QS 064 · At-Taghabun 64:1-18 · Madaniyah · 11 menit
At-Taghabun: Hari Kerugian, Ciptaan yang Dihukum, dan Keluarga sebagai Ujian
At-Taghabun berarti hari saling rugi, hari ketika semua kalkulasi hidup terlihat hasilnya. Di tengah surat ini ada pernyataan yang berat: Allah yang menciptakan manusia, dan di antara mereka ada yang kafir dan ada yang beriman. Dari premis itu, surat membangun sistem hukuman kekal atas kondisi yang ditentukan oleh pencipta yang sama.
Peta Masalah
Surat ini memuat penciptaan mukmin dan kafir oleh satu pencipta yang sama lalu menghukum kafir secara kekal, hukuman tak berujung atas pelanggaran yang bersifat temporal, musibah yang hanya terjadi dengan izin Allah tapi tanggung jawab manusia tetap dituntut, pasangan dan anak yang diposisikan sebagai musuh potensial, dan iman yang dibingkai sebagai pinjaman berbunga kepada Tuhan.
Menciptakan, lalu menghukum kekal
menyebut Allah menciptakan manusia, dan di antara mereka ada yang kafir dan ada yang beriman. melanjutkan: yang kafir dan mendustakan ayat Allah akan menjadi penghuni neraka selamanya.
Masalah logisnya tidak bisa diabaikan dengan kontekstualisasi. Jika satu pencipta yang sama menghadirkan manusia ke dalam eksistensi, di mana sebagian dari mereka akan menjadi kafir, kemudian menghukum kekafiran itu secara kekal, maka pertanyaan tentang keadilan prosedural tidak bisa dijawab hanya dengan mengatakan 'kehendak Allah tidak bisa dipertanyakan'. Sistem seperti ini, jika diterapkan oleh manusia, akan disebut tidak adil tanpa ragu.
Tradisi teologi Islam sudah bergulat dengan ini selama berabad-abad, dan tidak ada jawaban yang memuaskan yang muncul. Yang paling jujur adalah mengakui bahwa ketegangan ini nyata dan tidak selesai, bukan melapisnya dengan bahasa tentang 'misteri kehendak ilahi'.
Hukuman kekal atas pelanggaran temporal
menegaskan neraka kekal bagi kafir, surga kekal bagi mukmin yang beramal. Kekekalan hukuman atas pelanggaran yang bersifat temporal adalah salah satu persoalan paling mendasar dalam teologi, dan tidak ada sistem keadilan yang bisa membenarkannya secara konsisten.
Setiap sistem hukum manusia mengakui proporsionalitas sebagai prinsip dasar: hukuman harus sebanding dengan pelanggaran. Hukuman tanpa batas waktu atas pilihan dalam waktu yang terbatas melanggar prinsip itu secara fundamental. Argumen bahwa penolakan terhadap kebenaran abadi membenarkan hukuman abadi adalah sirkular, ia mengandaikan kebenaran yang sedang diklaim sebagai premis untuk membenarkan hukumannya.
Sejumlah teolog Muslim sendiri, termasuk Ibn 'Arabi dan beberapa sufi, sudah mengangkat ketidaknyamanan ini dan mengusulkan pembacaan yang lebih inklusif tentang akhirat. Bahwa pandangan mereka minoritas dan sering dianggap sesat menunjukkan seberapa dalam ketegangan ini tertanam dalam tradisi.
Musibah sebagai izin ilahi dan lubang logisnya
menyatakan tidak ada musibah yang menimpa kecuali dengan izin Allah. Pernyataan ini akrab dan sering dikutip sebagai penghiburan.
Tapi ia membawa masalah yang tidak kecil. Jika setiap musibah, termasuk bencana buatan manusia, kekeringan yang bisa dicegah, atau kemiskinan struktural, terjadi dengan izin Allah, di mana letak tanggung jawab manusia atas kondisi yang mereka ciptakan atau biarkan berlangsung? Framing ini bisa berfungsi sebagai anestesi yang membuat ketidakadilan struktural terasa seperti takdir yang harus diterima, bukan kondisi yang perlu diubah.
Dari sudut pandang etika sosial, sistem kepercayaan yang menempatkan semua musibah dalam kategori 'izin ilahi' cenderung mengurangi tekanan untuk mengubah kondisi yang menyebabkan penderitaan. Itu bukan konsekuensi yang kecil.
Pasangan dan anak sebagai musuh
menyebut secara eksplisit: di antara pasangan dan anak-anak ada yang bisa menjadi musuhmu. Jadi waspadalah. Konteks yang dikutip tafsir adalah sahabat yang terlambat hijrah karena ditahan keluarga.
Tapi bahasa musuh untuk pasangan dan anak melampaui konteks itu. Ia menempatkan hubungan paling intim yang dimiliki manusia dalam kategori ancaman potensial terhadap loyalitas agama. Dan melanjutkan: harta dan anak hanyalah cobaan. Keluarga didegradasi dari ikatan menjadi ujian, dari manusia menjadi variabel yang perlu dikelola.
Konsekuensi jangka panjang dari framing ini bisa dilihat dalam tradisi yang menempatkan loyalitas ideologis di atas semua ikatan lain, termasuk keluarga. Itu bukan sekadar spiritualitas tentang prioritas; itu instruksi struktural tentang cara menempatkan manusia dalam hierarki loyalitas.
Yang tersisa dari At-Taghabun
At-Taghabun adalah surat yang membangun sistem nilai dengan konsekuensi yang berjalan jauh. Dari penciptaan kafir dan mukmin oleh satu sumber, ke hukuman kekal yang tidak proporsional, ke musibah yang dikunci dalam izin ilahi, ke keluarga yang diposisikan sebagai musuh potensial, setiap elemen memperkuat yang lain.
Yang paling bermasalah adalah kombinasi antara klaim bahwa Allah menciptakan segalanya dan klaim bahwa kekafiran pantas dihukum kekal. Tidak ada cara untuk membuat kedua klaim itu konsisten tanpa mengkorbankan salah satu konsep keadilan yang paling mendasar.
Surat ini tidak rumit karena banyak lapisannya. Ia rumit karena masalahnya berada di fondasinya, dan fondasi itu tidak bisa diperbaiki hanya dengan pembacaan yang lebih hati-hati.
Dukung Qurai
Dukung kerja sunyi di balik setiap tulisan.
Di balik tiap tulisan ada proses membaca, membandingkan, dan merapikan jejak. Setiap dukungan ikut menjaga proses itu tetap berjalan.