← Bedah Surat

QS 049  ·  Al-Hujurat 49:1-18  ·  Madaniyah  ·  11 menit

Al-Hujurat: Aturan Bergaul yang Bisa Berdiri Sendiri

Delapan belas ayat, dan sebagian besarnya bisa dipakai orang mana pun tanpa lebih dulu menerima satu klaim pun. Jangan menyebarkan kabar sebelum diperiksa. Jangan mengejek orang lain. Jangan berprasangka, jangan mencari-cari kesalahan, jangan menggunjing. Jangan merasa lebih tinggi karena suku. Al-Hujurat surat pendek yang isinya hampir seluruhnya bisa berdiri sendiri.

Ayat yang jadi kampanye antihoaks

berbunyi: kalau orang fasik datang kepada kalian membawa berita, periksalah dengan teliti, supaya kalian tidak menimpakan musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya, lalu kalian menyesali perbuatan kalian sendiri.

Kata tabayyun dari ayat ini sekarang jadi istilah baku di kampanye melawan hoaks di sini. Muncul di spanduk, di ceramah, di pelatihan literasi digital, dan di imbauan yang beredar tiap kali ada kabar bohong menyebar di grup keluarga.

Yang membuat ayat ini kuat, alasannya disebut sendiri dan alasannya duniawi: supaya tidak ada orang yang dirugikan karena kabar yang belum diperiksa. Bukan supaya pahalanya banyak, dan bukan supaya selamat dari azab.

Alasan itu bisa dipegang siapa saja. Orang yang tidak percaya apa-apa tetap punya alasan yang sama persis untuk memeriksa dulu sebelum meneruskan pesan.

Daftar larangan yang tidak butuh pembelaan

melarang satu kaum mengolok-olok kaum lain, melarang perempuan mengolok-olok perempuan lain, melarang mencela diri sendiri, dan melarang memanggil dengan gelar yang buruk.

menyusul: jauhi kebanyakan prasangka, sebab sebagian prasangka itu dosa. Jangan mencari-cari kesalahan orang, dan jangan menggunjing satu sama lain.

Lalu datang kalimat yang paling melekat: sukakah salah seorang di antara kalian memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kalian merasa jijik.

Perumpamaan itu mengena tanpa perlu diterangkan, dan itu yang bikin dua ayat ini bertahan. Yang dilarang di situ persis daftar yang bikin grup mana pun berantakan, dari grup RT sampai ruang rapat kantor.

Bersuku supaya saling mengenal

termasuk yang paling sering dikutip di negeri yang isinya ratusan suku: hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, dan menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kalian saling mengenal.

Sapaannya lain dari biasanya. Yang dipanggil hai manusia, bukan hai orang-orang yang beriman. Alamatnya lebih luas dari surat-surat lain di sekitarnya.

Dan alasan keberagaman yang diberikan bukan ujian, bukan hukuman, dan bukan akibat kedengkian seperti di beberapa surat lain. Yang disebut supaya saling mengenal.

Untuk kitab abad ketujuh yang lahir di masyarakat yang perang antarsukunya bisa berlangsung puluhan tahun, kalimat itu bukan hal kecil.

Peringkat yang dipasang lagi di kalimat terakhir

Ayat yang sama tidak berhenti di situ. Kalimat penutupnya: sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.

Dibaca dari satu sisi, ini justru pembongkaran. Peringkat berdasarkan keturunan, warna kulit, dan suku dihapus, lalu diganti dengan sesuatu yang tidak bisa dilihat siapa pun dari luar.

Dibaca dari sisi lain, peringkatnya tidak dihapus melainkan dipindahkan. Yang dibongkar cara lama menyusun tingkatan, dan yang dipasang cara baru. Dan cara baru itu tetap membagi manusia jadi lebih mulia dan kurang mulia.

Yang menyelamatkan bacaan pertama cuma satu hal: ukuran barunya tidak bisa dipakai siapa pun untuk menilai orang lain, sebab tidak ada yang bisa melihatnya. Sayangnya itu justru yang paling sering dilanggar pemakainya.

Bagian yang tidak ikut lepas

mengatur perselisihan: kalau dua golongan orang beriman berperang, damaikanlah keduanya. Kalau salah satunya berbuat aniaya, perangilah yang berbuat aniaya itu sampai kembali kepada perintah Allah.

Susunannya masuk akal sebagai aturan menengahi, dan bahkan mendahului banyak gagasan modern tentang pihak ketiga yang menghentikan pertikaian.

Yang tidak disediakan, cara menentukan pihak mana yang berbuat aniaya, dan siapa yang berwenang memutuskannya. Tanpa itu, ayat yang tadinya soal mendamaikan bisa dipakai pihak mana pun yang merasa dirinya yang benar untuk memerangi pihak sebelah, dan tetap merasa sedang menjalankan perintah mendamaikan.

Bagikan artikel

Bantu tulisan ini menemukan pembaca yang tepat.

Dukung Qurai

Dukung kerja sunyi di balik setiap tulisan.

Di balik tiap tulisan ada proses membaca, membandingkan, dan merapikan jejak. Setiap dukungan ikut menjaga proses itu tetap berjalan.

Dukung via Saweria