QS 071 · Nuh 71:1-28 · Makkiyah · 10 menit
Nuh: Doa Supaya Tidak Ada yang Tersisa
Surat ini ditutup dengan doa yang jarang ada bandingnya di kitab mana pun. Seorang nabi meminta supaya tidak ada satu pun orang kafir yang tersisa hidup di muka bumi, dan alasan yang diberikannya bukan tentang apa yang sudah mereka kerjakan, melainkan tentang anak yang belum mereka lahirkan.
Doa supaya tidak ada yang tersisa
memuat permintaannya: dan Nuh berkata, ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan seorang pun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi.
Nuh tidak meminta kemenangan, perlindungan, atau hukuman yang setimpal. Permintaannya: jangan disisakan seorang pun.
memberi alasannya: sesungguhnya kalau Engkau biarkan mereka tinggal, mereka akan menyesatkan hamba-hamba-Mu, dan mereka tidak akan melahirkan selain anak yang berbuat maksiat lagi sangat kafir.
Bagian kedua alasan itu yang paling sulit dilewati. Yang dijadikan dasar bukan perbuatan orang yang ada, melainkan perkiraan tentang orang yang belum ada. Anak yang belum lahir sudah dinyatakan akan jadi apa, dan pernyataan itu dipakai membenarkan supaya orang tuanya tidak dibiarkan hidup.
Bentuk penalaran seperti ini tidak berhenti di cerita banjir. Alasan yang menyandarkan tindakan sekarang pada perkiraan tentang keturunan lawan punya riwayat panjang dan berdarah di banyak tempat, dan riwayat itu tidak pernah berhenti pada satu agama saja. Yang membuat bentuknya berbahaya justru kerapiannya: begitu keturunan lawan sudah dinyatakan pasti buruk, tidak ada lagi keadaan yang bisa menghentikan apa pun.
Istigfar yang dijanjikan mendatangkan hujan
memuat tawaran yang bunyinya sangat konkret: mohonlah ampun kepada Tuhan kalian, sesungguhnya Dia Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan yang lebat kepada kalian, dan membanyakkan harta dan anak-anak kalian, dan mengadakan untuk kalian kebun-kebun dan sungai-sungai.
Empat imbalan disebut satu per satu, dan semuanya bisa dihitung: hujan, harta, anak, kebun. Tidak ada yang disebut tentang akhirat.
Dari ayat inilah tumbuh salah satu ajaran yang paling laku di sini. Perbanyak istigfar supaya rezeki lancar jadi isi tetap ceramah subuh, judul buku, dan potongan video pendek. Angkanya bahkan sering ikut ditentukan, seperti seratus kali sehari, walaupun angka itu tidak ada di ayatnya. Di kampung, salat istisqa waktu kemarau panjang memakai sandaran yang sama.
Letak kalimatnya tidak ikut disampaikan. Nuh mengucapkannya kepada kaum yang menolaknya, dan yang ditawarkan pengampunan atas penolakan itu, bukan cara memperbaiki penghasilan orang yang sudah beriman. Perpindahan dari ajakan berhenti menolak jadi cara mendatangkan rezeki mengubah seluruh urusannya, dan perpindahan itu terjadi tanpa ada yang mempersoalkannya.
Lima nama yang disebut
menyebut nama-nama sesembahan kaum Nuh: dan mereka berkata, janganlah sekali-kali kalian meninggalkan sesembahan kalian, dan jangan pula meninggalkan Wadd, Suwa', Yaghuts, Ya'uq, dan Nasr.
Kelima nama itu bukan nama yang muncul di catatan Mesopotamia mana pun, dan cerita banjir dalam bentuk yang lebih tua memang berasal dari sana. Yang tersedia justru sebaliknya: Wadd dan Nasr tercatat di prasasti Arab Selatan sebagai dewa yang disembah pada abad-abad menjelang Islam, dan namanya masih terbaca di reruntuhan di Yaman.
Jadi yang dipasang di cerita berlatar sebelum banjir adalah nama-nama yang dikenal pendengar pertamanya di Arab. Riwayat menutupnya dengan keterangan bahwa berhala-berhala itu berpindah dari kaum Nuh ke Arab lewat jalan yang panjang, dan keterangan itu datang sesudah pertanyaannya muncul, bukan sebelumnya.
Bulan cahaya, matahari pelita
menyebut susunan langit: tidakkah kalian perhatikan bagaimana Allah telah menciptakan tujuh langit bertingkat-tingkat, dan Allah menciptakan padanya bulan sebagai cahaya dan menjadikan matahari sebagai pelita.
Pemakaian dua kata yang berbeda ini sering diajukan sebagai bukti bahwa Al-Qur'an sudah membedakan benda yang memancarkan cahaya dari benda yang memantulkannya. Argumennya bertumpu pada nur untuk bulan dan siraj untuk matahari.
Kesulitannya, pembedaan itu tidak dijaga di tempat lain. menyebut matahari siraj yang menyala-nyala, dan itu sejalan. Tapi memakai kata nur untuk pelita di dalam ceruk, yaitu benda yang justru memancarkan cahayanya sendiri. Kalau nur bisa dipakai untuk pelita, kata itu tidak menandai pantulan.
Bahwa bulan tidak bercahaya sendiri sudah diketahui astronom Yunani berabad-abad sebelumnya dan dipakai menerangkan gerhana. Yang tersisa di ayat ini pemakaian dua kata yang wajar dalam bahasa Arab untuk dua benda yang memang terlihat berbeda terangnya, dan pembacaan yang menariknya ke pengetahuan modern datang belakangan, sesudah pengetahuannya tersedia.
Jari yang disumbat ke telinga
menggambarkan tanggapan yang diterimanya: dan sesungguhnya setiap kali aku menyeru mereka agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan jari-jari mereka ke telinganya dan menutupkan bajunya ke wajahnya, dan mereka tetap mengingkari dan menyombongkan diri.
Gambarannya hidup dan mudah dibayangkan, dan itu bagian dari kekuatannya. Orang-orangnya menolak mendengar, bukan membantah.
Yang berkurang dari susunan itu kemungkinan bahwa penolakan bisa datang dari alasan. Kalau lawan bicara digambarkan menyumbat telinga, isi keberatannya tidak perlu disebutkan, dan pembaca berabad-abad sesudahnya tidak pernah tahu apa yang sebenarnya mereka keberatankan. Cara menggambarkan lawan seperti ini bertahan sampai sekarang, dan bisa didengar dari mimbar tiap kali orang yang berbeda pendapat disebut sudah dikunci hatinya sebelum keberatannya dibacakan. Bentuk yang sama juga ramai di kolom komentar, dari pihak mana pun.
Dukung Qurai
Dukung kerja sunyi di balik setiap tulisan.
Di balik tiap tulisan ada proses membaca, membandingkan, dan merapikan jejak. Setiap dukungan ikut menjaga proses itu tetap berjalan.