← Bedah Surat

QS 079  ·  An-Nazi'at 79:1-46  ·  Makkiyah  ·  10 menit

An-Nazi'at: Bukan Urusanmu Menyebutkan Waktunya

Surat ini ditutup dengan pernyataan bahwa pembawanya sendiri tidak tahu kapan kiamat, dan bahwa menyebutkan waktunya bukan urusannya. Empat ayat terakhir menutup pintu itu serapat mungkin. Yang terjadi sesudahnya seluruh industri yang isinya persis menghitung waktu itu.

Bukan urusanmu menyebutkan waktunya

menutup pintu dengan tiga kalimat: mereka bertanya kepadamu tentang hari kiamat, kapankah terjadinya, untuk apa engkau perlu menyebutkannya, kepada Tuhanmulah kesudahannya.

Ayat 45 menetapkan batas tugasnya: engkau hanyalah pemberi peringatan bagi siapa yang takut kepadanya.

Susunannya rapat. Jawabannya ditutup, dan kedudukan orang yang ditanya sebagai pihak yang punya jawaban ikut dicabut. Kalau pembawa kabarnya saja tidak punya, siapa pun sesudahnya tidak punya sandaran untuk mengaku punya.

Yang terjadi sesudahnya berjalan ke arah sebaliknya. Buku tentang tanda-tanda kiamat termasuk yang paling laku di rak toko buku Islam di sini, ceramah tentang urutan tandanya punya pendengar tetap, dan tiap beberapa tahun muncul lagi tanggal yang disebut-sebut, biasanya bersandar pada hitungan yang tidak diambil dari Al-Qur'an.

Tiap gelombang perhitungan itu lewat tanpa meninggalkan bekas pada orang yang mempercayainya. Tanggal yang lewat tidak dibaca sebagai bantahan, melainkan sebagai kesalahan hitungan, dan hitungan berikutnya dimulai dengan pendengar yang kurang lebih sama.

Bumi yang dihamparkan sesudah langit

menyusun urutan penciptaan: apakah kalian yang lebih sulit penciptaannya ataukah langit, Allah telah membangunnya, Dia meninggikan bangunannya lalu menyempurnakannya, dan Dia menjadikan malamnya gelap gulita dan menjadikan siangnya terang benderang, dan bumi sesudah itu dihamparkan-Nya.

menyusunnya terbalik: Dialah yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kalian, kemudian Dia menuju ke langit lalu menyempurnakannya menjadi tujuh langit.

memakai urutan yang sama dengan Al-Baqarah, yaitu bumi lebih dulu lalu langit.

Jalan yang ditempuh penafsir menahan kata dahaha di ayat 30 supaya tidak berarti menciptakan, melainkan menghamparkan. Jadi bumi diciptakan lebih dulu dan dihamparkan belakangan. Bacaan itu bisa dipakai, dan sekaligus mengakui bahwa dibaca apa adanya urutannya memang tidak cocok. Selisihnya diselesaikan pembacanya lewat pembatasan arti, bukan oleh ayatnya.

Akulah tuhan kalian yang paling tinggi

mengutip Firaun: maka dia berkata, akulah tuhan kalian yang paling tinggi.

Kalimat itu tidak ditemukan di catatan Mesir mana pun. Firaun memang punya kedudukan keagamaan dan disebut anak dewa atau perantara, tapi pengakuan terbuka sebagai tuhan tertinggi di hadapan rakyat bukan bentuk yang ada di prasasti atau tulisan makam.

Yang dikerjakan kutipan semacam ini menyederhanakan lawan sampai ke bentuk yang paling gampang ditolak. Penguasa yang menindas jadi penguasa yang mengaku tuhan, dan begitu bentuknya disederhanakan begitu, cara kerja penindasan yang sebenarnya berhenti diperiksa. Penguasa di zaman mana pun jarang mengaku tuhan, dan justru itu yang membuat kekuasaannya lebih sulit dilawan.

Sumpah yang tidak disebutkan pada apa

membuka dengan lima sumpah berturut-turut: demi yang mencabut dengan keras, demi yang menarik dengan lembut, demi yang berenang dengan cepat, demi yang mendahului dengan kencang, demi yang mengatur urusan.

Tidak satu pun dari kelima itu disebutkan bendanya. Penafsir mengisinya dengan malaikat pencabut nyawa, bintang, kuda perang, atau angin, dan tidak ada yang bisa dipastikan dari ayatnya sendiri.

Bentuk sumpah yang bendanya tidak disebut lazim di surat-surat awal, dan bentuk itu punya kemiripan yang sudah lama diperhatikan dengan mantra dan sajak dukun Arab sebelum Islam yang bersajak dan bergantung pada bunyi. Al-Qur'an sendiri berkali-kali membantah tuduhan bahwa isinya ucapan dukun, dan bantahan sebanyak itu menunjukkan kemiripan bunyinya memang terdengar oleh pendengar pertamanya.

Seperti tinggal sesore saja

menutup surat dengan satu kalimat: pada hari mereka melihat hari kiamat itu, seakan-akan mereka tidak tinggal di dunia melainkan sesaat di waktu sore atau pagi harinya.

Kalimat itu tidak berisi ancaman dan tidak berisi janji, melainkan satu pengamatan tentang cara kerja ingatan. Hidup yang sudah lewat terasa jauh lebih pendek daripada waktu menjalaninya, dan pengamatan itu bisa diperiksa siapa saja tanpa perlu menerima apa pun tentang hari kiamat.

Bagikan artikel

Bantu tulisan ini menemukan pembaca yang tepat.

Dukung Qurai

Dukung kerja sunyi di balik setiap tulisan.

Di balik tiap tulisan ada proses membaca, membandingkan, dan merapikan jejak. Setiap dukungan ikut menjaga proses itu tetap berjalan.

Dukung via Saweria