QS 003 · Ali Imran 3:1-200 · Madaniyah · 12 menit
Ali Imran: Surat yang Ditulis Sambil Berdebat
Ali Imran ditulis sambil berdebat. Lawan bicaranya kelihatan dari kalimatnya: orang Nasrani yang punya versi lain tentang Isa, orang Yahudi Madinah yang menolak nabi baru, dan orang dalam sendiri yang goyah sesudah kalah di Uhud. Surat yang lahir di tengah pertengkaran diukur dari satu hal. Alasannya kuat, atau cuma kedengaran kuat karena lawannya tidak ikut menulis.
Isa yang ditulis ulang
mengambil Isa yang sudah punya cerita panjang di tangan orang Kristen, lalu memasangnya di tempat baru. Kelahirannya tetap ajaib. Mukjizatnya tetap ada. Maryam tetap dimuliakan. Yang dibuang cuma satu: kesimpulan yang dibangun gereja di atas cerita itu.
Cara memilihnya punya pola. Bagian yang paling sulit dipercaya, yaitu lahir tanpa bapak dan berbicara waktu masih bayi, justru dipertahankan, sebab bagian itu berguna untuk mengangkat derajat kenabiannya. Yang dibuang justru yang bertabrakan dengan . Ukuran yang dipakai bukan ukuran sejarah, melainkan ukuran kecocokan.
menyebut alasannya terang-terangan: Isa itu seperti Adam, diciptakan dari tanah, lalu jadi. Bantahannya rapi. Kalau Adam bisa ada tanpa bapak dan tanpa ibu sekaligus tanpa jadi anak Tuhan, Isa yang cuma tanpa bapak apalagi. Tapi bantahan ini cuma jalan buat orang yang sudah lebih dulu menerima Adam sebagai tokoh yang betul-betul pernah ada. Di luar itu, yang dibandingkan dua-duanya sama-sama belum terbukti.
Tuduhan yang tidak dilengkapi bukti
menuduh sebagian memutar-mutar lidah waktu membaca, supaya yang didengar orang dikira bagian dari kitab padahal bukan. Kedudukan tuduhan ini penting sekali, sebab dari sinilah diterangkan kenapa isi Al-Qur'an berbeda dari Taurat dan Injil yang jauh lebih tua.
Sebagai jalan keluar, rapi sekali. Selisih apa pun dengan naskah terdahulu bisa dijawab satu kalimat: yang terdahulu sudah dirusak.
Sebagai alasan sejarah, tuduhan itu belum selesai. Kapan perubahannya terjadi, siapa yang melakukan, dan naskah mana yang dipakai sebagai pembanding? Itu bukan pertanyaan zaman sekarang yang tidak adil ditimpakan ke abad ketujuh. Salinan Taurat dan Injil sudah beredar luas waktu itu, di sinagoge dan gereja yang jaraknya tidak seberapa dari Madinah, dan bisa diperiksa siapa saja yang mau.
Tanpa itu, tuduhan perubahan kitab berdiri lebih sebagai senjata perdebatan daripada temuan. Kalau yang lama tidak cocok dengan yang baru, yang lama dinyatakan rusak. Cara ini bukan milik Islam sendiri. Gereja memakainya pada tulisan yang tidak diakui masuk daftar resmi kitab suci, dan hampir semua tradisi memakainya waktu berhadapan dengan kitab tetangganya.
Kekalahan yang selalu ada penjelasannya
Perang Uhud dibahas panjang, kira-kira dari sampai , dan yang dibahas bukan taktiknya melainkan artinya. Tujuh puluh orang mati, nabinya terluka, pasukannya pulang dalam keadaan kalah. Kitabnya tidak membiarkan itu berdiri sebagai kekalahan biasa.
Kekalahan diberi tiga arti sekaligus: ujian untuk memisahkan yang benar-benar beriman dari yang pura-pura, akibat dari pemanah yang meninggalkan pos karena mengejar rampasan, dan pelajaran supaya jemaahnya tidak menggantungkan diri pada satu orang. Untuk kelompok yang baru saja dihajar, ini menyelamatkan. Kelompok yang kalah biasanya bubar. Kelompok yang kekalahannya punya tempat dalam rencana yang lebih besar tidak bubar.
Menang di Badar berarti ditolong. Kalah di Uhud berarti diuji. Tidak ada hasil yang bisa membantah keyakinannya, sebab kedua hasil sudah punya jatah tafsir masing-masing.
Keyakinan yang apa pun hasilnya tetap terbukti benar bukan keyakinan yang kuat. Keyakinan seperti itu cuma tidak bisa diuji. Bedanya besar. Repotnya, beda itu paling susah dilihat justru waktu keyakinannya sedang paling menolong.
Sebaik-baik umat, dan syarat yang sering ketinggalan
menyebut umat ini sebaik-baik umat yang dilahirkan untuk manusia. Kalimatnya tidak berhenti di situ. Ada tiga syarat yang menyusul langsung di ayat yang sama: menyuruh yang benar, mencegah yang mungkar, dan beriman kepada Allah.
Artinya predikat itu bersyarat, bukan pemberian. Statusnya menempel selama ketiga syaratnya dikerjakan, dan lepas kalau tidak. Sebagian penafsir memang menekankan bacaan ini, dan bacaan inilah yang paling setia pada bunyi ayatnya.
Di pemakaian sehari-hari, syaratnya yang lebih dulu rontok. Di ceramah dan di kolom komentar, kalimat sebaik-baik umat hampir selalu muncul sebagai keterangan tentang siapa kita, bukan sebagai daftar pekerjaan yang belum selesai. Yang tinggal predikatnya saja.
Dan begitu sebuah kelompok punya peringkat yang diberikan kitabnya sendiri, jarak antara merasa bertanggung jawab dan merasa lebih tinggi tinggal setipis nada bicara.
Wali, dan satu kata yang jadi kampanye
melarang orang beriman mengambil orang kafir sebagai wali, kecuali dalam keadaan tertentu untuk menjaga diri. melarang mengambil orang luar sebagai , teman kepercayaan tempat urusan dalam dibicarakan.
Kata wali sendiri lentur. Di dalam Al-Qur'an dan di kamus Arab, artinya bisa pelindung, sekutu, penanggung, atau penguasa. Pembelaan yang biasa dipakai: yang dilarang bersekutu politik dengan pihak yang sedang memusuhi, bukan berteman dengan tetangga. Pembelaan itu ada dasarnya, sebab keadaan waktu itu memang perang.
Tapi kelenturan tadi bermata dua. Kata yang bisa berarti sekutu politik juga bisa dibaca sebagai pemimpin, dan di sini pembacaan itu bukan latihan tafsir. Pada 2016 dan 2017, ayat serumpun dari surat Al-Maidah dipakai untuk memutuskan siapa yang boleh dipilih jadi gubernur, dan apa yang terjadi sesudahnya sudah diketahui semua orang.
Siapa yang benar dalam perkara itu bukan urusan di sini. Yang sulit dikesampingkan, ayat yang lahir dari ketegangan militer di satu kota kecil ternyata masih sanggup memindahkan suara belasan juta orang empat belas abad kemudian. Kitab yang begitu tidak pernah cuma urusan masa lalu.
Jelas, kecuali yang tidak
membagi isi kitab jadi dua: ayat yang jelas maknanya, dan ayat yang samar. Orang yang mengejar-ngejar yang samar disebut punya kecenderungan menyimpang, dan ayat semacam itu disebut cuma diketahui Allah.
Ini menarik karena di banyak tempat lain kitab yang sama menyebut dirinya jelas dan gamblang. Dua keterangan itu tidak bisa dipegang sekaligus tanpa syarat. Kalau sebagian isinya cuma Allah yang tahu artinya, kata jelas harus dikecilkan dulu maknanya.
Untuk penafsir, ayat samar itu ruang kerja, dan dari sana lahir seluruh tradisi tafsir yang kaya. Untuk pembaca yang bertanya, ayat samar bisa jadi pintu keluar yang selalu tersedia. Pertanyaan yang paling sulit tinggal dititipkan ke golongan yang memang tidak wajib dijawab.
Suara yang kedengaran dari surat ini
Ali Imran surat identitas, dan identitas paling gampang disusun waktu ada lawannya. Isa diambil lalu dirapikan, Ahli Kitab ditegur, batas pergaulan dipasang, umat sendiri diberi peringkat, dan kekalahan diberi arti.
Untuk jemaah yang sedang bertahan dan tidak boleh bubar, semuanya masuk akal, bahkan wajar. Tuntutannya jadi lain sama sekali kalau surat ini harus berdiri di luar sejarah dan tidak berpihak ke mana-mana. Yang kedengaran dari surat ini bukan cuma suara dari atas. Ada juga suara orang yang sedang berdebat, baru saja kalah, menghitung korban, dan berusaha supaya sisanya tidak ikut bubar.
Dukung Qurai
Dukung kerja sunyi di balik setiap tulisan.
Di balik tiap tulisan ada proses membaca, membandingkan, dan merapikan jejak. Setiap dukungan ikut menjaga proses itu tetap berjalan.