QS 023 · Al-Mu'minun 23:1-118 · Makkiyah · 14 menit
Al-Mu'minun: Urutan Rahim dan Siapa yang Menulisnya Lebih Dulu
Beberapa ayat di surat ini menerangkan bagaimana manusia dibentuk di dalam rahim: air mani jadi segumpal darah, jadi segumpal daging, lalu tulang, lalu tulangnya dibungkus daging. Urutan itu jadi bahan andalan ceramah selama puluhan tahun, dipakai untuk menunjukkan bahwa kitab ini sudah tahu yang baru diketahui mikroskop. Pertanyaan yang jarang diajukan: siapa lagi yang sudah menulis urutan itu sebelumnya.
Urutan yang jadi andalan ceramah
menyusunnya bertahap: manusia dari saripati tanah, lalu air mani di tempat yang kokoh, lalu segumpal darah, lalu segumpal daging, lalu tulang, lalu tulang itu dibungkus dengan daging.
Urutan ini beredar luas sekali di sini. Muncul di ceramah, di buku laris, di kelas biologi sekolah Islam, dan pernah dipromosikan besar-besaran lewat seorang ahli anatomi Kanada yang dibawa berkeliling untuk menyatakan bahwa keterangan itu tidak mungkin diketahui abad ketujuh.
Yang tidak ikut dibawa, catatan bahwa urutan serupa sudah tertulis jauh sebelumnya. Galenus, dokter Yunani abad kedua yang karyanya dipelajari di seluruh wilayah dari Aleksandria sampai Persia, sudah menyebut tahapan mani, gumpalan darah, lalu daging, lalu tulang yang kemudian terbungkus. Karyanya diterjemahkan ke bahasa Syriac dan dipakai di sekolah kedokteran Jundishapur, tidak jauh dari jalur dagang Arab.
Yang cocok dan yang tidak
Kalau dicocokkan dengan yang diketahui sekarang, sebagian urutan itu memang tidak tepat. Tulang dan otot tidak terbentuk berurutan, keduanya tumbuh bersamaan dari lapisan yang sama. Dan tahap segumpal darah tidak menggambarkan apa pun yang benar-benar terjadi; embrio pada minggu-minggu awal bukan gumpalan darah.
Penafsir modern menyelesaikan ini dengan mencari arti lain untuk kata-katanya, misalnya sesuatu yang menggantung atau melekat, dan arti itu memang ada di kamus. Jalan keluarnya sah.
Jalan itu selalu ditempuh sesudah keterangan barunya tersedia. Selama seribu tahun kata itu dibaca sebagai gumpalan darah oleh hampir semua penafsir, karena begitulah bunyinya, dan tidak ada yang merasa perlu mencari arti lain sebelum ada yang membantah.
Pola ini berulang di banyak tempat lain, dan bentuknya selalu sama: keterangan yang cocok dipamerkan, yang tidak cocok ditafsir ulang, dan tidak ada keadaan yang pernah dihitung sebagai bukti bahwa keterangannya keliru. Perkaranya dibongkar tersendiri di Pengetahuan yang Tidak Melampaui Zamannya.
Daftar sifat, dan satu pengecualian
membuka dengan daftar yang rapi: orang beriman itu khusyuk dalam salatnya, menjauhi perkataan sia-sia, menunaikan zakat, memelihara kemaluannya, memegang amanat dan janji, dan menjaga salatnya.
Butir ketiga punya pengecualian yang disebut di : kecuali terhadap istri-istri mereka atau apa yang dimiliki tangan kanan mereka.
Ungkapan terakhir itu artinya budak perempuan yang dimiliki. Jadi di dalam daftar yang isinya kesucian diri, ada satu jalur yang dibiarkan terbuka, dan yang berada di jalur itu orang yang statusnya barang milik.
Yang biasa disampaikan waktu daftar ini dibacakan di mimbar cuma enam butirnya, dan pengecualian di butir ketiga hampir tidak pernah ikut dibaca. Bukan karena penceramahnya menyembunyikan sesuatu, tapi karena keadaan yang diandaikan ayat itu sudah tidak ada lagi, dan kitabnya tidak menyediakan kalimat yang menghapusnya.
Tujuh jalan di atas kepala
menyebut Kami telah menciptakan di atas kalian tujuh jalan, dan Kami tidak lengah terhadap ciptaan.
Gambaran langit bertingkat tujuh bukan milik satu tradisi saja. Sudah ada di Babilonia, ada di tulisan Yahudi, dan jadi cara umum menerangkan langit di seluruh Timur Dekat kuno.
Yang menarik justru ketiadaan jarak. Kalau sebuah keterangan tentang alam berasal dari luar zamannya, biasanya ada bagian yang tidak cocok dengan gambaran yang beredar waktu itu. Di sini tidak ada. Susunan langitnya persis susunan yang dipercaya tetangganya.
Permintaan yang ditolak di ujung
menaruh adegan yang menutup surat ini dengan getir. Waktu maut datang, orangnya berkata: ya Tuhanku, kembalikan aku ke dunia, supaya aku berbuat baik terhadap yang telah aku tinggalkan.
Jawabannya satu kata: sekali-kali tidak. Lalu ditambahkan bahwa itu cuma perkataan yang diucapkannya saja, dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari kebangkitan.
Adegan ini bersaudara dengan Firaun yang beriman waktu tenggelam. Susunannya sama: penyesalan yang datang sesudah semuanya jelas dinyatakan tidak berlaku.
Dan alasannya bisa dimengerti dari sisi mana pun. Penyesalan yang muncul waktu tidak ada lagi pilihan memang tidak sama nilainya dengan pilihan yang diambil waktu masih ada risikonya. Yang tidak diselesaikan surat ini cuma satu: kejelasan yang cukup untuk memilih ternyata baru diberikan di saat memilih sudah tidak mungkin.
Dukung Qurai
Dukung kerja sunyi di balik setiap tulisan.
Di balik tiap tulisan ada proses membaca, membandingkan, dan merapikan jejak. Setiap dukungan ikut menjaga proses itu tetap berjalan.