QS 022 · Al-Hajj 22:1-78 · Madaniyah · 14 menit
Al-Hajj: Pengakuan yang Biasanya Ditutup Rapat
Di tengah surat ini ada satu ayat yang isinya pengakuan, dan pengakuan itu berat sekali akibatnya. Tidak ada satu pun rasul atau nabi yang diutus sebelum kamu, kecuali apabila dia berkeinginan, setan memasukkan sesuatu ke dalam keinginannya itu. Kalimat itu menyatakan bahwa yang keluar dari mulut seorang nabi bisa tercampur sesuatu yang bukan dari atas.
Ayat yang mengakui kemungkinan tercampur
berbunyi lengkap begini: dan Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang rasul pun dan tidak pula seorang nabi, melainkan apabila dia mempunyai suatu keinginan, setan pun memasukkan godaan ke dalam keinginannya itu. Lalu Allah menghilangkan apa yang dimasukkan setan itu, dan menetapkan ayat-ayat-Nya.
Bagian pertama kalimat itu mengakui sesuatu yang jarang diakui kitab suci mana pun. Bukan cuma umatnya yang bisa keliru, melainkan penyampainya.
Bagian kedua menyediakan perbaikannya: yang salah dihapus, yang benar dikukuhkan. Tapi perbaikan itu cuma bisa dipegang oleh orang yang sudah menerima keseluruhan sistemnya. Dari luar, yang tampak cuma satu keterangan bahwa ada bagian yang pernah dicabut karena bukan berasal dari sumber yang diklaim.
Riwayat tentang apa yang persisnya pernah tercampur, dan kenapa banyak penafsir belakangan menolak riwayat itu meski ayatnya sendiri tetap berdiri, ditelusuri di Ayat-ayat Setan.
Izin pertama mengangkat senjata
dianggap banyak penafsir sebagai izin perang yang pertama: telah diizinkan berperang bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka dizalimi.
Alasannya disebut di ayat berikutnya, dan alasannya luas: orang-orang yang diusir dari kampung halaman tanpa alasan yang benar, cuma karena mengatakan Tuhan kami Allah. Lalu ditambahkan, seandainya Allah tidak menolak sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentu robohlah biara, gereja, rumah ibadat Yahudi, dan masjid.
Kalimat terakhir itu jarang dikutip di mana pun, padahal isinya menarik. Empat jenis rumah ibadah disebut layak dilindungi sekaligus, bukan masjid saja, dan tiga di antaranya milik agama lain.
Jarak antara kalimat itu dan yang datang di At-Taubah tujuh atau delapan tahun kemudian cukup jauh. Yang di sini membela hak beribadah semua pihak; yang di sana menetapkan pajak dan ketundukan. Dua-duanya ada di kitab yang sama, dan yang menentukan mana yang dipakai selalu orang yang sedang mengutipnya.
Darah yang tidak sampai ke mana-mana
memuat kalimat yang memotong seluruh gagasan lama tentang persembahan: daging dan darahnya sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi ketakwaan dari kalian yang sampai kepada-Nya.
Ini pemutusan yang tegas dari cara berpikir yang sudah berumur ribuan tahun, tempat dewa dibayangkan menikmati asap dan darah korban. Yang dinyatakan di sini, yang disembelih tidak dibutuhkan siapa pun di atas sana.
Yang tidak ikut diselesaikan, kenapa penyembelihannya tetap diperintahkan. Kalau yang sampai cuma niatnya, hewan itu mati untuk sesuatu yang tidak membutuhkan kematiannya. Jawaban yang biasa dipakai, dagingnya untuk orang miskin, masuk akal dan sekaligus memindahkan alasannya sepenuhnya ke urusan sesama manusia.
Dan di sini urusan itu punya bentuknya sendiri. Menjelang Iduladha, sapi dan kambing dijual di pinggir jalan, dibeli patungan satu RT, lalu dagingnya dibagi dalam kantong plastik ke rumah-rumah. Yang berjalan di situ pembagian pangan tahunan yang nyata, dan hampir tidak ada hubungannya lagi dengan gagasan persembahan.
Kiamat yang digambarkan lewat tubuh
memilih gambaran yang tidak biasa untuk menerangkan kengerian hari itu: pada hari kalian melihatnya, semua perempuan yang menyusui lalai terhadap anak yang disusuinya, dan setiap perempuan yang hamil gugur kandungannya.
Yang dipakai sebagai alat ukur di situ ikatan yang paling sulit diputus, yaitu ibu terhadap bayinya. Kalau ikatan itu sampai lepas, berarti keadaannya memang di luar apa pun yang bisa dibayangkan.
Gambaran ini mengena, dan alat yang dipakainya tubuh perempuan. Susunan yang sama muncul di banyak tempat lain di kitab ini: yang dipakai menerangkan hal-hal besar sering kali keadaan badan perempuan, sementara yang menyusun keterangannya bukan mereka.
Warisan yang diakui sebagai warisan
menyebut tempat Ka'bah ditunjukkan kepada Ibrahim, lalu perintah menyeru manusia untuk berhaji, dan mereka akan datang berjalan kaki atau menunggang unta kurus dari segenap penjuru yang jauh.
Surat ini tidak menyembunyikan bahwa ritualnya diteruskan, bukan diciptakan. Yang diklaim cuma asalnya yang benar, sedangkan bentuk kegiatannya memang sudah ada sebelumnya.
Dari sini pula tumbuh sesuatu yang sangat besar di negeri ini: antrean puluhan tahun, tabungan yang dicicil sejak muda, dan satu badan negara khusus yang mengurus dananya. Perjalanan yang di ayat ini digambarkan dengan unta kurus sekarang jadi urusan kuota, penerbangan, dan daftar tunggu.
Dukung Qurai
Dukung kerja sunyi di balik setiap tulisan.
Di balik tiap tulisan ada proses membaca, membandingkan, dan merapikan jejak. Setiap dukungan ikut menjaga proses itu tetap berjalan.