← Bedah Surat

QS 068  ·  Al-Qalam 68:1-52  ·  Makkiyah  ·  12 menit

Al-Qalam: Dua Kata yang Ditempelkan ke Tiap Rencana

Satu cerita pendek di surat ini yang membuat ratusan juta orang menempelkan dua kata pada hampir tiap rencana yang mereka ucapkan. Insya Allah dipakai di ruang rapat, di undangan, di pesan singkat, dan di jawaban anak yang ditanya kapan pulang. Ceritanya tentang pemilik kebun yang bersepakat memanen pagi-pagi tanpa mengucapkan pengecualian itu.

Dua kata yang ditempelkan ke tiap rencana

menceritakan pemilik kebun yang bersumpah akan memetik hasilnya pada pagi hari, dan mereka tidak mengucapkan pengecualian. Malam itu kebunnya ditimpa bencana sampai jadi hitam seperti malam.

Kata yang dipakai la yastatsnun, yaitu tidak mengucapkan pengecualian, dan yang dimaksud kalimat insya Allah. Dari empat kata itu lahir kebiasaan yang sekarang jadi salah satu ciri bahasa Indonesia sehari-hari.

Sisa ceritanya di ayat 21 sampai 32 justru lebih tajam daripada penyebabnya. Mereka berangkat pagi-pagi sambil berbisik supaya tidak ada orang miskin yang masuk. Sesampainya di sana kebunnya sudah habis, dan yang paling waras di antara mereka mengingatkan bahwa dia sudah menyuruh bertasbih. Jadi yang sebenarnya dipersoalkan cerita ini bukan kelalaian mengucapkan kalimat, melainkan niat menutup pintu bagi orang miskin.

Yang berpindah ke sini cuma bagian pertamanya. Insya Allah jadi kalimat yang wajib menempel, sedangkan bagian tentang orang miskin yang disingkirkan jarang ikut dibawakan waktu ceritanya disampaikan.

Dan dua kata itu sudah bergeser lagi di pemakaian sehari-hari. Insya Allah sekarang paling sering dipakai sebagai cara menolak tanpa mengatakan tidak, atau sebagai jawaban yang tidak mengikat siapa pun. Orang yang mendengarnya biasanya sudah tahu artinya belum tentu. Kalimat yang asalnya menyatakan bahwa hasil tidak berada di tangan manusia berubah jadi cara mengambil jarak dari janji sendiri.

Cap di batang hidung

menyusun daftar sifat orang yang tidak boleh dituruti: banyak bersumpah lagi hina, suka mencela, ke sana ke mari menghambur fitnah, sangat enggan berbuat baik, melampaui batas, banyak dosa, kasar, dan sesudah itu terkenal kejahatannya.

Kata terakhir di ayat 13 zanim, dan penafsir sejak awal membacanya sebagai orang yang tidak jelas nasabnya, yaitu tuduhan tentang keadaan kelahirannya. Riwayat mengarahkan seluruh daftar itu kepada satu orang di Mekah.

Sampai kata kedelapan, daftarnya berisi perbuatan, dan perbuatan bisa diubah pemiliknya. Kata terakhir keluar dari susunan itu. Keadaan kelahiran seseorang tidak dipilihnya dan tidak bisa diperbaikinya, dan menaruhnya di ujung daftar keburukan memindahkan celaannya dari apa yang dikerjakan orang ke asal-usulnya.

menutup daftar itu dengan janji: Kami akan memberi tanda pada belalainya. Kata yang dipakai khurthum, yang dipakai untuk hidung binatang. Jadi rangkaiannya lengkap: perbuatan, lalu asal-usul, lalu tanda permanen yang membuat orangnya dikenali seumur-umur.

Pena dan apa yang dituliskannya

membuka dengan huruf yang berdiri sendiri lalu sumpah: nun, demi pena dan apa yang mereka tuliskan.

Sumpah dengan pena punya arti tersendiri di masyarakat yang sebagian besar urusannya berjalan lisan. Yang disumpahi alat pencatat, bukan yang dicatat, dan itu memberi kedudukan pada tulisan sebagai sesuatu yang lebih tahan daripada ingatan.

melanjutkan dengan pembelaan langsung terhadap nabinya: dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang luhur. Letaknya sesudah ayat 2 yang membantah tuduhan gila. Jadi tiga ayat pertama surat ini berisi sumpah, bantahan, dan pujian, dan susunan itu menerangkan keadaan waktu surat ini muncul lebih jelas daripada bagian mana pun sesudahnya.

Pandangan mata yang hampir menggelincirkan

memuat kalimat yang punya umur panjang: dan sesungguhnya orang-orang kafir itu hampir-hampir menggelincirkanmu dengan pandangan mata mereka tatkala mereka mendengar Al-Qur'an.

Dari kalimat ini tumbuh dasar kepercayaan tentang ain, yaitu pandangan mata yang bisa mendatangkan celaka. Riwayat memperkuatnya, dan menyediakan penangkalnya berupa doa dan mandi bekas air orang yang memandang.

Di sini kepercayaan itu bertemu dengan yang sudah ada lebih dulu. Sawan, kualat karena dipuji, dan bayi yang tidak boleh terlalu sering dipuji sudah beredar sebelum istilah ain masuk. Tidak ada yang tergantikan; semuanya menumpuk, dan sekarang praktik rukiah untuk menangkal ain berjalan berdampingan dengan penangkal yang tidak ada hubungannya dengan Arab.

Susunan seperti ini punya ongkos yang bisa disebut. Anak yang sakit sesudah dipuji tetangga, dagangan yang sepi sesudah ramai, dan rumah tangga yang goyah dibaca sebagai akibat pandangan orang lain, dan sesudah sebabnya diletakkan di sana, sebab yang bisa diperiksa berhenti dicari.

Betis yang disingkapkan

menyebut satu keadaan di hari kiamat: pada hari betis disingkapkan dan mereka dipanggil untuk bersujud, maka mereka tidak sanggup.

Kalimatnya tidak menyebut betis siapa, dan dari situ lahir salah satu perbedaan tertua dalam teologi Islam. Satu pihak membacanya sebagai kiasan Arab untuk keadaan yang sangat berat, seperti orang yang mengangkat kainnya waktu hendak lari. Satu pihak lagi membacanya apa adanya sebagai sifat yang tidak boleh ditanyakan bagaimananya.

Perbedaan itu masih hidup di sini dan bisa didengar bedanya dari mimbar. Pengajian yang berakar pada tradisi Asy'ari hampir selalu memilih bacaan kiasan, sedangkan kelompok yang menekankan bacaan lurus memilih yang kedua sambil menolak dituduh menyerupakan Tuhan dengan makhluk. Sengketanya lebih besar dari tafsir satu ayat: seberapa jauh bahasa manusia boleh dipakai menerangkan sesuatu yang dinyatakan tidak menyerupai apa pun.

Bagikan artikel

Bantu tulisan ini menemukan pembaca yang tepat.

Dukung Qurai

Dukung kerja sunyi di balik setiap tulisan.

Di balik tiap tulisan ada proses membaca, membandingkan, dan merapikan jejak. Setiap dukungan ikut menjaga proses itu tetap berjalan.

Dukung via Saweria