditambah sembilan. Lalu menyusul: Allah lebih mengetahui berapa lama mereka tinggal.
Dua ayat yang berdempetan itu susah dipegang bersamaan. Angkanya disebutkan, lalu ditarik lagi. Tafsir umumnya menerangkan tiga ratus itu tahun matahari dan tiga ratus sembilan itu tahun bulan, dan hitungan itu memang cocok. Yang tetap tidak diterangkan, kenapa jawaban atas pertanyaan uji justru bagian yang paling sering diakhiri dengan kalimat bahwa cuma Tuhan yang tahu.
Anak yang dibunuh sebelum berbuat apa-apa
memuat bagian yang paling susah diterima akal. Musa mengikuti seorang hamba yang diberi ilmu dari sisi Allah, dan hamba itu melubangi perahu orang miskin, membunuh seorang anak, lalu menegakkan dinding tanpa upah.
Alasan pembunuhannya disebut di : anak itu orang tuanya beriman, dan dikhawatirkan dia akan memaksa keduanya kepada kedurhakaan dan kekafiran. Jadi yang dihukum bukan perbuatan, melainkan perbuatan yang diperkirakan akan terjadi.
Sebagai pelajaran tentang keterbatasan pengetahuan manusia, ceritanya berhasil. Musa protes tiga kali, dan tiap kali dia keliru karena tidak tahu ujung ceritanya.
Sebagai pijakan tindakan, ceritanya berbahaya sekali, dan bahayanya sudah terbukti. Setiap orang yang merasa punya pengetahuan khusus tentang akibat yang belum terjadi bisa memakai susunan yang sama untuk membenarkan apa saja hari ini, dan tidak ada di dalam ceritanya satu pun cara membedakan hamba yang benar-benar diberi ilmu dari orang yang cuma mengaku. Perkaranya dibongkar lebih jauh di Tongkat, Ikan, dan Kulit yang Berbicara.
Raja bertanduk dua
menjawab pertanyaan kedua. Dzulqarnain berjalan ke barat sampai matahari terbenam di mata air yang berlumpur, lalu ke timur sampai ke kaum yang tidak diberi pelindung dari matahari, lalu ke antara dua gunung tempat dia membangun dinding besi dan tembaga untuk mengurung Yakjuj dan Makjuj.
Gelar bertanduk dua sudah lama menempel pada Iskandar Agung, termasuk di koin yang menggambarkannya bertanduk domba jantan, dan kisah Iskandar membangun tembok penahan bangsa liar sudah beredar dalam versi Syriac sebelum abad ketujuh. Jejaknya ditelusuri di Dzulqarnain dan bacaan yang sudah ada sebelumnya.
Bagian matahari terbenam di mata air berlumpur juga menyimpan persoalan tersendiri. Penafsir modern membacanya sebagai apa yang tampak dari sudut pandang pengamat, dan pembacaan itu masuk akal buat orang yang berdiri di pantai. Yang tidak bisa dijelaskan dengan cara yang sama, tempat itu digambarkan sebagai lokasi yang bisa dicapai dengan berjalan.
Ujian yang jawabannya sudah ada di ruangan
Kalau riwayat sebabnya benar, surat ini jawaban atas soal ujian yang disusun orang-orang yang sudah tahu jawabannya. Dan tiga dari empat bahan jawabannya bisa ditemukan dalam cerita yang beredar di kalangan itu juga.
Ini tidak membuktikan siapa menyalin dari siapa, dan menuduh begitu butuh bukti yang tidak dimiliki siapa pun sekarang. Yang bisa dikatakan cuma satu: sebuah ujian kenabian yang jawabannya sudah beredar di dunia sekitar tidak bisa dipakai membuktikan apa-apa, ke arah mana pun.
Dukung Qurai
Dukung kerja sunyi di balik setiap tulisan.
Di balik tiap tulisan ada proses membaca, membandingkan, dan merapikan jejak. Setiap dukungan ikut menjaga proses itu tetap berjalan.