← Bedah Surat

QS 102  ·  At-Takasur 102:1-8  ·  Makkiyah  ·  7 menit

At-Takasur: Berlomba Memperbanyak Sampai ke Kubur

Delapan ayat yang isinya satu penyakit, dan penyakit itu justru lebih besar sekarang daripada waktu kalimatnya disusun. Yang disebut berlomba memperbanyak, dan yang dilombakan tidak disebutkan apa, sebab memang tidak perlu disebutkan.

Berlomba memperbanyak

memuat satu kata yang jadi nama surat ini: bermegah-megahan telah melalaikan kalian.

Kata at-takatsur berarti berlomba memperbanyak, dan yang dilombakan tidak disebutkan. Penafsir mengisinya dengan harta dan jumlah anggota suku, sebab dua hal itu yang dipakai orang Arab menghitung kedudukan.

Kekosongan itu justru yang membuat kalimatnya bertahan. Yang dilombakan berganti tiap zaman, dan bentuk perlombaannya tidak berubah.

Bentuknya sekarang bisa disebut satu per satu. Isi rumah yang dipamerkan lewat video pendek, sekolah anak yang disebutkan namanya dalam percakapan, kendaraan yang dicicil supaya kelihatan di halaman, dan jumlah pengikut yang dihitung tiap hari. Semuanya perlombaan yang tidak punya garis akhir, sebab yang dikejar bukan jumlah tertentu melainkan lebih banyak daripada orang di sebelah.

Yang membuat kalimat ini tajam kata keduanya, yaitu melalaikan. Yang dipersoalkan bukan punya banyak, melainkan perhatian yang habis dipakai menghitung. Dan itu ukuran yang bisa dipakai siapa saja tanpa perlu menerima apa pun tentang akhirat.

Sampai kalian masuk ke kubur

menyebut kapan perlombaan itu berhenti: sampai kalian masuk ke dalam kubur.

Kata yang dipakai zurtum, yang arti dasarnya berziarah atau berkunjung, jadi bunyi harfiahnya sampai kalian berziarah ke kubur.

Pilihan kata itu punya dua bacaan. Yang pertama membacanya sebagai kematian, dan kubur disebut tempat yang dikunjungi karena tinggalnya sementara sebelum dibangkitkan. Yang kedua membacanya sebagai kebiasaan orang Arab yang menghitung kehormatan sampai ke jumlah orang mati di makam sukunya, jadi perlombaannya benar-benar dibawa sampai ke kuburan.

Bacaan kedua lebih pahit dan lebih sesuai dengan ayat pertamanya. Orang itu tidak berhenti berlomba karena mati; perlombaannya diteruskan di makam. Bentuk itu masih ada di sini, dan kelihatan pada nisan bertingkat, biaya selamatan yang dibandingkan antar tetangga, dan makam keluarga yang dipagar tembok.

Kalian akan ditanya tentang kenikmatan

menutup surat: kemudian kalian pasti akan ditanya pada hari itu tentang kenikmatan.

Kata naim berarti kenikmatan pada umumnya, dan tidak dibatasi apa pun di ayatnya.

Dari kalimat itu lahir dua arah yang berlawanan. Satu arah membacanya sebagai peringatan bahwa segala yang dinikmati akan ditagih pertanggungjawabannya, termasuk air dingin dan naungan, dan dari sana tumbuh tradisi zuhud yang menghindari kesenangan supaya tidak menambah tagihan. Arah lain membacanya sebagai pertanyaan tentang apa yang dikerjakan dengan nikmat itu, bukan tentang nikmatnya sendiri.

Perbedaan antara dua bacaan itu bukan urusan halus. Yang pertama menghasilkan orang yang merasa bersalah karena menikmati apa pun, dan yang kedua menghasilkan orang yang ditanya apakah yang dinikmatinya dibagi. Surat ini tidak memilihkan salah satunya, dan yang memilih selalu pembacanya.

Tiga tingkat keyakinan

memakai dua sebutan berturut-turut: sekali-kali tidak, sekiranya kalian mengetahui dengan pengetahuan yang yakin, niscaya kalian benar-benar akan melihat neraka Jahim, kemudian kalian benar-benar akan melihatnya dengan mata yang yakin.

Dari dua sebutan itu, ilmu yang yakin dan mata yang yakin, penulis belakangan menyusun tangga tiga tingkat dengan menambahkan tingkat ketiga, yaitu kebenaran yang yakin, yang diambil dari .

Tangga tiga tingkat itu sekarang diajarkan di banyak pengajian sebagai satu susunan yang utuh. Ketiga istilahnya sebenarnya tersebar di dua surat yang berbeda dan tidak pernah disebut sebagai tingkatan di ayat mana pun. Yang menyusunnya jadi tangga penulis sesudahnya, dan penyusunan itu bukan hal terlarang selama asalnya tidak ikut hilang.

Bagikan artikel

Bantu tulisan ini menemukan pembaca yang tepat.

Dukung Qurai

Dukung kerja sunyi di balik setiap tulisan.

Di balik tiap tulisan ada proses membaca, membandingkan, dan merapikan jejak. Setiap dukungan ikut menjaga proses itu tetap berjalan.

Dukung via Saweria