← Bedah Surat

QS 039  ·  Az-Zumar 39:1-75  ·  Makkiyah  ·  12 menit

Az-Zumar: Tawaran Terluas dan Kalimat Sesudahnya

Satu ayat di surat ini menawarkan yang paling luas di seluruh kitabnya: jangan berputus asa dari rahmat Allah, sesungguhnya Dia mengampuni dosa semuanya. Kalimat itu ditempel di dinding pesantren, dibacakan di penjara, dan jadi kalimat penutup ceramah tobat. Kalimat yang langsung menyusul sesudahnya tidak ikut terkenal.

Kalimat yang paling banyak menolong orang

berbunyi: katakanlah, wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah, sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya.

Tidak ada daftar pengecualian di kalimat itu. Tidak disebut dosa besar, tidak disebut kecuali , dan tidak disebut kecuali membunuh.

Kalimat sepenuh ini jarang ada, dan kegunaannya nyata. Orang yang merasa sudah terlalu jauh diberi jalan pulang tanpa lebih dulu ditanya seberapa jauh dia pergi.

Yang datang di kalimat berikutnya

menyusul langsung: dan kembalilah kalian kepada Tuhan kalian, dan berserah dirilah kepada-Nya, sebelum datang azab kepada kalian, kemudian kalian tidak akan ditolong lagi.

Jadi tawarannya bersyarat, dan syaratnya dua: kembali, dan sebelum waktunya habis.

Ini tidak membatalkan ayat sebelumnya, dan tidak membuatnya kurang berharga. Yang berubah cuma jangkauannya. Janjinya pintu yang terbuka lebar selama orangnya mau berjalan ke sana, bukan pengampunan yang jatuh sendiri kepada siapa saja.

Pemakaian yang beredar biasanya berhenti di ayat 53, dan itu bisa dimengerti sebab yang dibutuhkan orang yang sedang putus asa memang bagian itu. Hanya saja, ayat 53 dan ayat 54 satu tarikan napas, dan memisahkannya membuat janji itu terdengar lebih luas daripada bunyinya.

Digiring berombongan

Nama surat ini diambil dari cara orang dibawa di akhir. menyebut orang kafir digiring ke neraka berombong-rombongan, dan menyebut orang bertakwa dibawa ke surga berombong-rombongan juga.

Kata yang dipakai zumar, artinya kelompok yang berjalan beriringan.

Dalam gambaran itu, tidak ada yang berjalan sendirian. Penghakiman yang berkali-kali disebut bersifat perseorangan digambarkan pelaksanaannya dalam bentuk rombongan.

Ini kemungkinan besar cuma soal bahasa gambar, bukan keterangan teknis. Tapi bentuk gambarnya tetap berpengaruh. Orang yang membayangkan dirinya berjalan dalam rombongan akan lebih memperhatikan siapa saja yang berjalan bersamanya.

Perantara yang ditolak

merekam alasan orang apa adanya: kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah sedekat-dekatnya.

Jadi yang mereka lakukan bukan menolak Tuhan, melainkan memakai perantara untuk sampai kepadanya. Surat ini menolak seluruh susunan itu dan menuntut agama yang murni untuk Allah saja.

Penolakan yang sama sekarang jadi bahan pertengkaran di dalam Islam sendiri, bukan dengan orang di luar. Tawasul lewat orang saleh, ziarah ke makam wali, dan tahlilan berulang kali dituduh memakai susunan yang persis dikritik ayat ini, dan yang dituduh menjawab bahwa mereka tidak menyembah siapa pun.

Ayatnya sendiri tidak menyediakan garis pemisahnya. Yang dikritik di situ orang yang menyembah patungnya sebagai perantara, dan apakah meminta didoakan orang saleh masuk ke golongan yang sama, harus diputuskan dari luar ayatnya.

Nyawa yang dipegang tiap malam

memuat gambaran yang jarang dibicarakan: Allah memegang nyawa orang waktu matinya, dan nyawa orang yang belum mati waktu tidurnya. Yang sudah ditetapkan kematiannya ditahan, dan yang lain dilepaskan sampai waktu yang ditentukan.

Jadi tidur digambarkan sebagai kematian sementara, dan bangun sebagai pengembalian.

Gambaran itu meninggalkan bekas yang panjang di kebiasaan orang. Doa bangun tidur yang diajarkan sejak kecil di sini berisi syukur karena dihidupkan kembali sesudah dimatikan, dan itu langsung mengikuti gambaran di ayat ini.

Untuk keterangan tentang apa yang terjadi waktu orang tidur, tentu tidak ada yang bisa memeriksanya. Untuk kebiasaan sehari-hari, gambarannya berguna: orang yang memulai hari dengan mengingat bahwa bangun bukan hal yang pasti cenderung memperlakukan harinya berbeda.

Bagikan artikel

Bantu tulisan ini menemukan pembaca yang tepat.

Dukung Qurai

Dukung kerja sunyi di balik setiap tulisan.

Di balik tiap tulisan ada proses membaca, membandingkan, dan merapikan jejak. Setiap dukungan ikut menjaga proses itu tetap berjalan.

Dukung via Saweria