← Bedah Surat

QS 015  ·  Al-Hijr 15:1-99  ·  Makkiyah  ·  12 menit

Al-Hijr: Kitab yang Menjamin Dirinya Sendiri

Di tengah surat pendek ini ada satu kalimat yang dipakai menutup hampir semua perdebatan tentang keaslian Al-Qur'an: Kami yang menurunkannya, dan Kami pula yang menjaganya. Kalimat itu kuat sekali fungsinya, dan punya satu sifat yang jarang disebut. Yang menyatakan kitab itu terjaga adalah kitab itu sendiri.

Kitab yang menyatakan dirinya terjaga

berbunyi pendek dan tegas: sesungguhnya Kami yang menurunkan Al-Qur'an, dan sesungguhnya Kami benar-benar menjaganya.

Sebagai keyakinan, kalimat ini menyelesaikan banyak hal sekaligus. Tidak perlu lagi khawatir soal salinan yang hilang, bacaan yang berbeda, atau lembaran yang dibakar, karena penjagaannya dijamin dari atas.

Di sini jaminan itu dirasakan lewat hafalan. Anak-anak masuk pesantren tahfiz, musabaqah hafalan disiarkan televisi nasional, dan negeri ini termasuk yang penghafalnya paling banyak di dunia. Yang dijaga hafalan sebanyak itu memang nyata, tapi yang dijaga kesamaan bacaan sekarang, bukan kesamaannya dengan apa yang beredar di abad ketujuh.

Sebagai alasan, kalimatnya berputar. Sebuah kitab menyatakan dirinya terjaga, dan yang menerima pernyataan itu adalah orang yang sudah lebih dulu menerima kitabnya. Klaim serupa ada di kitab suci tradisi lain juga, dan tidak ada yang menganggapnya menyelesaikan perkara waktu yang mengucapkannya tetangga sebelah.

Sejarah salinannya sendiri bukan perkara yang tertutup, dan menelusurinya tidak sama dengan menuduh siapa pun. Perkaranya dibongkar tersendiri di Mitos "Preservasi Sempurna" Al-Qur'an.

Bintang yang dilemparkan

menerangkan langit dengan cukup rinci. Di sana ada gugusan bintang yang dihias untuk orang yang memandang, lalu dijaga dari setiap setan yang terkutuk. Kalau ada yang mencuri dengar, dia dikejar oleh nyala api yang terang.

Ini keterangan tentang benda yang bisa dilihat siapa saja, bukan tentang perkara gaib yang tidak terjangkau. Bintang jatuh yang tampak dari halaman rumah dijelaskan sebagai proyektil yang dilemparkan ke makhluk yang sedang menguping rapat di langit.

Sekarang benda yang sama sudah punya keterangan lain: pecahan batu dan debu yang masuk ke atmosfer lalu terbakar karena gesekan, dan sebagian bahkan sampai ke tanah dan bisa dipegang. Keterangan yang belakangan ini bisa diperiksa siapa pun yang mau, dan yang pertama tidak.

Penafsir modern biasanya menyelesaikan jarak ini dengan menyebut ayatnya berbicara secara kiasan. Jalan itu terbuka, tapi ongkosnya perlu disadari. Ayat yang dulu diterima apa adanya selama seribu tahun baru dinyatakan kiasan sesudah keterangan lain tersedia, dan pergeseran itu selalu terjadi ke arah yang sama.

Iblis yang diberi perpanjangan lagi

mengulang percakapan yang sudah muncul di Al-A'raf. Iblis meminta ditangguhkan sampai hari kebangkitan, dan permintaannya dikabulkan sampai waktu yang ditentukan.

Kali ini Iblis lebih rinci menyebut rencananya. merekamnya: karena Engkau telah menyesatkan aku, sungguh akan aku jadikan mereka memandang baik perbuatan maksiat di bumi, dan akan aku sesatkan mereka semua.

Iblis sendiri menyebut dirinya disesatkan lebih dulu, dan keterangan itu tidak dibantah di ayat berikutnya. Yang dibantah cuma jangkauannya: hamba-hamba yang terpilih tidak akan terkena. Jadi tokoh yang mengaku dirugikan lebih dulu tetap diberi izin menggoda, dan yang jadi sasarannya orang lain.

Permintaan yang dijawab dengan ancaman

merekam permintaan yang biasa saja: mengapa kamu tidak mendatangkan malaikat kepada kami, kalau kamu termasuk orang yang benar.

menjawabnya: Kami tidak menurunkan malaikat melainkan dengan kebenaran, dan waktu itu mereka tidak diberi penangguhan.

Artinya bukti yang diminta memang tersedia, tapi kedatangannya sekaligus berarti selesai perkaranya. Yang bertanya ditempatkan pada posisi yang tidak enak, sebab pertanyaannya diperlakukan seperti permintaan supaya dihukum lebih cepat. Susunan begini tidak menjawab pertanyaan, cuma membuat orang berhenti bertanya.

Dua klaim, dua nasib berbeda

Al-Hijr menyatakan dua hal tentang kenyataan. Yang satu tentang kitabnya, yang satu lagi tentang langit.

Yang tentang langit sudah bisa diperiksa, dan hasilnya menuntut ayatnya dibaca ulang sebagai kiasan. Yang tentang kitabnya belum pernah bisa diperiksa dari luar, jadi tetap berdiri sampai sekarang.

Yang tidak bisa dipastikan cuma satu hal: apakah klaim kedua bertahan karena memang lebih kuat, atau karena kebetulan tidak ada alat untuk mengujinya.

Bagikan artikel

Bantu tulisan ini menemukan pembaca yang tepat.

Dukung Qurai

Dukung kerja sunyi di balik setiap tulisan.

Di balik tiap tulisan ada proses membaca, membandingkan, dan merapikan jejak. Setiap dukungan ikut menjaga proses itu tetap berjalan.

Dukung via Saweria