← Bedah Surat

QS 114  ·  An-Nas 114:1-6  ·  Makkiyah  ·  7 menit

An-Nas: Kata Terakhir Kitab Ini adalah Manusia

Kitab ini berakhir dengan permintaan perlindungan dari bisikan, dan yang membisikkan disebut dua golongan: jin dan manusia. Kata terakhir di seluruh adalah kata manusia. Sesudah seratus empat belas surat tentang penciptaan, hukum, perang, dan akhirat, yang disebut terakhir orang.

Kata terakhir kitab ini

memuat seluruh isinya: katakanlah, aku berlindung kepada Tuhan manusia, Raja manusia, sesembahan manusia, dari kejahatan bisikan setan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan ke dalam dada manusia, dari golongan jin dan manusia.

Kata terakhirnya an-nas, yaitu manusia, dan itu kata terakhir di seluruh mushaf.

Letak penutup ini baru kelihatan bentuknya kalau dibandingkan dengan pembukanya. Al-Fatihah dibuka dengan pujian dan permintaan ditunjukkan jalan yang lurus. Yang menutupnya permintaan dilindungi dari bisikan.

Jadi seluruh kitab ini berdiri di antara dua permintaan yang berlawanan arah, yaitu minta ditunjukkan dan minta dilindungi. Susunan itu bukan urutan turunnya dan bukan urutan waktunya, melainkan hasil penyusunan mushaf, dan penyusunan itu keputusan manusia.

Dan yang disebut terakhir bukan setan, bukan neraka, dan bukan hari perhitungan, melainkan bisikan yang datang dari sesama orang. Sesudah seratus empat belas surat yang sebagian besar isinya tentang pihak-pihak besar, yang ditaruh di ujung justru bahaya yang paling dekat dan paling biasa.

Yang membisikkan dari golongan manusia

memisahkan pembisiknya jadi dua: dari golongan jin dan manusia.

Bagian keduanya yang lebih jarang dibicarakan. Perlindungan diminta dari makhluk yang tidak kelihatan, dan juga dari orang yang bisa disebut namanya.

Yang dikerjakan penyebutan itu menaruh dua sumber bahaya di satu tempat, dan itu punya akibat yang bisa dipakai. Kalau bisikan manusia disejajarkan dengan bisikan setan, maka orang yang membisikkan tidak bisa berkata bahwa dia cuma bicara.

Bentuknya sekarang gampang dikenali. Kabar yang disebar di grup pesan tanpa diperiksa, hasutan yang dibungkus jadi nasihat, dan orang yang terus-menerus memanaskan perselisihan orang lain sambil merasa tidak melakukan apa-apa. Ayat terakhir kitab ini menyebut semua itu sebagai satu golongan dengan yang biasanya dianggap jauh lebih berbahaya.

Tiga sebutan untuk satu pihak

memakai tiga sebutan berturut-turut: Tuhan manusia, Raja manusia, sesembahan manusia.

Tiga sebutan itu tidak diulang di surat mana pun dengan susunan seperti ini, dan penafsir membacanya sebagai tangga yang naik. Rabb menyebut yang memelihara, malik menyebut yang berkuasa, dan ilah menyebut yang disembah.

Kata an-nas diulang di ketiganya, jadi tiga sebutan itu semuanya dihubungkan dengan manusia, bukan dengan alam atau dengan semesta. Susunan itu mempersempit pandangannya ke satu hal saja, dan penyempitan itu sesuai dengan isi permintaannya, yaitu perlindungan dari sesuatu yang terjadi di dalam dada orang.

Dua surat yang tidak ada di satu mushaf

An-Nas dan Al-Falaq hampir selalu disebut berpasangan, dibaca berurutan sesudah salat, dan dipakai bersama sebagai bacaan pelindung.

Ada satu keterangan lama tentang keduanya yang tercatat rapi dalam kitab-kitab klasik. Sejumlah sumber menyebut bahwa mushaf Ibnu Mas'ud, salah satu sahabat yang paling awal mengumpulkan bacaan, tidak memuat dua surat ini, sebab menurut pendapatnya keduanya doa perlindungan, bukan bagian dari Al-Qur'an.

Keterangan itu tidak datang dari luar. Yang mencatatnya penulis Muslim sendiri, termasuk yang kemudian membantahnya, dan bantahannya sudah ada sejak abad-abad awal.

Yang perlu diletakkan pada tempatnya, keterangan semacam ini tidak membuktikan bahwa dua surat ini tambahan. Yang ditunjukkannya lebih sederhana dan lebih penting, yaitu bahwa isi mushaf pernah jadi perkara yang diperdebatkan sahabat, dan bahwa penetapannya hasil keputusan yang diambil orang. Bentuk lengkap perkaranya sudah diurai di Preservasi Al-Qur'an.

Dan justru surat terakhir yang jadi tempat perkara itu muncul. Kitab yang menutup dirinya dengan permintaan perlindungan dari bisikan manusia berakhir di dua surat yang keberadaannya di dalam mushaf sempat diperselisihkan manusia.

Bagikan artikel

Bantu tulisan ini menemukan pembaca yang tepat.

Dukung Qurai

Dukung kerja sunyi di balik setiap tulisan.

Di balik tiap tulisan ada proses membaca, membandingkan, dan merapikan jejak. Setiap dukungan ikut menjaga proses itu tetap berjalan.

Dukung via Saweria