QS 036 · Ya Sin 36:1-83 · Makkiyah · 11 menit
Ya Sin: Surat Kematian yang Isinya untuk yang Hidup
Di sini Ya-Sin adalah surat kematian. Dibaca di sebelah orang yang sedang sakratulmaut, dibaca ramai-ramai malam pertama sesudah pemakaman, lalu diulang di hari ketiga, ketujuh, dan keempat puluh. Yang jarang diperhatikan, isinya hampir seluruhnya ditujukan kepada orang yang masih hidup, dan sasarannya bukan menghibur melainkan memperingatkan.
Dibaca untuk yang sudah tidak mendengar
Yasinan sudah jadi bagian dari cara orang di sini menghadapi kematian. Tetangga datang, duduk melingkar, membaca bersama, lalu makan. Yang dibaca surat ini, dan yang dituju arwah orang yang baru meninggal.
Kebiasaannya kuat dan fungsinya nyata. Keluarga yang ditinggalkan tidak dibiarkan sendirian selama tujuh malam, dan itu penopang yang jarang dimiliki masyarakat lain.
Dan kebiasaan itu bertahan meski berulang kali dipersoalkan. Sebagian kelompok menyebut tahlilan tidak ada dasarnya, sebagian lagi membelanya sebagai tradisi yang isinya baik. Isi suratnya sendiri justru jarang dibahas.
Isi suratnya sendiri hampir tidak menyinggung orang mati sebagai penerima. Yang diajak bicara berulang kali orang yang masih punya kesempatan, dan yang ditawarkan peringatan supaya berubah sebelum terlambat.
Dasar pemakaiannya bukan dari suratnya, melainkan dari tentang membacakan Ya-Sin kepada orang yang menghadapi kematian, yang derajatnya sendiri diperdebatkan ahli hadis. Dan dari satu riwayat itu tumbuh seluruh rangkaian tujuh hari dan empat puluh hari, yang tidak disebut di mana pun di Al-Qur'an.
Kota yang tidak diberi nama
menceritakan sebuah negeri yang didatangi dua utusan, lalu diperkuat utusan ketiga. Penduduknya menolak dan mengancam merajam mereka.
Lalu datang seorang laki-laki dari ujung kota, berlari, dan menyeru kaumnya supaya mengikuti para utusan itu. Dia dibunuh, dan disuruh masuk surga, dan dari sana dia berkata: alangkah baiknya sekiranya kaumku mengetahui.
Kalimat itu bagus sekali dan jarang dikutip. Orang yang baru dibunuh kaumnya sendiri, dan yang keluar dari mulutnya keinginan supaya mereka tahu, bukan supaya mereka dihukum.
Yang datang sesudahnya justru sebaliknya. menutupnya: tidak ada siksaan atas mereka melainkan satu teriakan saja, maka tiba-tiba mereka semua mati. Permintaan orang itu tidak dikabulkan, dan kotanya habis tanpa nama, tanpa tanggal, dan tanpa satu pun yang selamat.
Matahari yang berjalan ke tempat berhentinya
menyebut dan matahari berjalan di tempat peredarannya, itulah ketetapan Yang Mahaperkasa lagi Maha Mengetahui.
Kata yang dipakai untuk tempat peredaran itu mustaqarr, dan artinya tempat menetap atau tempat berhenti. Hadis yang sering dipasangkan dengan ayat ini menyebut matahari pergi bersujud di bawah lalu diizinkan kembali.
Dibaca apa adanya, ini gambaran matahari yang bergerak menuju satu titik tujuan. Itu memang yang terlihat dari bumi, dan itu juga gambaran yang dipegang hampir semua orang sampai berabad-abad sesudahnya.
Sekarang ayat yang sama dipakai untuk menunjukkan bahwa kitab ini sudah tahu matahari bergerak mengelilingi pusat galaksi. Bacaan itu tidak mustahil, tapi urutannya terbalik: tidak ada satu pun penafsir yang membacanya begitu sebelum orang tahu galaksi berputar.
Belenggu yang dipasang lebih dulu
menerangkan kenapa sebagian orang tidak menerima: Kami pasang belenggu di leher mereka sampai ke dagu sehingga kepala mereka tertengadah, dan Kami pasang dinding di depan dan di belakang mereka lalu Kami tutup mata mereka, sehingga mereka tidak bisa melihat.
Ayat berikutnya menutupnya: sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak, mereka tetap tidak akan beriman.
Susunan ini sudah muncul di beberapa surat lain, tapi di sini bentuknya paling gamblang. Yang memasang belenggu bukan orangnya, dan sesudah dipasang, peringatan dinyatakan sia-sia sejak awal.
Yang tidak diselesaikan, kenapa peringatannya tetap disampaikan. Kalau hasilnya sudah dipastikan, seluruh kegiatan memperingatkan berubah jadi pencatatan, bukan penawaran.
Tulang yang sudah hancur
merekam keberatan terakhir yang paling manusiawi di seluruh surat: dia membuat perumpamaan bagi Kami dan melupakan asal kejadiannya, dia berkata siapa yang dapat menghidupkan tulang belulang yang telah hancur luluh?
Riwayat menyebutkan orangnya datang membawa tulang lapuk, meremasnya di depan orang banyak, lalu menghamburkan serbuknya ke udara.
Jawabannya di ayat berikutnya: katakanlah, yang akan menghidupkannya adalah yang menciptakannya pertama kali.
Sebagai jawaban, itu masuk akal buat orang yang sudah menerima ada yang menciptakan. Buat orang yang sedang meremas tulang di tangannya, jawaban itu tidak menyentuh yang ditanyakannya, yaitu bagaimana susunan yang sudah bercampur tanah bisa jadi orang yang sama lagi.
Dukung Qurai
Dukung kerja sunyi di balik setiap tulisan.
Di balik tiap tulisan ada proses membaca, membandingkan, dan merapikan jejak. Setiap dukungan ikut menjaga proses itu tetap berjalan.