← Bedah Surat

QS 064  ·  At-Taghabun 64:1-18  ·  Madaniyah  ·  11 menit

At-Taghabun: Kalimat Baku di Rumah Duka

Satu ayat dari surat ini diucapkan orang di sini hampir tiap kali ada yang meninggal atau tertimpa musibah. Bunyinya tidak ada musibah yang menimpa kecuali dengan izin Allah. Kalimat itu terdengar di rumah duka, tercetak di karangan bunga, dan dibacakan pejabat di depan reruntuhan. Yang jarang ditanyakan, apa yang dikerjakan kalimat itu terhadap orang yang mendengarnya.

Kalimat yang diucapkan di rumah duka

berbunyi: tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah, dan siapa yang beriman kepada Allah, Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya.

Kalimat ini termasuk yang paling sering terdengar di sini. Diucapkan tetangga waktu melayat, dipakai menutup pengumuman kematian di grup pesan, dan hampir selalu muncul di pidato sesudah gempa atau banjir.

Sebagai penghiburan, kalimat ini mempan, dan hasilnya nyata. Orang yang baru kehilangan biasanya tidak sedang mencari sebab, melainkan sedang mencari cara berdiri. Kalimat yang menyatakan bahwa yang terjadi tidak berada di luar pengawasan siapa pun memberi pijakan yang tidak diberikan penjelasan lain mana pun.

Bagian kedua ayat itu ikut menerangkan cara kerjanya: yang dijanjikan bukan hilangnya musibah, melainkan hati yang diberi petunjuk. Jadi yang ditawarkan penanggungan, bukan penyelesaian.

Dan sebagai penghiburan, kalimat ini tidak perlu dipersoalkan. Yang perlu dipisahkan cuma satu, yaitu waktu kalimat penghibur berpindah jadi keterangan sebab. Dua pekerjaan itu berbeda, dan ayat ini dipakai untuk dua-duanya.

Yang ikut terbawa waktu semua musibah punya izin

Kesulitannya muncul waktu kalimat itu dibawa ke musibah yang penyebabnya bisa disebut namanya. Jembatan yang ambruk, lumpur yang menyembur dari sumur pengeboran, kebakaran pabrik yang pintu daruratnya terkunci, dan longsor di lereng yang izin tambangnya baru keluar tahun lalu.

Dalam kejadian semacam itu ada rangkaian keputusan yang bisa ditelusuri: siapa menandatangani apa, siapa mengurangi apa, siapa membiarkan apa. Kalimat tentang izin Allah tidak menghapus rangkaian itu, tapi memindahkan perhatian orang dari rangkaian itu ke tempat yang tidak bisa diperiksa.

Dan yang paling sering memakai kalimat itu di depan umum biasanya bukan korbannya. Yang menyebut musibah sebagai takdir umumnya pihak yang punya sesuatu untuk dijelaskan, dan sesudah kalimat itu diucapkan, pertanyaan soal izin dan pengawasan terdengar seperti kurang beriman.

Ayatnya sendiri tidak melarang siapa pun mencari sebab. Yang terjadi lebih sederhana dan lebih sulit dibendung: sebuah kalimat yang disediakan untuk menanggung dipakai untuk menutup, dan pemakaian yang kedua tidak dianggap salah oleh siapa pun yang mendengarnya.

Dua jenis manusia yang disebut sudah dijadikan

menyatakan: Dialah yang menciptakan kalian, maka di antara kalian ada yang kafir dan di antara kalian ada yang mukmin, dan Allah Maha Melihat apa yang kalian kerjakan.

Kalimatnya bisa dibaca dua arah. Pembacaan yang longgar menganggapnya keterangan tentang keadaan yang ada, yaitu manusia memang terbagi. Pembacaan yang rapat menganggapnya keterangan tentang asal keadaan itu, yaitu pembagiannya berasal dari yang menciptakan.

Bacaan yang kedua bertabrakan dengan , yang menetapkan neraka kekal bagi yang mendustakan. Kalau pembagiannya berasal dari sumber yang sama dengan hukumannya, ukuran keadilan yang biasa dipakai orang tidak bisa lagi dipakai di situ. Dan seluruh sisa surat ini justru meminta manusia bertanggung jawab atas pilihannya.

Hari saling rugi

memberi nama surat ini: hari ketika Allah mengumpulkan kalian pada hari pengumpulan, itulah hari saling rugi.

Kata yang dipakai at-taghabun, dan akarnya sama dengan kata untuk tertipu dalam jual beli, yaitu keadaan waktu satu pihak baru sadar bahwa yang diterimanya tidak sebanding dengan yang diserahkannya.

Gambaran itu ikut menerangkan cara surat ini menyusun hidup manusia: sebagai satu penukaran panjang yang hasilnya baru dibuka di akhir. menutupnya dengan istilah yang sama, yaitu tawaran memberi pinjaman yang baik kepada Allah yang akan dilipatgandakan. Dari kalimat semacam ini lahir nama akad qard hasan yang sekarang dipakai bank syariah.

Pasangan dan anak yang disebut musuh

memuat kalimat yang keras: hai orang-orang beriman, sesungguhnya di antara istri-istri kalian dan anak-anak kalian ada yang menjadi musuh bagi kalian, maka berhati-hatilah terhadap mereka.

Riwayat yang biasa dikutip menyempitkannya ke satu keadaan, yaitu orang yang tertahan hijrahnya karena keluarganya menahan. Dalam keadaan seperti itu, kalimatnya bisa dimengerti.

Tapi kata yang dipakai bukan penghalang atau ujian, melainkan musuh, dan sisa ayatnya justru melunak: kalau kalian memaafkan dan berlapang dada serta mengampuni, sesungguhnya Allah Maha Pengampun. Jadi di dalam satu ayat yang sama, keluarga disebut musuh lalu dianjurkan dimaafkan.

Yang tersisa dari susunan itu satu kebiasaan membaca yang masih kelihatan sekarang. Anak yang memilih jalan yang berbeda dari yang diinginkan orang tuanya, atau pasangan yang menghambat kegiatan keagamaan, gampang dibaca lewat ayat ini sebagai gangguan yang perlu diwaspadai, bukan sebagai orang yang punya pertimbangannya sendiri.

Bagikan artikel

Bantu tulisan ini menemukan pembaca yang tepat.

Dukung Qurai

Dukung kerja sunyi di balik setiap tulisan.

Di balik tiap tulisan ada proses membaca, membandingkan, dan merapikan jejak. Setiap dukungan ikut menjaga proses itu tetap berjalan.

Dukung via Saweria