QS 038 · Sad 38:1-88 · Makkiyah · 11 menit
Sad: Hakim yang Memutus Sebelum Mendengar
Dua orang memanjat dinding masuk ke tempat Daud, dan yang satu langsung mengadu: saudaraku ini punya sembilan puluh sembilan ekor kambing, aku cuma satu, dan dia menyuruhku menyerahkannya. Daud menjawab sebelum pihak kedua membuka mulut. Sesudah itu dia sadar sedang diuji, lalu meminta ampun.
Memutus sebelum mendengar
menyusun adegannya rapi. Dua orang memanjat dinding mihrab, Daud terkejut, mereka menenangkannya lalu meminta diputuskan perkaranya dengan adil.
Yang satu bercerita, dan ceritanya memang terdengar timpang: sembilan puluh sembilan lawan satu.
Daud langsung menjawab: sungguh dia telah berbuat zalim kepadamu dengan meminta kambingmu itu untuk ditambahkan kepada kambingnya.
Pihak kedua tidak pernah bicara. Tidak di ayat itu, dan tidak di ayat mana pun sesudahnya. Perkaranya diputus berdasarkan keterangan satu pihak, dan Daud baru sadar sesudah keduanya lenyap.
Ini termasuk pelajaran paling berguna di seluruh kitab ini, dan bentuknya tidak butuh agama untuk dimengerti. Cerita yang timpang selalu terdengar meyakinkan sebelum pihak sebelah membuka mulut.
Kuda yang disembelih
memuat adegan yang jauh lebih sulit dibela. Sulaiman diperlihatkan kuda-kuda yang bagus di sore hari, dia berkata dia mencintai kesenangan itu sampai matahari terbenam, lalu kudanya disuruh dibawa kembali kepadanya, dan dia mengusap kaki dan lehernya.
Sebagian besar penafsir membaca usapan itu sebagai penyembelihan, dan alasannya karena kuda-kuda itu membuatnya lalai dari salat.
Sebagian penafsir lain membacanya harfiah sebagai mengelus, dan menolak seluruh pembacaan penyembelihan.
Kalau bacaan pertama yang dipakai, jalan keluar dari kelalaian adalah membunuh hewan yang tidak bersalah apa-apa. Kalau bacaan kedua yang dipakai, seluruh adegannya jadi tidak jelas maksudnya. Kitabnya tidak memberi keterangan yang menutup pilihan itu, dan tiap pembaca harus memilih sendiri.
Seikat rumput
menyelesaikan perkara Ayyub dengan cara yang menarik: dan ambillah dengan tanganmu seikat rumput, lalu pukullah dengan itu, dan janganlah kamu melanggar sumpah.
Riwayat menyebutkan Ayyub pernah bersumpah akan memukul istrinya sekian kali, karena marah waktu sakit. Sesudah sembuh, sumpahnya jadi beban.
Jalan keluarnya, memukul satu kali dengan seikat rumput yang jumlah tangkainya sesuai sumpahnya. Bunyi sumpahnya dipenuhi, dan istrinya tidak terluka.
Ini kecerdikan yang menolong seseorang, dan sekaligus contoh yang sangat jelas tentang cara memenuhi bunyi aturan tanpa memenuhi maksudnya. Susunan yang sama kemudian jadi bahan pokok , dan dari situ lahir banyak jalan keluar yang bunyinya sah dan isinya menghindar.
Iblis yang menawar lagi
mengulang percakapan yang sudah muncul di dua surat lain. Iblis meminta ditangguhkan sampai hari kebangkitan, dikabulkan sampai waktu yang ditentukan, lalu bersumpah akan menyesatkan mereka semua kecuali hamba-hamba yang terpilih.
Tiga surat memuat percakapan yang sama dengan susunan yang hampir tidak berubah, dan tiap kali permintaannya dikabulkan.
Yang tidak pernah diterangkan di satu pun dari ketiganya: kenapa dikabulkan. Tidak ada tawar-menawar, tidak ada syarat tambahan, dan tidak ada keterangan tentang apa untungnya buat siapa pun selain Iblis.
Kesalahan yang diakui, kesalahan yang dikaburkan
Surat ini punya kelebihan yang tidak dimiliki banyak surat lain: tokoh-tokohnya jatuh, dan kejatuhannya ditulis. Daud memutus sepihak, Sulaiman lalai karena kuda, Ayyub bersumpah waktu marah.
Yang berbeda cara masing-masing diselesaikan. Kesalahan Daud diakui sebagai kesalahan, dan dia meminta ampun. Sumpah Ayyub dicarikan jalan supaya tidak perlu dilanggar dan tidak perlu dijalankan. Perkara kuda Sulaiman dibiarkan cukup kabur sampai penafsirnya sendiri tidak sepakat apa yang terjadi.
Yang paling berguna dari ketiganya tetap yang pertama, dan justru yang paling jarang dipakai. Aturan mendengar kedua pihak sebelum memutus ada di ayat ini, dan hampir tidak pernah dikutip di tempat yang paling membutuhkannya.
Dukung Qurai
Dukung kerja sunyi di balik setiap tulisan.
Di balik tiap tulisan ada proses membaca, membandingkan, dan merapikan jejak. Setiap dukungan ikut menjaga proses itu tetap berjalan.