← Bedah Surat

QS 104  ·  Al-Humazah 104:1-9  ·  Makkiyah  ·  7 menit

Al-Humazah: Mengejek Orang dan Menumpuk Harta

Surat ini memasangkan dua hal yang biasanya dipisahkan orang: mengejek sesama dan menumpuk harta. Dua ayat pertamanya menyebutkan keduanya sebagai satu orang yang sama, bukan dua jenis orang. Yang menghubungkan keduanya tidak diterangkan, dan hubungannya justru gampang dikenali.

Dua hal yang dipasangkan

menyusun keduanya berturut-turut: kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela, yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya.

Dua kata di ayat pertama, humazah dan lumazah, dibedakan penafsir. Yang satu mencela dengan isyarat, mata, atau tangan, dan yang satu lagi mencela dengan lidah. Jadi yang disebut dua cara merendahkan orang, bukan satu.

Ayat kedua berpindah ke harta tanpa jeda dan tanpa kata penghubung. Susunannya menyatakan keduanya milik orang yang sama.

Yang menghubungkan keduanya tidak diterangkan di mana pun di surat ini, dan hubungannya gampang dikenali oleh siapa pun yang pernah memperhatikan. Orang menghitung hartanya untuk mengetahui kedudukannya, dan kedudukan cuma punya arti kalau ada yang di bawah. Mengejek orang lain cara paling murah untuk memastikan bahwa yang di bawah masih ada di sana.

Bentuknya sekarang bisa disebut namanya. Konten yang isinya mengerjai orang miskin lalu diberi sedikit uang, ejekan terhadap orang yang barangnya tiruan, dan kolom komentar yang menilai orang dari isi rumahnya. Dua ayat ini menaruh semuanya sebagai satu perkara, bukan dua. Bentuk yang lebih tua juga masih ada di kampung, misalnya waktu besarnya sumbangan hajatan dibacakan di depan tamu.

Harta yang dikira mengekalkan

menyebut isi kepalanya: dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya.

Kata akhladahu berarti membuatnya kekal. Yang dipersoalkan bukan kepercayaan yang diucapkan orangnya, sebab tidak ada yang benar-benar mengatakan bahwa uang membuat orang tidak mati.

Yang dipersoalkan cara orangnya bertindak. Orang yang menghitung hartanya berulang-ulang bertindak seolah waktunya tidak berbatas, dan kalimat di ayat 3 menerangkan tindakan itu, bukan ucapannya. Bentuk pengamatan semacam ini bisa diperiksa siapa saja, dan tidak memerlukan satu pun keyakinan untuk memakainya. Ayat ini termasuk yang sering dibacakan di ceramah tentang cinta dunia, dan yang lebih jarang dibawa ayat sebelumnya yang menyebut mengejek orang sebagai penyakit yang sama.

Api yang naik sampai ke hati

menggambarkan hukumannya: yaitu api yang disediakan Allah yang dinyalakan, yang naik sampai ke hati.

Yang disebut af'idah, yaitu hati sebagai pusat perasaan dan niat, bukan sebagai organ.

Pilihan sasaran itu sejalan dengan isi celaan di ayat 1 sampai 3. Yang dipersoalkan perasaan lebih tinggi daripada orang lain dan anggapan tentang kekekalan, dan dua-duanya berada di tempat yang disebut api itu naik ke sana. Gambaran hukumannya disusun mengikuti letak kesalahannya, dan kerapian semacam itu jarang ada di gambaran siksa yang lain.

Tiang yang dipanjangkan

menutup surat: sesungguhnya api itu ditutup rapat atas mereka, pada tiang-tiang yang panjang.

Dua baris terakhir ini artinya diperdebatkan sejak dulu. Sebagian membaca tiang sebagai pasak yang menahan pintu supaya tidak bisa dibuka, sebagian sebagai tiang tempat orangnya diikat, dan sebagian sebagai bentuk bangunannya. Yang sama di ketiga bacaan cuma satu hal, yaitu tertutupnya, dan itu yang paling menentukan di seluruh gambaran ini.

Bagikan artikel

Bantu tulisan ini menemukan pembaca yang tepat.

Dukung Qurai

Dukung kerja sunyi di balik setiap tulisan.

Di balik tiap tulisan ada proses membaca, membandingkan, dan merapikan jejak. Setiap dukungan ikut menjaga proses itu tetap berjalan.

Dukung via Saweria