← Bedah Surat

QS 032  ·  As-Sajdah 32:1-30  ·  Makkiyah  ·  10 menit

As-Sajdah: Seribu Tahun dan Angka yang Tidak Cocok

Surat pendek ini menyebut lamanya satu hari di sisi Tuhan: seribu tahun menurut hitungan manusia. Surat lain menyebut angka yang berbeda untuk hal yang kelihatannya sama, lima puluh ribu tahun. Selisih lima puluh kali lipat itu sudah dijelaskan berabad-abad oleh para penafsir, dan cara menjelaskannya sendiri yang layak diperiksa.

Seribu tahun, atau lima puluh ribu

menutup keterangannya tentang urusan yang naik kepada-Nya: dalam satu hari yang kadarnya seribu tahun menurut perhitungan kalian.

Di Al-Ma'arij ayat empat, malaikat dan ruh disebut naik kepada-Nya dalam satu hari yang kadarnya lima puluh ribu tahun.

Kedua ayat memakai susunan yang hampir sama: satu hari, kadarnya sekian, menurut hitungan manusia. Yang berbeda cuma angkanya, dan bedanya lima puluh kali lipat.

Penafsir menyelesaikannya dengan menyatakan yang dimaksud dua hari yang berbeda. Yang seribu tahun soal urusan dunia yang naik turun, yang lima puluh ribu soal hari kiamat. Penjelasan itu masuk akal dan mungkin memang begitu maksudnya.

Yang menggantung, penjelasan itu tidak diberikan kitabnya. Yang diberikan dua angka tanpa keterangan bahwa keduanya mengukur hal yang berbeda, dan pembedaannya disusun belakangan oleh orang yang menghadapi selisihnya.

Air yang disebut hina

menerangkan asal manusia dua tahap: yang pertama dari tanah, lalu keturunannya dari saripati air yang hina.

Kata yang dipakai untuk hina itu mahin, dan artinya memang rendah atau tidak berharga. Yang ditunjuk air mani.

Bandingannya di ayat sebelumnya tanah, yang tidak diberi penilaian apa-apa. Yang dapat sebutan hina cuma bahan yang datang dari tubuh manusia sendiri.

Penilaian semacam ini punya akibat yang panjang. Kalau bahan asal manusia disebut hina, tubuh gampang dibaca sebagai sesuatu yang perlu diatasi, bukan dirawat.

Dan bacaan itu memang tumbuh subur sesudahnya, termasuk di sini. Ceramah tentang mengingat kematian hampir selalu memakai bahan yang sama: kamu berasal dari yang menjijikkan, kelak jadi bangkai, jadi buat apa sombong. Kalimatnya menekan kesombongan, dan sekaligus menekan tubuhnya sendiri.

Keberatan yang direkam apa adanya

merekam bantahan lawan bicaranya: apakah apabila kami telah lenyap di dalam tanah, kami benar-benar akan berada dalam ciptaan yang baru?

Keberatan itu masuk akal dan bukan main-main. Yang mereka tanyakan soal bahan: tubuh yang sudah hancur bercampur tanah, bagaimana bisa disusun lagi jadi orang yang sama.

Jawabannya di ayat berikutnya tidak menyentuh soal bahan. Yang datang keterangan bahwa malaikat maut akan mencabut nyawa mereka, lalu mereka dikembalikan kepada Tuhannya.

Pola ini berulang di banyak tempat: keberatan yang sifatnya teknis dijawab dengan keterangan tentang kekuasaan. Buat orang yang sudah menerima kekuasaannya, jawaban itu cukup. Buat yang bertanya, tidak ada yang bertambah.

Surat yang dibaca tiap Subuh Jumat

memberi nama surat ini: orang yang beriman itu apabila diperingatkan dengan ayat-ayat Kami, mereka menyungkur sujud dan bertasbih memuji Tuhannya, sedangkan mereka tidak menyombongkan diri.

Ayat itu termasuk yang menuntut pembacanya ikut sujud, dan karena itu surat ini punya tempat tetap dalam kebiasaan orang di sini: dibaca di rakaat pertama Subuh hari Jumat, di hampir semua masjid.

Ayat itu mengenali orang beriman dari apa yang dikerjakan badannya waktu mendengar, bukan dari alasan yang dipegangnya. Untuk jemaah yang sedang dibentuk, tanda yang kelihatan memang lebih berguna daripada keyakinan yang tersembunyi di dalam.

Bagikan artikel

Bantu tulisan ini menemukan pembaca yang tepat.

Dukung Qurai

Dukung kerja sunyi di balik setiap tulisan.

Di balik tiap tulisan ada proses membaca, membandingkan, dan merapikan jejak. Setiap dukungan ikut menjaga proses itu tetap berjalan.

Dukung via Saweria