← Bedah Surat

QS 104  ·  Al-Humazah 104:1-9  ·  Makkiyah  ·  7 menit

Al-Humazah: Kutukan Valid, Hukuman Tidak Proporsional, dan Api yang Membakar sampai ke Hati

Al-Humazah membuka dengan nilai yang bisa disetujui: mengutuk pengumpat dan pencela yang menghitung-hitung harta dan merasa harta itu bisa mengekalkannya. Tapi hukuman yang dijatuhkan untuk pengumpatan dan penimbunan harta adalah api yang membakar sampai ke hati, ditutup rapat, diikat di tiang-tiang panjang. Detail siksaan yang sangat spesifik dan grafis untuk pelanggaran sosial yang, betapapun buruknya, tidak mengakibatkan bahaya fisik kepada siapapun. Proporsi antara 'kejahatan' dan hukuman ini adalah salah satu yang paling sulit dipertahankan dalam surat-surat pendek Makkiyah.

Peta Masalah

Surat ini memuat ketidakproporsionalan ekstrem antara mengumpat dan pencela dengan hukuman api yang membakar sampai ke hati dan diikat di tiang, detail siksaan yang sangat spesifik dan grafis, kriminalisasi mengumpulkan harta tanpa diferensiasi motivasi, dan asumsi bahwa orang yang menimbun harta percaya harta bisa mengekalkannya, klaim tentang motivasi batin yang tidak bisa diverifikasi.

Nilai yang valid, hukuman yang tidak proporsional

mengutuk 'setiap pengumpat dan pencela' (humaza lumaza). Mengumpat, membicarakan keburukan orang di belakangnya, dan mencela secara langsung adalah perilaku yang merusak hubungan sosial dan martabat orang lain. Kecaman terhadap perilaku ini adalah kecaman yang bisa disetujui secara lintas budaya.

Tapi hukuman yang dijatuhkan untuk perilaku ini adalah: dilempar ke Huthamah, api Allah yang dinyalakan, yang membakar sampai ke hati, ditutup rapat atas mereka, diikat di tiang-tiang panjang. Ini adalah deskripsi siksaan yang sangat spesifik dan metodis untuk pelanggaran yang, betapapun buruknya, tidak mengakibatkan bahaya fisik kepada siapapun.

Proporsionalitas adalah salah satu prinsip fundamental dalam etika hukuman. Semua sistem hukum yang matang, dari hukum Romawi hingga prinsip hukum HAM modern, mengharuskan hukuman proporsional dengan pelanggaran. Hukuman fisik abadi yang sangat menyakitkan untuk pelanggaran sosial verbal adalah ketidakproporsionalan yang tidak bisa dibenarkan dalam kerangka keadilan apapun, kecuali dalam sistem di mana yang menghukum adalah otoritas absolut yang tidak terikat prinsip proporsionalitas.

Api yang membakar sampai ke hati

mendeskripsikan Huthamah: 'api (azab) Allah yang dinyalakan, yang (membakar) sampai ke hati.' Deskripsi ini spesifik secara anatomis, api tidak hanya membakar permukaan tapi menembus ke organ internal yang paling dalam.

Spesifisitas ini bukan kebetulan. Ia adalah desain siksaan yang diperhitungkan untuk memaksimalkan penderitaan, bukan hanya membakar dari luar, melainkan dari dalam. Dari perspektif etika kontemporer, desain siksaan yang diperhitungkan untuk memaksimalkan rasa sakit, tanpa tujuan selain penderitaan itu sendiri, adalah definisi penyiksaan.

Konvensi internasional terhadap penyiksaan mendefinisikannya sebagai tindakan yang sengaja menyebabkan rasa sakit atau penderitaan besar. Gambaran neraka dalam surat ini, dan dalam banyak surat lain, memenuhi definisi ini: siksaan yang dirancang, berlangsung abadi, dan tidak memiliki tujuan korektif karena tidak ada jalan keluar. Bahwa ini adalah siksaan ilahi bukan argumen bahwa ia tidak memenuhi definisi penyiksaan, ia hanya berarti bahwa dalam sistem ini, Allah tidak terikat standar yang sama yang diterapkan kepada manusia.

Menimbun harta sebagai jalan ke neraka

mengkritik: 'yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya, dia (manusia) mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya.' Dua kritik digabungkan: akumulasi harta dan ilusi bahwa harta bisa memberikan keabadian.

Ilusi bahwa kekayaan memberikan keabadian adalah kritik psikologis yang valid, ada fenomena nyata di mana orang yang sangat kaya mencari cara untuk meninggalkan warisan yang bertahan, membangun monumen diri, atau bahkan secara harfiah mencari cara memperpanjang hidup biologis. Kritik atas ilusi ini punya dasar.

Tapi teks tidak membatasi dirinya pada kritik atas ilusi keabadian. Framing aslinya mengkritik 'mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya' sebagai tindakan yang membawa seseorang ke neraka. Menghitung dan mengelola kekayaan, yang dalam konteks modern mencakup perencanaan keuangan, tabungan, investasi untuk masa depan, dikriminalisasi sebagai tanda hati yang sakit. Tidak ada diferensiasi antara orang kaya yang wajar dan orang yang terobsesi dengan harta.

Diikat di tiang-tiang panjang

menutup deskripsi neraka dengan: 'Sungguh, api itu ditutup rapat atas (diri) mereka, (sedang mereka itu) diikat pada tiang-tiang yang panjang.' Dua detail ini menambah dimensi imobilisasi pada siksaan api: tidak bisa keluar, tidak bisa bergerak.

Kombinasi api yang menembus ke hati, ruang yang tertutup rapat, dan imobilisasi di tiang adalah gambaran yang sangat lengkap sebagai deskripsi siksaan. Setiap elemen dirancang untuk menghilangkan kemungkinan pelarian atau kenyamanan apapun.

Pertanyaan yang relevan bukan apakah orang yang menghina dan menimbun harta layak mendapat konsekuensi, tentu ada konsekuensi yang wajar untuk perilaku yang merusak komunitas. Pertanyaannya adalah apakah gambaran siksaan yang sedetail dan sepermanen ini adalah cara yang etis untuk memotivasi perilaku baik, atau apakah ia adalah instrumen kontrol melalui teror psikologis. Moralitas yang dibangun di atas ketakutan akan siksaan abadi yang sangat spesifik dan grafis adalah moralitas yang fondasinya adalah rasa takut, bukan pengertian.

Bagikan artikel

Bantu tulisan ini menemukan pembaca yang tepat.

Dukung Qurai

Dukung kerja sunyi di balik setiap tulisan.

Di balik tiap tulisan ada proses membaca, membandingkan, dan merapikan jejak. Setiap dukungan ikut menjaga proses itu tetap berjalan.

Dukung via Saweria