QS 045 · Al-Jasiyah 45:1-37 · Makkiyah · 12 menit
Al-Jasiyah: Pendapat Lawan yang Dikutip Utuh
Ada satu kalimat di surat ini yang isinya pandangan orang yang tidak percaya, dikutip utuh tanpa dipelintir: tidak ada kehidupan selain kehidupan kita di dunia ini, kita mati dan kita hidup, dan tidak ada yang membinasakan kita selain waktu. Sedikit sekali kitab suci yang mau menuliskan pendapat lawannya sejelas itu.
Pendapat yang dikutip lengkap
memuatnya apa adanya: dan mereka berkata, tidak ada kehidupan melainkan kehidupan kita di dunia ini, kita mati dan kita hidup, dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa.
Kalimat itu ringkas dan utuh. Ada penolakan atas kehidupan sesudah mati, ada keterangan bahwa hidup dan mati berjalan sendiri, dan ada sebab yang ditawarkan sebagai gantinya, yaitu waktu.
Untuk kitab yang di banyak tempat menggambarkan lawan bicaranya sebagai orang sombong dan tuli, kutipan ini pengecualian yang jarang. Yang ditulis pendapatnya, bukan karikaturnya.
Dan pendapat itu sampai sekarang masih dipegang banyak orang, dengan susunan yang hampir tidak berubah. Yang dianggap membinasakan sekarang disebut penyakit, kecelakaan, dan penuaan sel, tapi bentuk kalimatnya sama: sebabnya ada di dunia ini, bukan di luar.
Di negeri ini pendapat semacam itu jarang diucapkan terang-terangan, dan bukan karena tidak ada yang memegangnya. Orang yang berpikir begitu biasanya memilih diam, ikut selamatan, dan menjawab seperlunya kalau ditanya di kolom komentar.
Yang datang sesudah kutipannya
Kalimat penutup ayat yang sama sudah memberi penilaian: mereka tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka hanyalah menduga-duga.
melanjutkan dengan permintaan mereka: datangkanlah kembali nenek moyang kami kalau kalian orang yang benar. Jawabannya di ayat berikutnya, Allah yang menghidupkan dan mematikan, lalu mengumpulkan kalian di hari kiamat.
Perhatikan apa yang tidak terjadi di antara dua ayat itu. Pendapat mereka tidak dibantah isinya. Yang dikerjakan menyebut mereka menduga-duga, lalu menyatakan yang sebaliknya.
Padahal tuduhan menduga-duga itu berlaku dua arah dan bisa dikembalikan tanpa diubah sedikit pun. Orang yang menyatakan tidak ada kehidupan sesudah mati memang tidak punya bukti, dan orang yang menyatakan ada juga tidak. Ayat ini menyebut kekurangan itu pada satu pihak saja.
Hawa nafsu sebagai tuhan
memuat gambaran yang tajam: apakah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya, dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan pengetahuan-Nya.
Sebagai pengamatan tentang manusia, kalimat pertamanya bagus dan berlaku umum. Orang memang bisa menyusun seluruh hidupnya di sekitar keinginannya sendiri, lalu membela keinginan itu seperti membela keyakinan.
Kalimat keduanya yang menyulitkan. Sesudah menyebut orangnya memilih hawa nafsu, ayat yang sama menyebut Allah yang membiarkannya sesat, lalu menutup pendengaran dan hatinya serta menaruh penutup di penglihatannya.
Dua keterangan itu tidak bisa berdiri bersamaan tanpa pembagian. Kalau orangnya yang memilih, penutupnya tidak perlu. Kalau penutupnya dipasang, pilihannya tidak menentukan. Susunan ini sudah muncul di banyak surat, dan di sini bentuknya paling padat karena dua-duanya ada dalam satu ayat.
Pengetahuan yang disebut memecah
menerangkan kenapa berpecah: mereka tidak berselisih kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian di antara mereka.
Susunan ini muncul juga di surat lain, dan bentuknya konsisten: perpecahan selalu diterangkan datang sesudah pengetahuan, bukan sebelum.
Sebagai pengamatan, ini justru tepat dan menarik. Kelompok yang belum punya rumusan tertulis jarang bertengkar soal rumusan; yang bertengkar kelompok yang sudah punya dan mulai berbeda menafsirkannya.
Yang ditambahkan surat ini sebabnya, yaitu kedengkian. Dan begitu sebabnya dipasang di situ, perbedaan penafsiran berhenti diperlakukan sebagai hal yang wajar terjadi pada naskah apa pun yang dibaca banyak orang, dan berubah jadi soal akhlak. Cara membaca itu masih dipakai sampai sekarang, termasuk terhadap sesama Muslim yang berbeda .
Berlutut menunggu catatan
memberi nama surat ini: dan kamu akan melihat tiap umat berlutut, tiap umat dipanggil untuk melihat catatannya sendiri.
Gambarannya sederhana dan kuat: tidak ada pembelaan, tidak ada pengacara, dan tidak ada perdebatan. Yang ada catatan yang dibacakan.
menutupnya: inilah catatan Kami yang menuturkan kepada kalian dengan sebenarnya, sesungguhnya Kami menyuruh mencatat apa yang kalian kerjakan.
Untuk gagasan keadilan, bentuk ini punya kelebihan yang jelas dibanding pengadilan mana pun di dunia: tidak ada saksi yang bisa dibeli dan tidak ada berkas yang bisa hilang. Dan punya kekurangan yang sama jelasnya: yang mencatat, yang membacakan, dan yang memutus pihak yang sama, dan di surat lain pihak itu sudah dinyatakan tidak bisa ditanya.
Dukung Qurai
Dukung kerja sunyi di balik setiap tulisan.
Di balik tiap tulisan ada proses membaca, membandingkan, dan merapikan jejak. Setiap dukungan ikut menjaga proses itu tetap berjalan.