← Bedah Surat

QS 099  ·  Az-Zalzalah 99:1-8  ·  Madaniyah  ·  8 menit

Az-Zalzalah: Dua Ayat Penutup Tanpa Satu Syarat Pun

Dua ayat penutup surat ini tidak menyebut satu syarat pun. Bukan syarat iman, bukan syarat golongan, dan bukan syarat niat. Siapa saja yang mengerjakan kebaikan seberat zarah akan melihatnya, dan siapa saja yang mengerjakan keburukan seberat zarah akan melihatnya juga. Tanpa tambahan apa-apa.

Dua ayat tanpa syarat

menutup surat dengan dua baris yang sepadan: maka siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah pun niscaya dia akan melihat balasannya, dan siapa yang mengerjakan keburukan seberat zarah pun niscaya dia akan melihat balasannya.

Yang disebut siapa saja, tanpa keterangan tentang keyakinannya. Yang dihitung perbuatannya, tanpa keterangan tentang niatnya. Dan ukurannya seberat zarah, yaitu yang paling kecil yang bisa dibayangkan pendengarnya.

Dipegang tanpa tambahan, dua ayat ini menyusun perhitungan yang berlaku merata dan tidak mengenal golongan. Orang yang tidak beriman dan menolong tetangganya tetap melihat balasannya. Dipakai begitu, dua ayat ini jadi salah satu bagian Al-Qur'an yang paling gampang dibawa ke ruang kelas dan ke kampanye antikorupsi, sebab tidak menuntut pendengarnya memeluk apa pun lebih dulu.

Penyempitannya datang dari bahan luar, bukan dari ayat lain di surat ini. Sejumlah riwayat menyatakan amal orang kafir tidak berbuah di akhirat, dan menyebut amal mereka jadi debu yang beterbangan. Penafsir menutup jaraknya dengan menyatakan bahwa yang dimaksud di sini balasan di dunia, atau keringanan siksa, bukan pahala.

Penjelasan itu masuk akal dan sekaligus menambahkan sesuatu yang tidak ada di dua barisnya. Yang tertulis di ayat 7 dan 8 tidak memuat satu pun pembatas, dan pembatasnya seluruhnya dibawa masuk dari tempat lain. Perbedaan antara membaca dua ayat ini sendirian dan membacanya lewat penjelasan itu bukan perbedaan kecil, sebab yang berubah siapa saja yang ikut dihitung.

Yang diceritakan bumi

menyebut apa yang terjadi sesudah guncangan: pada hari itu bumi menceritakan beritanya, karena sesungguhnya Tuhanmu telah memerintahkan yang demikian itu kepadanya.

Yang jadi saksi tempat kejadiannya sendiri. Bukan malaikat pencatat, bukan anggota tubuh, melainkan tanah yang diinjak.

Gambaran itu punya kekuatan yang tidak dimiliki gambaran pencatat. Catatan bisa dibayangkan salah atau kurang lengkap, sedangkan tempat kejadian tidak menambah dan tidak mengurangi. Yang disaksikannya apa yang benar-benar terjadi di atasnya.

Dan bentuk itu terasa lebih dekat sekarang daripada dulu. Tanah memang menyimpan bekas: lapisan yang bisa dibaca, sisa bahan kimia yang bisa diukur, dan jejak yang bisa digali bertahun-tahun sesudahnya. Kesamaan itu kebetulan, dan tetap membuat dua ayat ini terbaca lebih kuat daripada waktu disusun.

Guncangan yang jadi gambaran

membuka dengan tiga baris: apabila bumi digoncangkan dengan goncangannya yang dahsyat, dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat yang dikandungnya, dan manusia bertanya, apa yang terjadi pada bumi ini.

Pertanyaan di baris ketiga yang membuat gambarannya hidup. Kengeriannya tidak dirinci. Surat ini mencatat orang yang bingung dan bertanya.

Untuk pembaca di sini gambaran itu tidak memerlukan penjelasan sama sekali. Gempa dan tanah yang terbelah bukan bayangan tentang hari akhir, melainkan kejadian yang menimpa Indonesia beberapa kali setahun, dan pertanyaan di ayat 3 persis pertanyaan yang diucapkan orang di jalanan begitu guncangannya berhenti. Sesudah tsunami Aceh, surat ini termasuk yang paling banyak dibacakan, dan sebagian penceramah waktu itu memakainya sebagai keterangan sebab, bukan sebagai gambaran.

Keluar berkelompok-kelompok

menyebut apa yang terjadi pada manusia: pada hari itu manusia keluar dari kuburnya dalam keadaan berkelompok-kelompok, untuk diperlihatkan kepada mereka pekerjaan mereka.

Yang disebut asytatan, yaitu terpisah-pisah dalam kelompok. Penafsir mengisinya bermacam-macam, dan yang menarik justru kalimat berikutnya. Orang diperlihatkan pekerjaannya sendiri, bukan hukumannya, dan susunan itu menjadikan perbuatan orang sebagai hakimnya sendiri.

Bagikan artikel

Bantu tulisan ini menemukan pembaca yang tepat.

Dukung Qurai

Dukung kerja sunyi di balik setiap tulisan.

Di balik tiap tulisan ada proses membaca, membandingkan, dan merapikan jejak. Setiap dukungan ikut menjaga proses itu tetap berjalan.

Dukung via Saweria