← Bedah Surat

QS 058  ·  Al-Mujadilah 58:1-22  ·  Madaniyah  ·  12 menit

Al-Mujadilah: Perempuan yang Tidak Mau Menerima Jawaban

Seorang perempuan datang mengadu, tidak terima dengan jawaban yang diberikan nabinya, lalu terus mendesak. Ayat pertama surat ini merekam perdebatan itu dan berpihak kepadanya. Dari seluruh Al-Qur'an, ini satu-satunya tempat aturan berubah karena seorang perempuan biasa tidak mau menerima jawaban.

Perempuan yang tidak menerima jawaban

membuka surat begini: sungguh Allah telah mendengar perkataan perempuan yang mengajukan gugatan kepadamu tentang suaminya, dan mengadukan halnya kepada Allah. Dan Allah mendengar percakapan kalian berdua.

Riwayat menyebut namanya Khaulah binti Tsalabah. Suaminya menjatuhkan zihar, kebiasaan Arab yang menyamakan istri dengan punggung ibunya sendiri. Akibatnya, istrinya tidak boleh disentuh lagi tapi juga tidak diceraikan, jadi menggantung tanpa status.

Menurut riwayat, nabinya mula-mula menjawab bahwa dia sudah haram bagi suaminya. Khaulah tidak menerima itu dan terus mendesak sambil menyebut anak-anaknya yang masih kecil dan dirinya yang sudah tua.

Sesudah itu turun ayat yang membatalkan zihar sebagai bentuk perceraian dan menetapkan tebusan untuk membatalkannya. Aturan yang tadinya menggantung nasib perempuan diganti aturan yang membebani suaminya.

Sejauh mana perubahannya berjalan

Yang berubah nyata dan bukan hal kecil. Perempuan yang tadinya tidak punya jalan keluar sama sekali kini punya, dan yang menanggung akibatnya pihak yang mengucapkan.

Yang tidak berubah, siapa yang berhak mengucapkan. Zihar tetap sesuatu yang dijatuhkan suami, dan istri tetap pihak yang menerima akibatnya lalu menunggu tebusannya dibayar.

Jadi yang dikerjakan surat ini memperbaiki akibat terburuk dari satu kebiasaan, bukan membongkar susunan yang melahirkannya.

Bentuk yang sama masih kelihatan di pengadilan agama sekarang: perempuan yang menggugat cerai punya jalan, dan jalannya lebih panjang daripada jalan suami yang menjatuhkan talak.

Untuk perubahan yang dipicu satu orang yang mendesak, itu sudah jauh. Dan batasnya menerangkan sesuatu tentang jalannya perubahan: yang lebih dulu diperbaiki selalu bagian yang paling menyakitkan, bukan bagian yang paling dalam.

Tebusan yang menyinggung perbudakan

menyusun tebusannya bertingkat: memerdekakan seorang budak sebelum keduanya bercampur, kalau tidak sanggup maka berpuasa dua bulan berturut-turut, kalau tidak sanggup juga maka memberi makan enam puluh orang miskin.

Pilihan pertamanya menarik. Kesalahan seorang laki-laki terhadap istrinya ditebus dengan membebaskan orang lain dari perbudakan.

Susunan semacam ini muncul di beberapa tempat lain juga, dan sebagian orang membacanya sebagai cara bertahap mengurangi jumlah budak: tiap pelanggaran jadi pintu keluar buat satu orang.

Bacaan itu punya dasar, dan sekaligus mengakui sesuatu. Perbudakan diperlakukan sebagai persediaan yang bisa dipakai untuk menebus dosa, bukan sebagai perkara yang perlu dihentikan lewat satu larangan.

Larangan berbisik

melarang pembicaraan rahasia yang isinya dosa, permusuhan, dan pembangkangan, lalu menyebut bisik-bisik semacam itu berasal dari setan supaya orang beriman jadi sedih.

Riwayatnya menyebut kebiasaan sekelompok orang di Madinah yang berbisik di depan orang beriman lalu tertawa, supaya yang melihat mengira dirinya sedang dibicarakan.

Alasan di ayat ini tidak bertumpu pada rahasianya, tapi pada rasa yang ditimbulkannya pada orang yang melihat. bahkan membolehkan berbisik asal isinya kebaikan dan takwa.

Jadi yang dilarang bukan bicara berdua, melainkan memakai bisikan untuk membuat orang lain merasa disingkirkan. Untuk aturan yang lahir dari kejadian sepele di satu kota, sasarannya bertahan sampai sekarang, termasuk di ruang kerja dan di grup pesan.

Bagikan artikel

Bantu tulisan ini menemukan pembaca yang tepat.

Dukung Qurai

Dukung kerja sunyi di balik setiap tulisan.

Di balik tiap tulisan ada proses membaca, membandingkan, dan merapikan jejak. Setiap dukungan ikut menjaga proses itu tetap berjalan.

Dukung via Saweria