← Bedah Surat

QS 114  ·  An-Nas 114:1-6  ·  Makkiyah  ·  7 menit

An-Nas: Tiga Lapis Ketundukan, Kejahatan yang Dieksternalisasi, dan Penutup Kitab Suci yang Penuh Ancaman

An-Nas adalah surat terakhir Al-Qur'an, penutup dari seluruh kitab, dan ia adalah doa perlindungan dari bisikan jahat. Allah diperkenalkan dalam tiga lapis: Tuhan manusia, Raja manusia, Sembahan manusia. Sumber kejahatan kemudian diidentifikasi: bisikan setan yang menyusup ke dalam dada, berasal dari jin dan manusia. Masalah sentral surat ini ada pada model psikologi yang ia tawarkan, pikiran jahat bukan produk dari dalam diri manusia, melainkan bisikan eksternal yang disuntikkan dari luar. Model ini memindahkan tanggung jawab moral keluar dari individu, dan secara tidak langsung menempatkan sesama manusia dalam kategori ancaman yang setara dengan jin.

Peta Masalah

Surat ini memuat tiga lapis dominasi Allah (Tuhan, Raja, Sembahan) yang menciptakan template hierarki ketundukan absolut, eksternalisasi sumber kejahatan kepada bisikan setan yang menggerus tanggung jawab dan agensi individual, penyetaraan jin dan manusia sebagai sumber ancaman yang mendorong kecurigaan sosial, dan penutupan keseluruhan Al-Qur'an dengan kerangka ancaman dan perlindungan tanpa resolusi atau panduan positif.

Tuhan, Raja, Sembahan: tiga lapis ketundukan

memperkenalkan Allah melalui tiga atribut yang ditujukan kepada manusia: 'Tuhannya manusia, Raja manusia, sembahan manusia.' Tiga atribut ini bukan sekadar deskripsi teologis, mereka adalah tiga bentuk otoritas sekaligus: ontologis (Tuhan yang menciptakan), politis (Raja yang memerintah), dan liturgis (Sembahan yang harus disembah).

Penggabungan tiga lapis ini dalam satu pernyataan menciptakan model ketundukan yang total: manusia tidak hanya menyembah Allah, ia juga diperintah oleh-Nya sebagai Raja, dan diciptakan oleh-Nya sebagai makhluk. Tidak ada ruang yang bebas dari otoritas ilahi, setiap dimensi keberadaan manusia berada di bawah salah satu dari tiga atribut ini.

Dalam konteks sosial-politik, model ketundukan total seperti ini memiliki kecenderungan untuk ditransfer ke struktur manusiawi. Sejarah menunjukkan bahwa pemimpin yang mengklaim mewakili 'Raja manusia', atau yang memerintah 'atas nama Allah', menggunakan legitimasi ilahi untuk memperkuat otoritas yang tidak bisa digugat. Template hierarki ketundukan absolut yang ada dalam surat ini tidak netral secara politis.

Bisikan setan: kejahatan yang datang dari luar diri

mengidentifikasi ancaman: 'dari kejahatan (bisikan) setan yang bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia.' Kejahatan, pikiran buruk, dorongan untuk berbuat salah, dijelaskan sebagai bisikan eksternal yang disuntikkan dari luar ke dalam dada manusia.

Model ini bertentangan dengan pemahaman psikologi modern tentang bagaimana pikiran dan dorongan jahat terbentuk. Psikologi kontemporer memahami bahwa pikiran jahat, impuls agresif, dan keinginan destruktif adalah bagian dari psikologi manusia itu sendiri, produk dari evolusi, pengalaman, kondisi sosial, dan faktor neurologis. Manusia bertanggung jawab atas pikiran dan tindakannya karena pikiran dan tindakan itu berasal dari dirinya.

Ketika kejahatan dieksternalisasi kepada setan yang berbisik, dua hal terjadi: pertama, tanggung jawab individu atas pikirannya sendiri menjadi lebih kabur, 'itu bukan aku yang jahat, itu setan yang berbisik.' Kedua, solusi untuk pikiran jahat bukan refleksi diri dan kerja psikologis, melainkan meminta perlindungan dari entitas eksternal. Ini adalah model yang tidak mendorong pertumbuhan moral berbasis kesadaran diri.

Jin dan manusia: sesama sebagai ancaman

menyebutkan bahwa bisikan jahat bisa berasal dari dua sumber: '(golongan) jin dan manusia.' Jin, makhluk supernatural, dan manusia diposisikan dalam satu kategori sebagai sumber ancaman yang perlu dilindungi.

Penyetaraan ini memiliki implikasi yang tidak kecil dalam dinamika sosial. Jika manusia bisa menjadi agen bisikan jahat yang setara dengan jin, maka kecurigaan terhadap sesama manusia mendapat legitimasi teologis. Orang yang berbicara sesuatu yang tidak menyenangkan, yang menawarkan pandangan yang meragukan keyakinan, atau yang berperilaku tidak konformis bisa dikategorikan sebagai 'manusia yang membisikkan kejahatan' dalam kerangka ini.

Sejarah menunjukkan bahwa ketika sistem keyakinan menempatkan manusia tertentu dalam kategori agen kejahatan supernatural, akibatnya bisa sangat buruk. Tuduhan menjadi agen setan, dalam berbagai bentuknya di berbagai tradisi, adalah salah satu justifikasi paling tua untuk kekerasan terhadap kelompok yang dianggap berbahaya. An-Nas tidak menyebut siapa manusia yang dimaksud, tapi ambiguitas itu bukan perlindungan, ia adalah blanko kosong yang bisa diisi oleh siapa saja yang merasa terancam.

Penutup kitab suci: ancaman tanpa jalan keluar positif

An-Nas adalah surat terakhir dalam susunan mushaf Al-Qur'an. Ini berarti ia adalah surat yang terakhir didengar atau dibaca ketika seseorang membaca Al-Qur'an dari awal sampai akhir. Pilihan surat penutup ini menarik untuk dicermati.

An-Nas, seperti Al-Falaq sebelumnya, adalah doa perlindungan dari ancaman. Penutup Al-Qur'an adalah gambaran dunia yang penuh bahaya, bisikan setan yang bersembunyi, makhluk jahat dari jin dan manusia, kejahatan yang harus terus-menerus dilindungi. Ini berbeda dari misalnya tradisi keagamaan lain yang menutup teks dengan visi perdamaian, kasih, atau harapan.

Tentu penutupan Al-Qur'an dengan doa perlindungan bisa diinterpretasikan secara positif: ini mengingatkan manusia bahwa mereka tidak berdiri sendiri dan perlu mengandalkan Allah. Tapi ada perbedaan antara 'kamu tidak sendirian' dan 'kamu selalu dalam bahaya.' An-Nas memberikan yang kedua. Dunia dalam gambaran surat terakhir ini adalah dunia di mana ancaman ada di mana-mana, dalam kegelapan, dalam pikiran sendiri, dalam orang di sekitar kita. Dan satu-satunya jawaban yang ditawarkan adalah: berlindunglah.

Bagikan artikel

Bantu tulisan ini menemukan pembaca yang tepat.

Dukung Qurai

Dukung kerja sunyi di balik setiap tulisan.

Di balik tiap tulisan ada proses membaca, membandingkan, dan merapikan jejak. Setiap dukungan ikut menjaga proses itu tetap berjalan.

Dukung via Saweria