← Bedah Surat

QS 094  ·  Al-Insyirah 94:1-8  ·  Makkiyah  ·  8 menit

Al-Insyirah: Kalimat Penghibur yang Paling Sering Dipakai

Satu kalimat di surat ini diulang dua kali berturut-turut, dan sekarang jadi kalimat penghibur yang paling sering dipakai di Indonesia. Tercetak di mug, di dinding kamar kos, di takarir orang yang baru kehilangan pekerjaan, dan di iklan bank. Sesudah dipakai sebanyak itu, yang tersisa dari isinya pantas diperiksa.

Kalimat yang paling sering dipakai menghibur

mengulang satu kalimat dua kali berturut-turut tanpa perubahan: maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan, sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.

Kata yang dipakai ma'a, yaitu bersama, bukan sesudah. Perbedaan itu bukan urusan kecil. Sesudah berarti menunggu, bersama berarti dua-duanya berjalan bersamaan.

Terjemahan yang paling sering beredar di sini memakai kata sesudah, dan itu yang masuk ke poster, kaos, dan pidato kelulusan. Bacaan yang memakai kata bersama lebih dekat ke bunyi Arabnya dan sekaligus lebih sulit dijadikan janji, sebab tidak menjanjikan bahwa kesulitannya akan lewat.

Yang terjadi pada kalimat ini sesudah dipakai jutaan kali sama dengan yang terjadi pada kalimat penghibur mana pun. Yang tersisa bunyinya, dan bunyinya dipakai menutup pembicaraan. Orang yang sedang susah dan mendengar kalimat ini dari orang lain sering menerima dua hal sekaligus: penghiburan, dan tanda bahwa keluhannya tidak akan didengarkan lebih jauh.

Yang tidak berubah, isinya tetap masuk akal buat orang yang mengucapkannya kepada dirinya sendiri. Perbedaan antara dua pemakaian itu bukan perbedaan tafsir, melainkan perbedaan antara siapa yang bicara dan siapa yang sedang menanggung.

Satu kesulitan dan dua kemudahan

Ada hitungan tua yang dibangun di atas dua ayat ini, dan dasarnya bentuk kata dalam bahasa Arab. Kata untuk kesulitan dipakai dengan kata sandang tertentu di dua ayat itu, sedangkan kata untuk kemudahan dipakai tanpa kata sandang.

Menurut kaidah yang dipegang penafsir, kata bersandang yang diulang menunjuk hal yang sama, dan kata tanpa sandang yang diulang menunjuk dua hal yang berbeda. Jadi kesulitannya satu dan kemudahannya dua.

Kesimpulan itu dikaitkan dengan Ibnu Abbas dan Hasan al-Basri, dan bunyinya jadi kalimat yang beredar sampai sekarang: satu kesulitan tidak akan mengalahkan dua kemudahan.

Benar atau salahnya hitungan ini urusan lain. Hitungan itu memperlihatkan seberapa banyak yang bisa digantungkan pada satu ciri tata bahasa. Susunan tata bahasa yang sama juga muncul di tempat lain tanpa menghasilkan kesimpulan sebesar itu, dan yang membuatnya menghasilkan kesimpulan di sini keinginan pembacanya untuk menemukan janji yang bisa dihitung.

Beban yang memberatkan punggung

menyebut sesuatu yang sudah dihilangkan: dan Kami telah menghilangkan darimu bebanmu, yang memberatkan punggungmu.

Kata yang dipakai wizr, dan kata itu di tempat lain dalam Al-Qur'an hampir selalu berarti dosa atau tanggungan kesalahan.

Dari situ muncul pertanyaan yang tidak nyaman buat penafsir, sebab tokoh yang dibicarakan dipegang sebagai orang yang terjaga dari dosa. Jalan yang ditempuh bermacam-macam: sebagian membacanya sebagai kesalahan sebelum diangkat jadi nabi, sebagian sebagai beban tugas yang berat, sebagian sebagai kegelisahan menghadapi kaumnya.

Mana yang benar tidak terlalu penting di sini. Ketiga jalan itu sama-sama ditempuh belakangan untuk menghindari arti kata yang paling lazim di kitab yang sama. Kalau kata wizr di sini dibaca seperti kata wizr di tempat lain, susunannya sederhana dan sekaligus tidak cocok dengan gambaran yang sudah dipegang lebih dulu.

Apabila telah selesai, tegaklah

menutup surat: maka apabila engkau telah selesai dari suatu urusan, tetaplah bekerja keras untuk urusan yang lain, dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya engkau berharap.

Bunyinya tidak menjanjikan istirahat. Yang diperintahkan berpindah ke pekerjaan berikutnya begitu satu selesai.

Dibaca berdampingan dengan ayat 5 dan 6, dua penutup ini justru mengubah nada seluruh surat. Kemudahan yang dijanjikan bukan berhentinya beban, melainkan kemampuan meneruskan, dan itu bacaan yang jauh lebih keras daripada bacaan yang beredar di poster.

Sebutan yang ditinggikan

menyebut satu hal yang sudah diberikan: dan Kami tinggikan bagimu sebutan namamu.

Penafsir umumnya menghubungkannya dengan penyebutan nama Muhammad di dalam syahadat dan azan. Kalau hubungan itu dipakai, ayat ini menerangkan sesuatu yang baru terjadi jauh sesudah kalimatnya diucapkan, dan pembacaan semacam itu cuma bisa dilakukan dari belakang. Yang bisa dibaca dari ayatnya sendiri lebih sedikit, yaitu penghiburan kepada orang yang waktu itu justru sedang diejek.

Bagikan artikel

Bantu tulisan ini menemukan pembaca yang tepat.

Dukung Qurai

Dukung kerja sunyi di balik setiap tulisan.

Di balik tiap tulisan ada proses membaca, membandingkan, dan merapikan jejak. Setiap dukungan ikut menjaga proses itu tetap berjalan.

Dukung via Saweria