QS 011 · Hud 11:1-123 · Makkiyah · 14 menit
Hud: Satu Korban yang Diberi Nama
Kaum Nuh, Ad, Tsamud, kaum Luth, penduduk Madyan, lalu Firaun. Enam kali dalam satu surat, dan enam-enamnya berakhir sama. Tapi Hud punya sesuatu yang tidak ada di surat kehancuran lain: satu korban yang diberi nama, punya ayah, dan sempat menawar. Anak Nuh naik ke gunung waktu air mulai tinggi, dan bapaknya berteriak memanggilnya.
Anak yang dicoret dari daftar keluarga
menaruh adegan yang tidak ada bandingnya di surat lain. Bahtera sudah berlayar di tengah ombak setinggi gunung, dan Nuh memanggil anaknya yang berdiri terpisah: naiklah bersama kami, jangan ikut orang-orang kafir.
Anak itu menjawab dengan kalimat yang masuk akal buat siapa saja yang panik: aku akan berlindung ke gunung, gunung itu akan menyelamatkanku dari air.
Sesudah air menutupnya, Nuh mengadu bahwa anaknya termasuk keluarganya dan janji Tuhan itu benar. Jawabannya datang di : dia bukan termasuk keluargamu, sesungguhnya perbuatannya tidak baik.
Kalimat itu menyelesaikan persoalan teologisnya dengan rapi dan meninggalkan persoalan lain yang tidak disentuh. Nyawa anak itu hilang, dan status ayahnya sebagai ayah ikut dicabut. Dan seorang bapak yang baru saja menyaksikan anaknya tenggelam ditegur karena masih menganggapnya anak.
Di Nusantara ada cerita yang bentuknya mirip tapi arahnya terbalik. Malin Kundang durhaka lalu dikutuk ibunya sendiri jadi batu, dan di situ yang memutuskan hubungan justru pihak yang ditinggalkan. Di Hud, Nuh ingin mempertahankan anaknya, dan yang memutuskan datang dari luar keduanya. Anak-anak di sini hafal cerita pertama sejak sekolah dasar, dan hampir tidak pernah diajak menaruh cerita kedua di sebelahnya.
Kota sebagai satu tubuh
Ad, Tsamud, kaum Luth, dan penduduk Madyan berakhir dengan susunan yang sama, dan serta memakai gambaran yang total: suara menggelegar, negeri yang dijungkirbalikkan, hujan batu.
Yang tidak pernah dipisahkan, siapa saja yang ada di dalamnya. Anak kecil, orang yang cuma diam, budak yang tidak punya suara di rapat mana pun, dan orang tua yang tidak sanggup pindah, semuanya masuk ke dalam satu keputusan yang diambil berdasarkan sikap tokoh-tokoh yang bicara paling keras di alun-alun.
Dua anak perempuan yang ditawarkan
menaruh Luth di depan kerumunan yang datang mengincar tamunya. Jalan keluar yang ditawarkannya: inilah anak-anak perempuanku, mereka lebih suci bagi kalian.
Tafsir klasik menempuh macam-macam jalan untuk melunakkannya, dari membacanya sebagai tawaran menikah sampai menyebut anak perempuan di situ berarti perempuan sekampung. Semua jalan itu ditempuh karena bunyi harfiahnya memang tidak enak dipegang.
Dan kritik atas adegan ini tidak butuh moral agama mana pun untuk berdiri. Cukup satu prinsip: tubuh orang lain tidak boleh dipakai sebagai alat tukar untuk meredakan ancaman, sekalipun yang menawarkan sedang terdesak dan sekalipun yang dilindungi memang layak dilindungi.
Yang meminta bukti selalu jadi tokoh antagonis
Di tiap putaran, kaumnya mengucapkan hal yang sebetulnya wajar. Kami tidak melihat kamu selain manusia biasa seperti kami. Yang mengikutimu cuma orang-orang rendahan di antara kami. Kami tidak melihat kalian punya kelebihan apa pun atas kami.
Keberatan-keberatan itu tidak dijawab satu per satu. Yang datang sesudahnya bencana, dan bencananya sekaligus berfungsi sebagai jawaban.
bahkan menantang mereka membuat sepuluh surat semisalnya. Susunan ini yang berulang: pertanyaan dijawab dengan tantangan, tantangan dijawab dengan hukuman, dan sesudah hukumannya datang tidak ada lagi yang tersisa untuk bertanya.
Dibiarkan berbeda, lalu ditagih
menutup dengan kalimat yang jarang dikutip di mimbar. Kalau Tuhanmu menghendaki, tentu Dia jadikan manusia satu umat saja, tapi mereka senantiasa berselisih.
melanjutkannya dengan pengecualian orang yang dirahmati, lalu ditutup: dan untuk itulah Allah menciptakan mereka. Kalimat berikutnya menyatakan Jahanam akan diisi penuh oleh jin dan manusia.
Dibaca berurutan, tiga kalimat itu menyusun sesuatu yang berat. Perbedaan pendapat manusia bukan kecelakaan yang perlu diperbaiki, melainkan keadaan yang memang dibiarkan ada. Lalu keadaan yang dibiarkan itu jadi dasar mengisi neraka.
Penafsir sesudahnya membaca kalimat terakhir sebagai keterangan tentang tujuan penciptaan yang lain, yaitu rahmat, bukan perselisihannya. Pembacaan itu mungkin benar, dan tetap tidak menghilangkan urutan yang tertulis.
Harga sebuah pola, dihitung satu orang
Surat kehancuran biasanya mengandalkan angka besar dan nama kaum, dan angka besar tidak pernah terasa. Hud sekali saja memperkecil jaraknya, di adegan Nuh memanggil anaknya, dan sekali itu cukup untuk memperlihatkan apa yang selama ini disembunyikan hitungan besar.
Kalau ada satu orang yang bisa berdiri di gunung sambil salah menilai keadaan, di lima kota lainnya kemungkinan besar ada ribuan orang seperti itu. Surat ini tidak menyebut mereka, dan tidak menyebut bukan berarti tidak ada.
Dukung Qurai
Dukung kerja sunyi di balik setiap tulisan.
Di balik tiap tulisan ada proses membaca, membandingkan, dan merapikan jejak. Setiap dukungan ikut menjaga proses itu tetap berjalan.