QS 020 · Taha 20:1-135 · Makkiyah · 14 menit
Taha: Enam Kata yang Memecah Seribu Tahun
Ayat kelima surat ini memuat enam kata yang memecah teolog Islam selama seribu tahun: Yang Maha Pengasih bersemayam di atas . Kalau dibaca apa adanya, kalimat itu menyebut tempat. Kalau tempat disebut, yang punya tempat jadi punya batas. Dan perdebatan soal cara membaca satu kalimat ini masih berlangsung, termasuk di grup pengajian di sini.
Kalimat yang menyebut tempat
berbunyi pendek: Yang Maha Pengasih bersemayam di atas Arasy. Kata kerjanya istawa, dan artinya di kamus jelas: naik, menetap, berada di atas.
Dari satu kalimat ini lahir dua kubu yang tidak pernah berdamai. Kubu pertama membacanya apa adanya dan menyatakan Tuhan memang berada di atas, tanpa menanyakan caranya. Kubu kedua menyatakan kalimat itu kiasan untuk kekuasaan, sebab yang tidak terbatas tidak mungkin punya lokasi.
Dua-duanya bayar ongkos. Yang membaca apa adanya harus menerima bahwa yang tidak terbatas punya arah, dan arah selalu berarti ada tempat yang bukan tempatnya. Yang membacanya kiasan harus menerima bahwa kalimat lugas di kitab yang menyebut dirinya jelas ternyata tidak boleh dibaca lugas, dan begitu pintu itu dibuka susah ditutup lagi untuk ayat berikutnya.
Di sini pertengkaran itu masih hidup dan sangat kelihatan. Ceramah yang menekankan Allah di atas Arasy beredar berdampingan dengan ceramah yang menyebut pemahaman begitu menyamakan Tuhan dengan makhluk, dan dua-duanya mengutip ayat yang sama.
Mukjizat sebagai pertandingan
menyusun adegan yang bentuknya sangat khas: hari raya, waktu duha, orang banyak dikumpulkan, dan dua pihak diminta menunjukkan kemampuannya bergantian.
Para penyihir melempar duluan, tali dan tongkat mereka terlihat merayap. Musa melempar dan tongkatnya menelan semuanya.
Bentuk pembuktian semacam ini punya kesulitan bawaan. Kemampuan yang lebih besar memang terlihat, tapi kebenaran ajarannya tidak. Kalau yang menentukan siapa yang tongkatnya lebih hebat, maka yang dibuktikan cuma bahwa satu pihak lebih kuat, dan kuat tidak sama dengan benar.
Para penyihir itu sendiri langsung percaya, dan alasannya masuk akal buat orang yang seprofesi: mereka tahu batas trik yang bisa dikerjakan manusia, dan yang mereka lihat melewatinya. Tapi itu penilaian ahli terhadap peristiwa yang cuma sekali terjadi dan tidak ada yang bisa memeriksanya lagi.
Yang percaya lalu diancam disalib
merekam jawaban Firaun kepada para penyihir yang baru saja beriman: aku akan memotong tangan dan kaki kalian bersilangan, dan menyalib kalian pada pangkal pohon kurma.
Jawaban mereka di ayat berikutnya termasuk kalimat paling kuat di surat ini. Mereka menyatakan tidak akan mengutamakan Firaun atas bukti yang sudah datang kepada mereka, dan menyuruhnya memutuskan apa saja yang mau diputuskan.
Bagian ini kuat tanpa perlu dibela sama sekali. Orang yang berubah pikiran karena melihat sesuatu, lalu menanggung akibatnya, adalah gambaran keberanian yang bisa dimengerti siapa pun, di zaman mana pun.
Hukuman yang dijatuhkan ke orang dalam
Sesudah Firaun tenggelam, surat ini berbalik ke dalam. menceritakan Samiri yang membuat patung anak sapi dari perhiasan yang dikumpulkan, dan kaum yang baru diselamatkan langsung menyembahnya.
Hukuman untuk Samiri disebut di : selama hidup kamu akan berkata jangan menyentuhku. Bukan hukuman mati, melainkan pengucilan yang tidak berbatas waktu, ditambah patungnya dibakar dan abunya dihanyutkan ke laut.
Hukuman terberat di surat ini justru tidak jatuh ke Firaun yang memperbudak satu bangsa, tapi ke orang dalam yang membuat kelompoknya menyimpang. Firaun mati tenggelam bersama pasukannya, selesai. Samiri hidup terus dengan status yang membuat siapa pun tidak boleh mendekatinya.
Susunan seperti ini muncul di banyak kelompok, jauh melampaui satu agama. Ancaman dari luar melahirkan perlawanan, tapi penyimpangan dari dalam melahirkan hukuman yang jauh lebih panjang umurnya.
Pohon yang dijanjikan keabadian
menyebut apa yang dijanjikan kepada Adam: maukah aku tunjukkan kepadamu pohon keabadian dan kerajaan yang tidak akan binasa.
Yang ditawarkan bukan kenikmatan, melainkan hidup yang tidak berakhir. Dan yang menawarkan disebut sebagai pihak yang menyesatkan.
menutup dengan ancaman yang bentuknya lain dari biasanya: siapa yang berpaling dari peringatan-Ku, baginya penghidupan yang sempit, dan pada hari kiamat dia dibangkitkan dalam keadaan buta.
Kalimat penghidupan yang sempit sering dipakai untuk menerangkan kesusahan orang lain, dan di situ letak kesulitannya. Sempit itu ukurannya apa, dan siapa yang berhak menyatakan hidup seseorang sedang sempit, tidak pernah disebutkan.
Enam kata yang belum selesai
Taha panjang dan sebagian besarnya cerita, tapi yang paling menentukan nasib surat ini justru enam kata di ayat kelima yang tidak menceritakan apa-apa.
Seribu tahun perdebatan tidak menghasilkan kesepakatan, dan kemungkinan besar tidak akan. Yang bisa dipastikan cuma bahwa dua-duanya tidak bisa benar sekaligus, dan bahwa kitab yang berulang kali menyebut dirinya jelas menyimpan salah satu kalimat paling tidak jelas justru di halaman-halaman pertamanya.
Dukung Qurai
Dukung kerja sunyi di balik setiap tulisan.
Di balik tiap tulisan ada proses membaca, membandingkan, dan merapikan jejak. Setiap dukungan ikut menjaga proses itu tetap berjalan.