QS 001 · Al-Fatihah 1:1-7 · Makkiyah · 7 menit
Al-Fatihah: Dihafal Sebelum Dimengerti
Al-Fatihah dihafal duluan, dimengerti belakangan, itu pun kalau sempat. Anak-anak di TPA sudah lancar melafalkannya sebelum tahu artinya, lalu bacaan yang sama menemani mereka tujuh belas kali sehari, tiap hari, sampai tua. Tulisan yang diperlakukan begitu tidak bisa dinilai seperti tulisan yang dibuka sekali lalu ditutup. Yang berbekas dari bacaan seperti ini bukan alasan di dalamnya, melainkan kebiasaan yang dibentuknya.
Enam ayat yang bisa diucapkan siapa saja
Segala puji bagi Allah, pemelihara seluruh alam. Yang maha pengasih. Penguasa hari pembalasan. Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami meminta tolong. Sampai di sini tidak menuntut apa pun yang khas. Seorang Kristen bisa mengucapkannya. Seorang Yahudi bisa. Isinya pengakuan bahwa manusia ini kecil, yang di atas sana besar, dan semua yang dikerjakan nanti ada perhitungannya.
Baru di ada yang diminta: tunjukkan kami jalan yang lurus. Masih terbuka juga. Minta ditunjukkan arah itu kalimat yang bisa keluar dari mulut siapa saja yang sedang bingung.
Ayat ketujuh
menerangkan jalan lurus tadi, dan cara menerangkannya bukan dengan menggambarkan jalannya, melainkan dengan menyebut siapa saja yang tidak ada di sana. Jalan orang yang Engkau beri nikmat. Bukan jalan mereka yang dimurkai. Bukan pula jalan mereka yang sesat.
Perhatikan susunannya. Petunjuk tidak diterangkan dari isinya, tapi dari siapa yang gagal mendapatkannya. Satu kalimat yang tadinya permohonan berubah jadi penggolongan: ada kami di dalam, ada dua golongan di luar.
Tafsir yang jadi pegangan umum sejak Ath-Thabari menyebut siapa dua golongan itu. Yang dimurkai orang Yahudi, yang sesat orang Nasrani. Sebagian penafsir sekarang menolak penyebutan tadi dan membacanya sebagai golongan yang terbuka untuk siapa saja. Tapi penyebutan itu bukan salah baca yang muncul kemarin, dan bertahan seribu tahun karena susunan ayatnya memang menyediakan dua tempat kosong yang minta diisi.
Masalahnya bukan sebuah agama merasa ajarannya benar. Hampir semua tradisi begitu, dan tidak ada yang aneh dari orang yang yakin. Masalahnya, kalimat yang memasang dua golongan gagal ini bukan kalimat sembarangan di tengah kitab. Kalimat itu penutup dari doa yang paling sering diucapkan.
Tuhan yang marah
Kata yang dipakai di adalah murka. Dalam bahasa agama kata itu terdengar biasa saja. Tapi murka adalah reaksi, dan reaksi selalu punya sebab di luar dirinya. Menyebutnya sebagai sifat Tuhan berarti memindahkan sesuatu yang sangat manusia, yaitu marah kepada golongan tertentu, ke sosok yang katanya tidak terbatas.
Gambaran itu ada hasilnya. Keyakinan yang ada ancamannya lebih diseriuskan orang daripada keyakinan yang cuma mengajak. Orang yang tahu ada murka akan lebih hati-hati melangkah.
Cuma ada ongkosnya. Pengulangannya menanam dua hal sekaligus: keinginan mencari yang benar, dan takut salah pilih golongan. Dua-duanya tidak membentuk orang yang sama. Yang satu bikin orang bertanya, yang satu lagi bikin orang sibuk memastikan dirinya masih di dalam pagar.
Sesudah dua ratus ribu kali
Hitung saja. Tujuh belas rakaat sehari, satu Al-Fatihah tiap rakaat. Setahun lewat enam ribu kali. Dari umur balig sampai lima puluh, angkanya menembus dua ratus ribu.
Bacaan yang diulang sebanyak itu bukan lagi bacaan. Sudah mendarah daging, seperti jalan pulang yang tidak perlu dipikir lagi.
Dan yang menempel dari pengulangan bukan uraian tafsirnya, melainkan susunannya: ada satu jalan, ada kami di dalamnya, ada mereka yang salah jalan. Susunan itu sudah mengendap jauh sebelum orangnya cukup umur untuk mempertanyakannya, dan orang jarang mempertanyakan sesuatu yang sudah terasa seperti bagian dari dirinya sendiri.
Doa yang sudah menjawab sebelum ditanya
Sebagai puisi, Al-Fatihah pendek dan kuat. Tujuh ayat, tanpa satu kata yang terbuang, dan penutup yang pas. Tidak ada gunanya pura-pura ayat ini jelek.
Tapi tujuh ayat itu sekaligus mengerjakan hal lain, dan di situ persoalannya. Kitab ini dibuka bukan dengan pertanyaan, tapi dengan daftar golongan. Pembacanya tidak diajak menimbang banyak kemungkinan, melainkan diajari meminta supaya tidak masuk ke dua golongan yang sudah divonis di muka.
Apakah orang yang membacanya ratusan ribu kali betul-betul membawa pembagian itu keluar dari sajadah, itu soal lain, dan tidak bisa dijawab dari kitabnya saja. Banyak yang membaca seumur hidup tanpa sekali pun terpikir soal orang Yahudi atau Nasrani. Yang bisa dipastikan cuma satu: kalimatnya ada di sana, diucapkan setiap hari, dan sewaktu-waktu ada yang memakainya untuk menunjuk orang.
Dukung Qurai
Dukung kerja sunyi di balik setiap tulisan.
Di balik tiap tulisan ada proses membaca, membandingkan, dan merapikan jejak. Setiap dukungan ikut menjaga proses itu tetap berjalan.