← Bedah Surat

QS 077  ·  Al-Mursalat 77:1-50  ·  Makkiyah  ·  10 menit

Al-Mursalat: Seperlima Isinya Satu Kalimat yang Sama

Satu kalimat diulang sepuluh kali di surat yang panjangnya lima puluh ayat. Bunyinya sama persis tiap kali: celakalah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan. Seperlima isi surat ini kalimat yang sama, dan pengulangan sebanyak itu bukan kebetulan susunan.

Satu kalimat sepuluh kali

Kalimatnya muncul pertama kali di dan terakhir di 77:49: celakalah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan.

Di antara keduanya, kalimat itu disisipkan sesudah hampir tiap bagian: sesudah cerita kebinasaan umat terdahulu, sesudah keterangan tentang penciptaan manusia, sesudah gambaran bumi, sesudah gambaran neraka, dan sesudah gambaran surga.

Cara kerjanya bisa dilihat dari letaknya. Tiap kali satu keterangan selesai, kalimat itu menutupnya, dan penutup yang sama membuat semua keterangan tadi terbaca sebagai satu daftar bukti untuk satu kesimpulan yang sudah ditetapkan sebelum daftarnya dimulai.

Bentuk seperti ini kuat kalau didengar dan lemah kalau diperiksa. Yang didengar berulang cenderung diterima tanpa ditimbang, sebab pengulangan menggantikan alasan. Pendengar yang sudah mendengar kalimat itu enam kali tidak lagi menimbang keterangan yang ketujuh, melainkan menunggu penutupnya.

Surat ini termasuk yang sering dibaca imam di rakaat tarawih dan di murotal menjelang subuh, dan justru di situ pengulangannya paling terasa. Cara Al-Qur'an memakai pengulangan sebagai alat sudah dibahas tersendiri di Pengulangan Al-Qur'an.

Alasan yang tidak diizinkan dikemukakan

menyebut keadaan di hari itu: ini adalah hari yang mereka tidak dapat berbicara, dan tidak diizinkan kepada mereka mengemukakan alasan sehingga mereka dapat meminta maaf.

Alasan mereka tidak sekadar ditolak; menyampaikannya pun tidak diizinkan.

Perbedaan antara keduanya besar. Alasan yang ditolak sudah didengar lebih dulu, dan penolakannya bisa dinilai. Alasan yang tidak diizinkan disampaikan tidak pernah masuk ke pertimbangan siapa pun, dan hasil sidangnya tidak bergantung pada isinya.

Di ruang sidang mana pun di dunia, hak menyampaikan pembelaan dihitung sebagai syarat paling dasar supaya putusannya bisa disebut adil, dan pengadilan di sini menyediakan hak itu bahkan untuk perkara yang buktinya sudah jelas. Ayat ini menyatakan sebaliknya untuk perhitungan yang akibatnya jauh lebih berat dan tidak bisa dibanding.

Asal yang disebut rendah

menerangkan asal manusia: bukankah Kami menciptakan kalian dari air yang hina, kemudian Kami letakkan dia dalam tempat yang kokoh sampai waktu yang ditentukan.

Kata yang dipakai mahin, yaitu hina atau rendah. Pemakaian kata itu punya maksud, yaitu merendahkan kesombongan orang dengan mengingatkan asalnya.

Yang ikut terbawa bersamanya penilaian terhadap tubuh dan yang keluar darinya. Susunan yang menempatkan asal jasmani manusia sebagai sesuatu yang hina dan tujuannya sebagai sesuatu yang mulia bertahan panjang di tradisi mana pun yang memakainya, dan akibatnya kelihatan di cara orang bicara tentang tubuh, tentang perempuan, dan tentang hal-hal yang dianggap kotor.

Asap bercabang tiga

menggambarkan naungan di neraka: pergilah kalian mendapatkan naungan yang mempunyai tiga cabang, yang tidak melindungi dan tidak pula menolak nyala api, sesungguhnya neraka itu melontarkan bunga api sebesar dan setinggi istana, seolah-olah iringan unta yang kuning.

Gambarannya diambil seluruhnya dari yang ada di depan mata pendengar pertamanya: naungan yang ternyata asap, bangunan besar sebagai ukuran, dan iringan unta berwarna kekuningan sebagai pembanding warna.

Untuk menerangkan sesuatu yang dinyatakan belum pernah dilihat siapa pun, pembanding yang dipakai justru benda-benda yang paling akrab di padang pasir Arab abad ketujuh. Gambaran akhirat di sini tidak melampaui isi kepala pendengarnya, melainkan disusun dari isi kepala itu.

Sujud yang ditolak

menyebut satu tanggapan: dan apabila dikatakan kepada mereka rukuklah, mereka tidak mau rukuk.

Ayat pendek ini menerangkan sesuatu tentang perselisihan yang sedang berlangsung waktu surat ini muncul. Tanda pemisahnya gerakan badan di depan umum, bukan pendapat, dan orang yang menolak menundukkan badannya terbaca menolak seluruhnya. Ukuran semacam itu masih dipakai sampai sekarang, dan di sini bentuknya kelihatan tiap kali kehadiran seseorang di masjid dihitung sebagai keterangan tentang isi kepalanya.

Bagikan artikel

Bantu tulisan ini menemukan pembaca yang tepat.

Dukung Qurai

Dukung kerja sunyi di balik setiap tulisan.

Di balik tiap tulisan ada proses membaca, membandingkan, dan merapikan jejak. Setiap dukungan ikut menjaga proses itu tetap berjalan.

Dukung via Saweria