← Bedah Surat

QS 010  ·  Yunus 10:1-109  ·  Makkiyah  ·  13 menit

Yunus: Ujian yang Jurinya Cuma Satu Pihak

Ada satu hal yang tidak dikerjakan surat lain sejelas ini: Yunus membela keasliannya sendiri, di dalam dirinya sendiri. Penentangnya diminta membuat satu surat yang setara kalau memang menuduh kitab ini karangan. Tantangan yang dipasang di dalam naskah yang sedang diperkarakan punya satu kelemahan yang tidak bisa ditutup, yaitu siapa yang menilai, dan dengan ukuran apa.

Kitab yang membela dirinya sendiri

merekam permintaan yang lugas dari lawan bicaranya: datangkan Al-Qur'an selain ini, atau ubahlah. Jawabannya juga lugas, aku tidak berhak menggantinya atas kemauanku sendiri.

membalikkan tuduhan jadi tantangan. Kalau mereka bilang ini karangan, maka buatlah satu surat yang semisalnya, dan panggil siapa saja yang bisa kalian panggil selain Allah.

Langkahnya berani. Kitab ini tidak bersembunyi di balik otoritas, melainkan menyodorkan ujian yang bisa dikerjakan siapa saja. Di ceramah dan debat sampai sekarang, tantangan itu masih jadi senjata yang paling sering dikeluarkan, biasanya dengan kalimat singkat: coba bikin satu surat saja.

Ukuran yang tidak pernah ditetapkan

Kesulitannya baru muncul waktu ditanya, semisal itu diukur bagaimana. Keindahan bahasanya? Susunan bunyinya? Isi hukumnya? Jumlah orang yang terpengaruh? Rasa merinding waktu dibacakan?

Tidak ada satu pun ukuran yang pernah ditetapkan, dan yang menilai selalu pihak yang sudah lebih dulu yakin. Beberapa penantang di abad-abad awal memang mencoba menyusun tandingannya, dan hasilnya dinilai gagal oleh juri yang berasal dari pihak yang menantang.

Ujian yang jurinya cuma satu pihak bukan ujian. Ini tidak berarti bahasa Al-Qur'an tidak istimewa; buat pembaca Arab abad ketujuh dampaknya jelas nyata, dan pengaruhnya sesudah itu tidak terbantahkan. tidak sanggup mengerjakan satu hal, dan justru itu yang menentukan: memindahkan keyakinan tadi ke orang yang berdiri di luar.

Firaun yang terlambat satu tarikan napas

menempatkan Firaun di detik terakhir, sedang tenggelam, mengucapkan kalimat yang selama ini diminta darinya: aku percaya bahwa tidak ada tuhan selain yang dipercayai .

Jawabannya datang di : sekarang, padahal sungguh kamu telah durhaka sejak dahulu.

Adegan ini menerangkan sesuatu tentang bagaimana iman dihitung. Yang bernilai bukan isi keyakinannya, melainkan waktunya. Keyakinan yang muncul waktu bukti sudah terlalu jelas dianggap tidak sah, dan itu berarti bukti yang paling meyakinkan justru datang di saat yang membuatnya tidak berguna lagi. Susunan semacam ini menuntut orang percaya sebelum cukup alasan, lalu menyebut kepercayaan yang datang sesudah cukup alasan sebagai terlambat.

Satu kaum yang selamat

memuat pengecualian yang jarang diperhatikan, padahal surat ini dinamai dari situ. Tidak ada satu pun negeri yang beriman lalu imannya berguna baginya, kecuali kaum Yunus. Waktu mereka beriman, azab yang menghinakan diangkat dari mereka.

Jadi di tengah kitab yang berulang kali menceritakan kota yang habis, ada satu kota yang tidak jadi dihancurkan karena penduduknya berubah pikiran.

Pengecualian itu mengganggu pola yang dibangun surat-surat lain, dan justru karena mengganggu, nilainya besar. Kalau kaum Yunus bisa selamat dengan berubah pikiran, maka kaum Nuh, Ad, dan Tsamud secara teori juga bisa. Aturannya sama; pilihan merekalah yang berbeda. Ini pembacaan yang paling murah hati terhadap seluruh rangkaian cerita hukuman, dan ayat ini sendiri yang menyediakannya.

Iman yang izinnya bukan di tangan sendiri

Lalu datang dan membongkar lagi semuanya: kalau Tuhanmu menghendaki, tentu semua orang di bumi akan beriman seluruhnya.

Kalimat berikutnya di ayat yang sama justru bagus sekali, dan layak disebut terang-terangan: apakah kamu hendak memaksa manusia sampai mereka jadi orang beriman? Ini penolakan atas pemaksaan agama, ditulis di abad ketujuh, dan bunyinya masih tajam sekarang.

Yang bertabrakan datang di : tidak ada satu jiwa pun yang akan beriman kecuali dengan izin Allah.

Dua kalimat itu berdempetan tapi tidak menuju arah yang sama. Yang pertama melarang memaksa karena keyakinan harus datang dari orangnya sendiri. Yang kedua menyatakan keyakinan itu sebenarnya tidak berasal dari orangnya. Kalau izinnya ada di tangan lain, larangan memaksa berhenti jadi penghormatan pada kebebasan, dan berubah jadi keterangan bahwa memaksa memang percuma.

Perkara yang dititipkan ke pembacanya

Yunus menyodorkan ujian, lalu memegang sendiri kunci penilaiannya. Menuntut orang memilih, lalu menyebut pilihannya bergantung izin. Menceritakan kota-kota yang habis, lalu menyimpan satu kota yang tidak jadi habis.

Tegangan itu tidak diselesaikan di dalam suratnya, dan mungkin memang tidak bisa. Yang bisa dikatakan cuma ini: bagian yang paling menolong dari surat ini justru bagian yang paling jarang dikutip. Kaum Yunus yang berubah pikiran lalu selamat hampir tidak pernah muncul di mimbar, kalah jauh oleh Firaun yang tenggelam.

Bagikan artikel

Bantu tulisan ini menemukan pembaca yang tepat.

Dukung Qurai

Dukung kerja sunyi di balik setiap tulisan.

Di balik tiap tulisan ada proses membaca, membandingkan, dan merapikan jejak. Setiap dukungan ikut menjaga proses itu tetap berjalan.

Dukung via Saweria