← Bedah Surat

QS 092  ·  Al-Lail 92:1-21  ·  Makkiyah  ·  9 menit

Al-Lail: Dua Jalan yang Sama-sama Dimudahkan

Surat ini menyebut dua jalan yang berlawanan arah, dan menyatakan bahwa yang memudahkan keduanya pihak yang sama. Jalan menuju kemudahan dimudahkan, dan jalan menuju kesukaran juga dimudahkan. Dua ayat itu berdiri berjarak tiga baris dan memakai kata kerja yang persis sama.

Dua jalan yang sama-sama dimudahkan

menyusun yang pertama: adapun orang yang memberikan hartanya dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik, maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah.

menyusun kebalikannya dengan kata kerja yang sama: dan adapun orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala yang terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya jalan yang sukar.

Kata yang dipakai di dua tempat itu sanuyassiruhu, yaitu Kami akan memudahkan. Jadi bukan cuma jalan ke kebaikan yang dimudahkan, melainkan juga jalan ke keburukan.

Dibaca sebagai keterangan tentang kebiasaan, susunan ini tepat dan bisa diperiksa siapa saja. Orang yang terbiasa memberi makin gampang memberi, dan orang yang terbiasa menahan makin sulit melepas. Kebiasaan memang memudahkan jalannya sendiri, dan itu berlaku dua arah.

Dibaca sebagai keterangan tentang siapa yang mengerjakan, susunannya berat. Kalau yang memudahkan kedua jalan itu pihak yang sama, dan kalau hasil dari jalan yang kedua hukuman kekal, maka kedudukan pilihan manusia di tengahnya jadi sulit diterangkan. Penafsir menutupnya dengan menyatakan kemudahan itu datang sesudah pilihan awalnya, bukan sebelumnya, dan penjelasan itu bertahan selama tidak ditanyakan dari mana pilihan awalnya datang.

Bukan balasan atas jasa siapa pun

menyebut ciri orang yang paling bertakwa: yang menafkahkan hartanya untuk membersihkan diri, padahal tidak ada seorang pun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya, tetapi dia memberikan itu semata-mata karena mencari keridaan Tuhannya Yang Maha Tinggi.

Yang dipisahkan di sini pemberian dari pembalasan budi. Memberi karena pernah ditolong bukan yang dimaksud, sebab itu masih penyelesaian utang.

Ukuran semacam ini tajam dan bisa dipakai memeriksa banyak hal. Sumbangan yang diberikan supaya nama tercetak di spanduk depan masjid, bantuan sembako yang dibagikan menjelang pemilihan, dan sedekah yang diberikan sesudah ceramah menjanjikan balasan berlipat semuanya tidak lolos.

Syarat terakhir di ayat 20 justru mengembalikannya jadi pertukaran, sebab yang dicari keridaan. Jadi di dalam tiga baris yang sama, pembalasan kepada manusia ditutup dan pembalasan kepada Allah dibuka. Bentuk itu berulang di banyak tempat, dan ayat ini yang paling telanjang memperlihatkannya.

Bilal yang dibeli lalu dibebaskan

Riwayat yang paling banyak dikutip untuk bagian penutup surat ini menyebut Abu Bakar yang membeli budak-budak yang disiksa majikannya lalu memerdekakan mereka, dan yang paling dikenal di antaranya Bilal.

Kalau riwayat itu dipakai, ayat 18 sampai 20 terbaca sebagai keterangan tentang perbuatan yang bisa disebut namanya, dan bukan tentang keutamaan pada umumnya.

Yang perlu diletakkan berdampingan , yang menaruh membebaskan budak di urutan pertama jalan yang mendaki. Dua surat pendek yang berdekatan sama-sama menyebutnya sebagai perbuatan tertinggi, dan kitab yang sama tetap tidak melarang sumbernya. Jarak itu bukan hal yang bisa ditutup dengan tafsir.

Usaha kalian memang berbeda-beda

memuat satu baris: sesungguhnya usaha kalian memang berbeda-beda.

Kalimatnya berdiri sesudah tiga sumpah dan sebelum dua jalan yang disebut berikutnya, jadi letaknya sebagai pembuka pembagian.

Lepas dari sekitarnya, kalimat ini keterangan yang tepat tentang manusia dan tidak menghakimi siapa pun. Orang memang mengerjakan hal yang berbeda dengan sungguh-sungguh, dan perbedaan itu tidak selalu berupa perbedaan antara baik dan buruk. Yang dikerjakan sisa surat ini menyempitkan perbedaan itu jadi dua saja, dan penyempitan itu yang membuat seluruh susunan sesudahnya berjalan.

Yang laki-laki dan yang perempuan

memuat sumpah yang bacaannya bercabang: dan demi penciptaan laki-laki dan perempuan.

Sebagian imam qiraat membacanya begitu, dan sebagian lagi membacanya tanpa kata penciptaan, sehingga bunyinya demi yang laki-laki dan yang perempuan. Perbedaan bacaan semacam ini tercatat rapi dalam ilmu qiraat, tidak disembunyikan siapa pun, dan jarang sampai ke jamaah biasa. Murid di madrasah diajarkan bahwa bacaannya cuma satu, dan guru ngaji yang mengajarinya juga tidak pernah diberi tahu yang lain.

Bagikan artikel

Bantu tulisan ini menemukan pembaca yang tepat.

Dukung Qurai

Dukung kerja sunyi di balik setiap tulisan.

Di balik tiap tulisan ada proses membaca, membandingkan, dan merapikan jejak. Setiap dukungan ikut menjaga proses itu tetap berjalan.

Dukung via Saweria