QS 079 · An-Nazi'at 79:1-46 · Makkiyah · 10 menit
An-Nazi'at: Sumpah Ambigu, Firaun yang Dikarturisasi, dan Kiamat yang Tidak Bisa Ditanya
An-Nazi'at membuka dengan serangkaian sumpah yang objeknya tidak jelas, 'yang mencabut nyawa dengan keras', 'yang mencabut dengan lembut', 'yang berenang', 'yang mendahului', 'yang mengatur', lalu bergerak ke gambaran kiamat, kisah Musa-Firaun dalam versi yang sangat diringkas, klaim kosmologis tentang urutan penciptaan yang tidak sesuai dengan sains, dan pertanyaan tentang kapan kiamat yang dijawab dengan 'untuk apa engkau menyebutkannya'. Surat ini adalah rangkaian klaim besar yang masing-masing menghindari verifikasi.
Peta Masalah
Surat ini memuat sumpah-sumpah dengan objek yang ambigu dan ditafsirkan secara dogmatis, narasi Musa-Firaun yang dikarturisasi tanpa dukungan historis, klaim urutan penciptaan yang bertentangan dengan kosmologi modern (langit sebelum bumi), bumi yang 'dihamparkan' setelah langit sebagai gambaran kosmologi bumi datar, narasi antroposentris bahwa alam diciptakan untuk kesenangan manusia, dan penghindaran pertanyaan tentang waktu kiamat dengan pengalihan retoris.
Sumpah dengan objek yang tidak jelas
bersumpah dengan serangkaian participle aktif: yang mencabut, yang menarik, yang berenang, yang mendahului, yang mengatur. Tidak ada noun yang jelas, malaikat dalam teks itu adalah tambahan tafsir, bukan teks asli. Sebagian mufasir bahkan mengusulkan bahwa ayat-ayat ini merujuk pada bintang-bintang.
Ambiguitas ini bukan kedalaman, ia adalah ketidakjelasan. Bersumpah dengan entitas yang tidak bisa diidentifikasi secara konsisten oleh pembaca yang kompeten bukan strategi retoris yang memperkuat klaim; ia adalah sumpah yang tidak bisa diverifikasi isinya dan tidak bisa dikonfirmasi relevansinya.
Yang lebih penting: dalam tradisi hukum dan logika, sumpah hanya bermakna jika pihak yang bersumpah dikenal dapat dipercaya, objek sumpah dikenal ada, dan isi sumpah bisa dinilai kebenarannya. Sumpah dengan 'yang mencabut nyawa' kepada audiens yang tidak bisa mengkonfirmasi bahwa pencabut nyawa itu ada adalah sumpah yang tidak memiliki kekuatan epistemologis.
Firaun sebagai karikatur
menceritakan kisah Musa dan Firaun dalam beberapa ayat: Musa dipanggil di lembah suci, diperintahkan pergi ke Firaun yang melampaui batas, memperlihatkan mukjizat besar, tapi Firaun mendustakan, lalu mengumpulkan pembesarnya dan berseru 'Akulah tuhanmu yang paling tinggi', kemudian Allah menghukumnya.
Firaun dalam versi ini adalah karikatur yang diperlukan untuk membangun dikotomi: utusan Allah yang benar versus penguasa sombong yang mengklaim ketuhanan. Historiografi Mesir kuno tidak mendukung gambaran ini. Tidak ada Firaun yang secara publik mengklaim 'Akulah tuhanmu yang paling tinggi' dalam formulasi seperti itu, meskipun konsep ketuhanan Firaun memang ada, tapi dalam konteks ritual dan ideologi kerajaan yang jauh lebih nuansatif.
Lebih jauh, tidak ada bukti arkeologis atau tekstual Mesir yang mengkonfirmasi narasi Keluaran secara substansial: tidak ada wabah, tidak ada eksodus besar-besaran bangsa Israel dari Mesir dalam skala yang digambarkan. Kisah ini diambil dari tradisi Yahudi, Alkitab Ibrani, lalu diintegrasikan ke dalam narasi Qur'an tanpa pemeriksaan historis.
Urutan penciptaan yang terbalik
mengajukan argumen: apakah penciptaan kamu yang lebih hebat ataukah langit yang dibangun Allah? Allah meninggikan langit, menyempurnakannya, menjadikan malamnya gelap dan siangnya terang, dan setelah itu (ba'da dzalik) bumi Dia hamparkan.
Urutan ini menempatkan penciptaan langit sebelum bumi. Tapi kosmologi modern menunjukkan bahwa bumi terbentuk sekitar 4,5 miliar tahun lalu dari akumulasi material protoplanet, sedangkan bintang-bintang dan galaksi yang membentuk 'langit' terbentuk dalam berbagai periode yang sangat berbeda. Matahari sendiri lebih muda dari banyak bintang. Tidak ada urutan tunggal 'langit dulu, bumi kemudian'.
Yang lebih langsung: frasa 'ba'da dzalik' (setelah itu) di ayat 30 secara eksplisit menempatkan pembentangan bumi setelah penciptaan langit. Ini bertentangan dengan sains yang menunjukkan bahwa Bumi ada sebelum banyak bintang yang kita lihat saat ini. Tradisi tafsir menawarkan reinterpretasi, tapi reinterpretasi tersebut diperlukan justru karena teks secara literal menyatakan urutan yang salah.
Alam semesta yang didesain untuk manusia
menyatakan bahwa dari bumi Allah memancarkan mata air dan menumbuhkan tumbuhan, memancangkan gunung, semuanya 'untuk kesenanganmu dan untuk hewan-hewan ternakmu'. Bumi dan isinya adalah infrastruktur untuk manusia.
Narasi antroposentris ini memiliki konsekuensi etis dan ekologis yang signifikan. Jika alam semesta secara definitif diciptakan untuk manusia dan ternaknya, maka kepentingan ekosistem yang tidak berhubungan langsung dengan kegunaan manusia tidak memiliki nilai intrinsik. Spesies yang tidak 'berguna' bagi manusia, ekosistem yang tidak secara langsung melayani kebutuhan manusia, tidak memiliki dasar nilai dalam kerangka ini.
Biologi modern menunjukkan bahwa kehidupan di bumi adalah jaringan kompleks saling ketergantungan yang telah berkembang selama miliaran tahun, bukan sistem yang dirancang untuk melayani satu spesies. Keanekaragaman hayati memiliki nilai fungsional dalam ekosistem yang jauh melampaui kegunaannya bagi manusia. Pandangan bahwa alam 'hanya untuk manusia' adalah fondasi ideologis dari banyak kerusakan lingkungan.
Pertanyaan yang dihindari
mencatat bahwa orang-orang kafir bertanya kepada Muhammad tentang kapan kiamat terjadi. Jawaban yang diberikan bukan jawaban: 'Untuk apa engkau perlu menyebutkannya? Kepada Tuhanmulah dikembalikan kesudahannya.'
Ini adalah penghindaran eksplisit. Pertanyaan tentang waktu kiamat adalah pertanyaan yang bisa diuji: jika ada prediksi waktu, prediksi itu bisa dikonfirmasi atau dibantah. Dengan menolak menyebutkan waktu dan mengalihkan tanggung jawab ke Allah, teks ini secara efektif membuat klaim kiamat tidak bisa dibantah, dan dengan demikian juga tidak bisa dikonfirmasi.
Dalam filsafat sains, klaim yang tidak bisa dibantah adalah klaim yang tidak memiliki konten empiris. 'Kiamat akan terjadi tapi kami tidak tahu kapan' adalah pernyataan yang tidak bisa membuat prediksi yang bisa diuji. Penghindaran pertanyaan tentang waktu bukan kebijaksanaan teologis, ia adalah cara untuk mempertahankan klaim yang tidak bisa diverifikasi tetap tidak tersentuh.
Dukung Qurai
Dukung kerja sunyi di balik setiap tulisan.
Di balik tiap tulisan ada proses membaca, membandingkan, dan merapikan jejak. Setiap dukungan ikut menjaga proses itu tetap berjalan.