← Bedah Surat

QS 091  ·  Asy-Syams 91:1-15  ·  Makkiyah  ·  9 menit

Asy-Syams: Sebelas Sumpah untuk Satu Kalimat

Sebelas sumpah berturut-turut, yang terpanjang di seluruh Al-Qur'an, dan semuanya menuju satu kalimat: bahwa jiwa manusia sudah diberi tahu mana yang buruk dan mana yang baik dari dalam dirinya sendiri. Kalau kalimat itu dipegang apa adanya, akibatnya sampai jauh.

Sebelas sumpah untuk satu kalimat

menyusun sumpah paling panjang di seluruh Al-Qur'an: demi matahari dan cahayanya di pagi hari, dan bulan apabila mengiringinya, dan siang apabila menampakkannya, dan malam apabila menutupinya, dan langit serta pembinaannya, dan bumi serta penghamparannya, dan jiwa serta penyempurnaannya.

Tujuh baris itu berisi sebelas hal yang disumpahi, dan susunannya bergerak dari yang paling jauh ke yang paling dekat. Matahari, bulan, siang, malam, langit, bumi, lalu berhenti di jiwa manusia sendiri.

Urutan itu bukan hiasan. Yang dikerjakannya membawa pendengar dari benda-benda besar yang tidak bisa dibantah keberadaannya ke satu hal yang letaknya di dalam dirinya, dan begitu sampai di situ, kalimat berikutnya diterima dengan bobot yang sudah dinaikkan tujuh baris sebelumnya.

memuat kalimatnya: maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu jalan kefasikan dan ketakwaannya.

Sebelas sumpah untuk satu kalimat sepanjang tujuh kata. Perbandingan itu sendiri menunjukkan bahwa kalimat itu dianggap paling berat di surat ini.

Yang diilhamkan kepada jiwa

Ayat 8 tidak bicara tentang kemampuan belajar membedakan. Pembedaannya disebut sudah dipasang di dalam.

Kalau itu dipegang, satu hal ikut terbawa: pengetahuan tentang mana yang buruk dan mana yang baik tidak memerlukan perantara. Orang yang tidak pernah mendengar satu ayat pun tetap punya alatnya, dan alat itu disebut sudah diberikan langsung.

Kesimpulan itu bukan bacaan yang dipaksakan. Kalimatnya memang menyebut jiwa, bukan kitab, dan menyebut ilham, bukan pengajaran. Susunan seperti ini yang jadi dasar sebagian ulama menyatakan akal bisa mencapai sebagian hukum tanpa wahyu, dan sebagian yang lain menolaknya keras justru karena akibat yang kelihatan di ujung jalan itu.

Di sini bunyi kalimat ini bertemu dengan hal yang sudah lama ada. Hati nurani dipakai orang sebagai ukuran tanpa perlu menyebut agamanya, dan kemanusiaan yang adil dan beradab di dasar negara ini berdiri di atas anggapan yang sama, yaitu bahwa manusia bisa dituntut atas kelakuannya karena memang sudah tahu. Ayat 8 sebenarnya menyediakan sandaran buat cara berpikir semacam itu, dan sandaran itu jarang dipakai.

Unta betina dan orang yang paling celaka

menceritakan kebinasaan Samud: kaum Samud telah mendustakan karena mereka melampaui batas, ketika bangkit orang yang paling celaka di antara mereka, lalu rasul Allah berkata kepada mereka, biarkanlah unta betina Allah dan minumannya, lalu mereka mendustakannya dan menyembelih unta itu.

Yang menyembelih disebut satu orang, dan yang dibinasakan seluruh kaum. Ayat 14 menyatakannya dengan jelas: maka Tuhan mereka membinasakan mereka karena dosa mereka lalu meratakannya.

Sebagian penafsir menutup jarak itu dengan menyatakan seluruh kaum menyetujui perbuatannya, dan ayat 14 memang menyebut dosa mereka dalam bentuk jamak. Yang tidak tersedia di mana pun cara memisahkan orang yang menyetujui dari orang yang kebetulan tinggal di sana, dan pemisahan semacam itu yang jadi pokok seluruh perkara hukuman bersama.

Dia tidak takut akibatnya

menutup surat dengan satu baris: dan Dia tidak takut terhadap akibat tindakan-Nya itu.

Ayatnya tidak membela tindakan itu sebagai benar, hanya menyatakan tidak ada yang bisa menagihnya.

Perbedaan antara keduanya menentukan. Tindakan yang benar bisa diperiksa dengan ukuran, dan ukurannya berlaku juga untuk yang mengerjakannya. Tindakan yang pelakunya tidak perlu takut akibat berada di luar jangkauan ukuran mana pun. Ayat 8 di surat yang sama menyebut manusia sudah diberi tahu mana yang buruk, dan ayat 15 menyatakan yang memberitahunya tidak berdiri di bawah pemberitahuan itu.

Beruntung yang menyucikannya

menyusun akibatnya: sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.

Kata tazkiyah dari ayat ini jadi nama satu cabang besar dalam tradisi tasawuf, dan sekarang jadi judul buku dan nama kajian di banyak masjid di sini. Isinya di ayat ini cuma dua baris, dan seluruh susunan tahapan penyucian yang diajarkan sesudahnya dibangun di luar dua baris itu.

Bagikan artikel

Bantu tulisan ini menemukan pembaca yang tepat.

Dukung Qurai

Dukung kerja sunyi di balik setiap tulisan.

Di balik tiap tulisan ada proses membaca, membandingkan, dan merapikan jejak. Setiap dukungan ikut menjaga proses itu tetap berjalan.

Dukung via Saweria