← Bedah Surat

QS 034  ·  Saba 34:1-54  ·  Makkiyah  ·  13 menit

Saba': Rayap yang Membongkar Kabar Kematian

Sulaiman mati sambil bersandar pada tongkatnya, dan pasukan jin yang bekerja untuknya terus bekerja karena mengira dia masih mengawasi. Baru sesudah rayap memakan tongkatnya dan jasadnya jatuh, mereka tahu. Cerita itu ditaruh di surat ini dengan maksud yang disebutkan terang-terangan: supaya jelas bahwa jin tidak mengetahui yang gaib.

Rayap yang membongkar rahasia

menceritakannya singkat: ketika Kami telah menetapkan kematian atasnya, tidak ada yang menunjukkan kepada mereka kematiannya kecuali rayap yang memakan tongkatnya. Maka waktu dia tersungkur, tahulah para jin itu bahwa kalau mereka mengetahui yang gaib, tentu mereka tidak tetap berada dalam siksa yang menghinakan.

Maksudnya disebut sendiri di kalimat penutup, jadi tidak perlu ditebak. Cerita ini dipasang untuk membuktikan bahwa jin tidak tahu apa-apa di luar yang kelihatan.

Bagian yang jarang diperhatikan, di kalimat itu jin disebut berada dalam siksa yang menghinakan. Jadi pekerjaan yang di An-Naml terdengar seperti pengabdian, di sini disebut hukuman. Yang bekerja untuk Sulaiman itu tenaga paksa.

Dan hasil kerjanya disebut di ayat sebelumnya: gedung tinggi, patung, piring sebesar kolam, dan periuk yang tetap di tempatnya. Bangunan besar yang dikerjakan tenaga yang tidak boleh menolak.

Batas yang tidak bertahan di luar halaman

Kalau cerita rayap itu dibaca apa adanya, kesimpulannya jelas dan justru menyempitkan: golongan yang tidak kelihatan itu tidak tahu apa-apa, bahkan tidak tahu majikannya sudah mati berhari-hari.

Kesimpulan itu seharusnya menutup seluruh perdagangan yang memakai nama mereka. Kalau jin tidak tahu yang gaib, jasa yang menawarkan kabar dari alam gaib lewat perantaraan jin tidak punya barang untuk dijual.

Kenyataannya tidak begitu. Di sini nama Sulaiman tetap dipakai di jimat, di ilmu hikmah, dan di jasa pelaris dagangan, dan yang dikutip selalu bagian kekuasaannya, bukan bagian rayapnya. Bahkan di pengajian yang membahas surat ini, adegan rayapnya biasanya diceritakan sebagai keajaiban, bukan sebagai batas.

Ini menerangkan sesuatu tentang cara cerita beredar. Bagian yang membatasi jarang menyebar, sedangkan bagian yang menjanjikan kemampuan selalu menemukan jalannya sendiri.

Bendungan yang jebol

menceritakan negeri Saba dengan dua kebun di kanan dan di kiri, lalu penduduknya berpaling, lalu Kami datangkan kepada mereka banjir besar, dan Kami ganti kedua kebun itu dengan kebun yang pahit buahnya.

Kejadiannya nyata dan bisa ditelusuri di luar kitab ini. Bendungan Ma'rib di Yaman memang jebol beberapa kali, yang terbesar sekitar abad keenam, dan runtuhnya membuat penduduk berpindah ke utara.

Jadi yang diceritakan bukan legenda, melainkan peristiwa yang jejaknya masih ada.

Yang jadi soal cara membacanya. Bendungan tanah yang berumur ratusan tahun, menahan banjir bandang musiman, dan perawatannya bergantung pada kerajaan yang saat itu sudah melemah, punya keterangan teknis yang cukup untuk menjelaskan kejatuhannya.

Keterangan itu tidak membatalkan pembacaan moralnya, dan pembacaan moralnya juga tidak membatalkan keterangan tekniknya. Yang tidak bisa dikerjakan cuma satu: memakai peristiwanya sebagai bukti, sebab peristiwa yang sudah punya sebab sendiri tidak membuktikan sebab yang lain.

Kaya sebagai bukti, kaya sebagai ujian

merekam kalimat orang yang menolak: kami lebih banyak harta dan anak, dan kami sekali-kali tidak akan diazab.

membalasnya: bukan harta dan bukan anak-anak kalian yang mendekatkan kalian kepada Kami sedikit pun, kecuali orang yang beriman dan beramal saleh.

Bantahan ini kuat dan masih dipakai sampai sekarang, terutama untuk mengingatkan orang bahwa hidup enak bukan tanda apa-apa.

Yang menyulitkan, di banyak tempat lain di kitab yang sama, kelapangan rezeki justru disebut sebagai buah dari syukur dan ketaatan. Dua bacaan itu tidak bisa dipegang sekaligus tanpa pembagian, dan pembagiannya selalu dipasang belakangan: yang kaya dan saleh disebut diberi karunia, yang kaya dan tidak saleh disebut diberi istidraj. Ukurannya ditentukan sesudah melihat orangnya, bukan sebelum.

Saling menunjuk di akhir

memuat adegan yang jarang dibicarakan: orang-orang yang lemah dan orang-orang yang menyombongkan diri saling membantah di hadapan Tuhannya.

Yang lemah berkata, kalau bukan karena kalian, tentu kami jadi orang beriman. Yang menyombongkan diri membalas, apakah kami yang menghalangi kalian dari petunjuk sesudah petunjuk itu datang kepada kalian? Tidak, kalianlah yang berbuat dosa.

Percakapan itu tidak diputus oleh keterangan siapa yang benar. Yang datang sesudahnya cuma penyesalan yang disembunyikan dan belenggu di leher keduanya.

Yang tersisa dari adegan ini pertanyaan yang tidak pernah tuntas di kitab mana pun: berapa besar tanggung jawab orang yang mengikuti, dan berapa besar tanggung jawab orang yang memimpinnya. Surat ini menghukum dua-duanya dan membiarkan pembagiannya menggantung.

Bagikan artikel

Bantu tulisan ini menemukan pembaca yang tepat.

Dukung Qurai

Dukung kerja sunyi di balik setiap tulisan.

Di balik tiap tulisan ada proses membaca, membandingkan, dan merapikan jejak. Setiap dukungan ikut menjaga proses itu tetap berjalan.

Dukung via Saweria