← Bedah Surat

QS 091  ·  Asy-Syams 91:1-15  ·  Makkiyah  ·  9 menit

Asy-Syams: Allah yang Mengilhamkan Kejahatan, Hukuman Kolektif, dan Tuhan yang Tidak Takut Akibat

Asy-Syams membuka dengan tujuh sumpah beruntun, matahari, bulan, siang, malam, langit, bumi, jiwa, sebelum satu kesimpulan moral: beruntunglah yang menyucikan jiwa, rugilah yang mengotorinya. Di antara sumpah itu tersembunyi pernyataan yang paling problematik: Allah mengilhamkan kejahatan dan ketakwaan ke dalam jiwa manusia. Lalu surat ini mengakhiri dengan kehancuran total Tsamud karena tindakan satu orang, tanpa ada mekanisme pertanggungjawaban individual.

Peta Masalah

Surat ini memuat tujuh sumpah alam yang tidak memiliki hubungan logis ke kesimpulan moralnya, pernyataan bahwa Allah yang mengilhamkan kejahatan ke dalam jiwa yang merusak fondasi tanggung jawab moral, hukuman kolektif atas tindakan satu individu (unta disembelih, seluruh kaum Tsamud dimusnahkan), dikotomi jiwa yang terlalu simplistis, dan frasa problematik bahwa Allah tidak takut terhadap akibat-Nya.

Tujuh sumpah, satu kesimpulan

menumpuk tujuh sumpah berturut-turut: demi matahari, demi bulan, demi siang, demi malam, demi langit, demi bumi, demi jiwa. Seluruh konstruksi ini mengarah pada dua pernyataan: beruntunglah yang menyucikan jiwa, dan rugilah yang mengotorinya.

Tujuh sumpah yang dirapatkan sebelum satu kesimpulan adalah teknik amplifikasi retoris, ia menciptakan kesan urgensi dan keagungan. Tapi jumlah sumpah tidak menambah kekuatan logis kesimpulan. Seribu sumpah demi fenomena alam yang nyata dan agung tidak membuktikan bahwa 'menyucikan jiwa' dalam pengertian teologis tertentu menghasilkan keberuntungan. Hubungan antara matahari bersinar dan keberuntungan jiwa yang suci adalah asosiasi, bukan kausalitas.

Yang lebih menarik: ketujuh sumpah menggunakan 'demi X' tanpa menjelaskan mengapa X relevan. Mengapa matahari dan cahayanya relevan dengan diskusi tentang jiwa? Tidak ada jembatan yang dibangun. Ini berbeda dari argumen yang menggunakan alam sebagai analogi yang dijelaskan, di sini alam hanya dijadikan penguat emosional tanpa substansi argumen.

Allah mengilhamkan kejahatan

menyatakan: 'Maka Dia mengilhamkan kepadanya (jalan) kejahatan dan ketakwaannya.' Subjek 'Dia' adalah Allah, yang baru saja disebut sebagai yang menyempurnakan jiwa di ayat 7. Allah, menurut ayat ini, yang mengilhamkan kejahatan sekaligus ketakwaan ke dalam jiwa manusia.

Ini adalah pernyataan yang memiliki konsekuensi teologis yang serius. Jika Allah yang mengilhamkan kejahatan ke dalam jiwa manusia, maka sumber pertama kecenderungan jahat dalam diri manusia adalah Tuhan itu sendiri. Manusia yang kemudian 'mengotori' jiwa dengan mengikuti kecenderungan jahat yang diilhamkan oleh Tuhan dihukum atas pilihan yang fondasinya ditanamkan oleh entitas yang menghukumnya.

Tradisi teologi Islam menyelesaikan kontradiksi ini dengan berbagai cara, membedakan antara penciptaan potensi dan aktualisasi pilihan, atau membedakan antara ilham sebagai pengetahuan tentang kejahatan versus dorongan untuk melakukannya. Tapi semua resolusi itu adalah konstruksi teologis yang dibangun setelah teks, bukan yang dihadirkan oleh teks sendiri. Teks menyatakan Allah mengilhamkan fujur (kejahatan), dan kemudian manusia dihukum karena kejahatan yang fondasinya dari ilham ilahi.

Hukuman kolektif atas tindakan satu orang

menceritakan kaum Tsamud: mereka mendustakan rasul mereka, 'ketika bangkit orang yang paling celaka di antara mereka.' Satu orang yang paling celaka ini menyembelih unta Allah. Konsekuensinya: 'Tuhan membinasakan mereka karena dosanya, lalu diratakan-Nya (dengan tanah).'

Struktur naratif ini secara eksplisit menyebutkan bahwa 'orang yang paling celaka' bertindak sebagai aktor, bukan seluruh kaum. Tapi hukumannya adalah pemusnahan total seluruh kaum. Ini adalah hukuman kolektif atas tindakan individual, dan teks tidak menawarkan justifikasi untuk mengapa yang tidak bertindak ikut dimusnahkan.

Prinsip tanggung jawab individual adalah salah satu perkembangan terpenting dalam etika dan hukum manusia. Hampir semua sistem hukum kontemporer, dan banyak sistem hukum kuno yang matang, membedakan antara pelaku langsung dan anggota komunitas yang tidak terlibat. Memusnahkan seluruh kaum karena tindakan satu orang yang paling celaka bukan hanya tidak proporsional; ia adalah penolakan terhadap prinsip tanggung jawab individual yang merupakan fondasi keadilan.

Allah yang tidak takut terhadap akibat-Nya

menutup dengan pernyataan: 'Dan Dia tidak takut terhadap akibatnya.' Ini adalah penutup dari narasi pemusnahan Tsamud, Allah meratakan mereka dan tidak takut terhadap konsekuensinya.

Frasa ini menarik karena ia mengantisipasi sebuah keberatan: bahwa tindakan pemusnahan total mungkin memiliki konsekuensi negatif yang perlu dipertimbangkan. Respons teksnya adalah bahwa Allah tidak memperhitungkan akibat, Dia bertindak tanpa perlu khawatir tentang konsekuensi.

Dari perspektif etika, entitas yang bertindak tanpa mempertimbangkan konsekuensi tindakannya, bahkan jika ia mahakuasa, bukan model moralitas yang bisa ditiru. Standar etika konsekuensialis yang paling sederhana mengharuskan pelaku mempertimbangkan akibat tindakannya. Bahwa Allah tidak perlu melakukan ini karena kemahakuasaan-Nya bukan justifikasi moral; ia adalah pernyataan bahwa moralitas tidak berlaku untuk Allah. Dan jika moralitas tidak berlaku untuk Allah, sistem moral yang bersumber dari Allah tidak memiliki fondasi yang konsisten.

Bagikan artikel

Bantu tulisan ini menemukan pembaca yang tepat.

Dukung Qurai

Dukung kerja sunyi di balik setiap tulisan.

Di balik tiap tulisan ada proses membaca, membandingkan, dan merapikan jejak. Setiap dukungan ikut menjaga proses itu tetap berjalan.

Dukung via Saweria