← Bedah Surat

QS 112  ·  Al-Ikhlas 112:1-4  ·  Makkiyah  ·  7 menit

Al-Ikhlas: Sepertiga Al-Qur'an dan Satu Kata yang Kabur

Empat ayat yang menurut satu riwayat setara dengan sepertiga Al-Qur'an, dan dari riwayat itu tumbuh seluruh kebiasaan menghitung bacaan. Di dalam empat ayat itu ada satu kata yang sampai sekarang tidak punya arti yang disepakati siapa pun.

Sepertiga Al-Qur'an dan hitungan yang lahir darinya

Riwayat yang dicatat Bukhari dan Muslim menyebut bahwa surat ini setara dengan sepertiga Al-Qur'an. Riwayat lain menyebut membacanya sepuluh kali membangunkan sebuah rumah di surga.

Dari riwayat semacam itu tumbuh kebiasaan yang di sini punya bentuk yang sangat rapi. Di tahlilan, surat ini dibaca tiga kali, sebelas kali, atau seratus kali menurut susunan acaranya. Ada juga kebiasaan membacanya seribu kali untuk orang yang baru meninggal, dibagi ke sejumlah orang supaya cepat selesai.

Yang dikerjakan hitungan itu mengubah bacaan jadi satuan yang bisa ditakar, dikumpulkan, dan dikirimkan kepada orang lain. Bentuk itu bukan hal aneh dan ada di tradisi mana pun yang punya doa berulang.

Yang berpindah bersamanya letak perhatian. Yang dihitung jumlahnya, dan isi empat ayatnya jarang jadi bahan pembicaraan di acara yang sama. Padahal isinya bukan doa dan bukan permohonan, melainkan pernyataan tentang siapa yang disembah.

Dan dasar hitungan itu seluruhnya berada di luar Al-Qur'an. Tidak ada satu ayat pun yang menyebut nilai membaca surat tertentu, dan yang menyebutkannya riwayat. Perbedaan antara keduanya jarang disampaikan waktu keutamaannya dibacakan di mimbar atau di majelis.

Kata yang tidak ada artinya yang pasti

memuat dua baris: katakanlah, Dialah Allah Yang Maha Esa, Allah adalah as-samad.

Kata samad cuma muncul sekali di seluruh Al-Qur'an, dan tidak ada tempat lain yang bisa dipakai membandingkannya.

Ahli bahasa dan penafsir mengusulkan bermacam arti: yang dituju semua orang untuk keperluannya, yang tidak berongga sehingga tidak makan dan tidak minum, yang kekal, yang tidak berkurang, dan yang menjadi tumpuan. Terjemahan resmi di sini memilih tempat bergantung segala sesuatu.

Banyaknya usulan itu sendiri sudah menerangkan keadaannya. Untuk satu kata yang berdiri di ayat kedua dari surat yang disebut memuat pokok seluruh ajaran, tidak ada arti yang bisa dipastikan, dan yang dipakai orang sekarang hasil pilihan penerjemah, bukan hasil kesepakatan.

Tidak beranak dan tidak diperanakkan

memuat penyangkalan ganda: Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan.

Dua penyangkalan itu menjawab dua hal yang berbeda. Bagian pertama menjawab kepercayaan Arab yang menyebut malaikat sebagai anak perempuan Allah, dan menjawab juga ajaran Kristen tentang keputraan Isa. Bagian kedua menjawab kepercayaan tentang dewa yang lahir dari dewa lain, yang beredar luas di sekitar wilayah itu.

Bentuk penyangkalannya menempatkan surat ini di dalam perdebatan yang sedang berlangsung, bukan di luar perdebatan. Yang disangkal hal-hal yang memang dipercayai orang di sekitarnya, dan susunan itu menerangkan kenapa yang disebut cuma dua hal ini dan bukan hal-hal lain yang juga bisa disangkal.

Ayat ini dipakai berabad-abad dalam perdebatan dengan Kristen tanpa pernah menyinggung apa yang sebenarnya diajarkan pihak yang dibantah. Rumusan Kristen tentang keputraan sudah lama dinyatakan bukan kelahiran jasmani, dan penyangkalan di ayat ini membidik gambaran yang lebih sederhana daripada itu. Perbedaan antara membantah ajaran orang dan membantah gambaran yang beredar tentang ajaran itu berlaku ke semua arah, dan pihak Kristen mengerjakan hal yang sama terhadap Islam. Di sini bentuknya bisa didengar di rekaman debat lintas agama yang beredar dari dulu, dan dua-duanya membantah gambaran, bukan ajaran.

Keterangan yang disusun dari penyangkalan

Dari empat ayatnya, tiga berisi penyangkalan dan satu berisi kata yang artinya tidak disepakati. Yang tersisa sebagai pernyataan langsung cuma ayat pertama, yaitu bahwa Dia satu.

Cara menerangkan sesuatu dengan menyebut apa yang bukan dirinya punya kelebihan yang nyata, yaitu tidak mengurung yang diterangkan ke dalam bentuk yang bisa dibayangkan. Ongkosnya juga jelas, yaitu yang tersisa di kepala pembaca sedikit sekali. Empat ayat ini disebut memuat pokok ajaran, dan yang bisa dipegang dari isinya lebih dekat ke batas daripada ke keterangan.

Bagikan artikel

Bantu tulisan ini menemukan pembaca yang tepat.

Dukung Qurai

Dukung kerja sunyi di balik setiap tulisan.

Di balik tiap tulisan ada proses membaca, membandingkan, dan merapikan jejak. Setiap dukungan ikut menjaga proses itu tetap berjalan.

Dukung via Saweria